Category Archives: Obat-Medikamentosa

Dampak dan Manfaat Montelukast, Antagonis Receptor Leukotriene Sebagai Terapi Asma dan Alergi

Dampak dan Manfaat Montelukast, Antagonis Receptor Leukotriene Sebagai Terapi Asma dan Alergi

Montelukast dengan nama dagang Singulair , Montelo – 10 , dan Monteflo dan Lukotas  adalah antagonis reseptor leukotrien ( LTRA ) digunakan untuk pengobatan pemeliharaan asma dan untuk meredakan gejala alergi musiman. Biasanya diberikan PER oral sekali sehari. Montelukast merupakan antagonis CysLT1 , blok aksi leukotriene D4 ( dan ligan sekunder LTC4 dan LTE4 ) pada sisteinil reseptor leukotrien CysLT1 di paru-paru dan saluran bronkiaL. Mekanisme itu dapat  mengurangi bronkokonstriksi yang disebabkan oleh leukotrien dan reaksi inflamasi atau peradangan.

Montelukast digunakan untuk beberapa kondisi termasuk asma, bronkospasme , rinitis alergi dan urtikaria. Hal ini terutama digunakan sebagai terapi komplementer pada orang dewasa di samping kortikosteroid inhalasi , jika obat lain tersebut tidak membawa efek yang diinginkan. Sesuai dengan farmakologi obat ini tidak berguna untuk pengobatan serangan asma akut . Montelukast tidak berinteraksi dengan obat asma lain seperti teofilin.

Antagonis reseptor leukotrien adalah zafirlukast ( Accolate ) , diberikan dua kali sehari . Zileuton ( Zyflo ) diberikan  empat kali per hari. Merupakan sintesis leukotrien blok dengan menghambat 5 – lipoxygenase , enzim dari jalur sintesis eicosanoid . Mont di Montelukast singkatan Montreal , tempat Merck mengembangkan obat ini.

Dalam pengobatan asma, mengontrol gejala agar sedapat mungkin tidak terjadi serangan adalah hal yang paling penting. Untuk mencapai tujuan ini, ada beberapa langkah pengobatan yang direkomendasikan oleh Global Initiative for Asthma (GINA) tahun 2011. Salah satu golongan obat yang efetif untuk mengontrol gejala asma pada langkah ke-2 adalah leukotriene modifier. Golongan obat ini terbagi lagi menjadi 2 yaitu leukotriene receptor antagonist (LRTA) dan leukotriene sysnthesis inhibitor (LRSI). Contoh obat LRTA adalah montelukast dan zafirlukast, sedangkan contoh obat untuk LRSI adalah zileuton.

Montelukast adalah antagonis receptor leukotriene yang mengindikasikan adanya asma, alergi radang selaput lendir dan untuk mencegah  olah raga penyebab asma. Leukotriene lainnya yang menggabungkan pengobatan termasuk zafirlukast (Accolate) yang juga merupakan antagonist receptor leukotriene dan zileuton (Zyflo and Zyflo CR) yang merupakan penghambat sistesis leukotriene.

Montelukast memiliki kelebihan yaitu dapat dipakai pada anak usia di atas 1 tahun sedangkan zileuton sampai saat ini hanya disetujui utuk penggunaan pada anak usia di atas 12 tahun atau dewasa. Meskipun montelukast dan zileuton adalah golongan obat yang sama yaitu leukotriene modifier efektivitasnya belum pernah dibandingkan secara langsung satu sama lain.

Sekelompok peneliti dari India mencoba melakukan uji klinik yang dipublikasi di American Journal of Therapeutics. Uji klinik ini memiliki desain komparatif acak, membandingkan 210 pasien asma kronik ringan-sedang usia 18 – 65 tahun. Pasien diacak untuk mendapatkan pengobatan zileuton extended-release 2400 mg / hari selama 12 minggu atau montelukast 10 mg / hari selama 12 minggu. Parameter yang dinilai adalah perubahan Peak Expiratoy Flow Rate (PEFR) dan skor kumpulan gejala asma.

Zileuton

Montelukast

Nilai p

PEFR (L/mnt)

+ 64,8

+ 40,6

p < 0,001

PEFR (%)

+ 27,0 %

+ 18,4 %

p = 0.006

Skor gejala

- 5,0

- 4,2

p = 0.018

Penelitian ini menyimpulkan bahwa golongan leukotriene synthesis inhibitor (zileuton extended-release) lebih efektif dari leukotriene receptor antagonist (montelukast) dalam mengontrol gejala asma kronik ringan-sedang. Selain itu kejadian efek samping antara kedua obat tidak berbeda bermakna. Karena penelitian ini adalah salah satu yang pertama, maka diperlukan penelitian yang serupa di masa yang akan datang untuk mengkonfirmasi hasil penelitian ini.

HARGA OBAT MONTELUKAST ATAU SINGULAR

 

 

Singulair chew tabl 14x4mg  

4.000

mg

14

Tablet

Rp 555,107.28

BIANEΞ AE

Singulair gran. bt 20 sachetsx4mg  

4.000

mg

20

Tas

Rp 831,320.09

BIANEΞ AE

Montelubronch 4mg 20 kautbl.  

4.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 909,719.72

Infectopharm Arzneimittel u. Consilium GmbH

Singulair mini 4mg gerke 20 kautbl.  

4.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 973,764.50

Gerke Pharma GmbH

Singulair mini 4mg cc pharma 20 kautbl.  

4.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 986,699.65

CC-Pharma GmbH

Singulair mini 4mg emra 20 kautbl.  

4.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 1,014,620.64

Emra-Med Arzneimittel GmbH

Singulair mini 4 kohlpharma 20 kautbl.  

4.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 1,014,620.64

kohlpharma GmbH

Singulair mini 4mg 20 kautbl.  

4.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 1,066,834.49

MSD Sharp & Dohme GmbH

Singulair  

4.000

mg

28

Tablet (kunyah)

Rp 1,097,437.16

MERCK SHARP DOHME

Singulair  

4.000

mg

28

Tas

Rp 1,144,603.14

MERCK SHARP DOHME

Montelubronch 4mg granulat 28 btl.  

4.000

mg

28

Granula

Rp 1,170,000.21

Infectopharm Arzneimittel u. Consilium GmbH

Singulair eurim mini 4mg gran. 28 btl.  

4.000

mg

28

Granula

Rp 1,349,988.10

Eurim-Pharm Arzneimittel GmbH

Singulair mini 4 kohlpharma brausegran. 28 btl.  

4.000

mg

28

Granula

Rp 1,349,988.10

kohlpharma GmbH

Singulair mini 4mg granulat 28 btl.  

4.000

mg

28

Granula

Rp 1,393,052.69

MSD Sharp & Dohme GmbH

Montelubronch 4mg 50 kautbl.  

4.000

mg

50

Tablet (kunyah)

Rp 1,886,165.90

Infectopharm Arzneimittel u. Consilium GmbH

Singulair mini 4mg gerke 50 kautbl.  

4.000

mg

50

Tablet (kunyah)

Rp 2,191,719.41

Gerke Pharma GmbH

Singulair eurim 4mg 50 kautbl.  

4.000

mg

50

Tablet (kunyah)

Rp 2,195,663.05

Eurim-Pharm Arzneimittel GmbH

Singulair mini 4mg cc pharma 50 kautbl.  

4.000

mg

50

Tablet (kunyah)

Rp 2,195,663.05

CC-Pharma GmbH

Singulair mini 4mg emra 50 kautbl.  

4.000

mg

50

Tablet (kunyah)

Rp 2,244,721.98

Emra-Med Arzneimittel GmbH

Singulair mini 4 kohlpharma 50 kautbl.  

4.000

mg

50

Tablet (kunyah)

Rp 2,245,983.95

kohlpharma GmbH

Singulair mini 4mg 50 kautbl.  

4.000

mg

50

Tablet (kunyah)

Rp 2,333,217.34

MSD Sharp & Dohme GmbH

Singulair chew tabl 14x5mg  

5.000

mg

14

Tablet

Rp 541,541.15

BIANEΞ AE

Montelubronch 5mg 20 kautabletten  

5.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 909,719.72

Infectopharm Arzneimittel u. Consilium GmbH

Singulair junior 5mg gerke 20 kautbl.  

5.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 973,764.50

Gerke Pharma GmbH

Singulair junior 5mg eurim 20 kautbl.  

5.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 986,699.65

Eurim-Pharm Arzneimittel GmbH

Singulair junior 5 kohlpharma 20 kautbl.  

5.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 986,699.65

kohlpharma GmbH

Singulair junior 5mg emra 20 kautbl.  

5.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 986,699.65

Emra-Med Arzneimittel GmbH

Singulair junior 5mg cc pharma 20 kautbl.  

5.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 986,699.65

CC-Pharma GmbH

Singulair junior 5mg 20 kautbl.  

5.000

mg

20

Tablet (kunyah)

Rp 1,066,834.49

MSD Sharp & Dohme GmbH

Singulair  

5.000

mg

28

Tablet (kunyah)

Rp 1,097,437.16

Dampak dan Efek Samping

Efek samping termasuk gangguan pencernaan , sakit kepala , reaksi hipersensitivitas , gangguan tidur , dan peningkatan kecenderungan perdarahan , di samping efek samping umum lainnya . Penggunaannya dikaitkan dengan insiden yang lebih tinggi dari sindrom Churg – Strauss. Mengantuk juga merupakan efek samping yang umum .

Tanda-tanda reaksi alergi. Dapatkan bantuan medis darurat jika memiliki salah satu dari tanda-tanda reaksi alergi :

  • gatal-gatal
  • kesulitan bernafas
  • pembengkakan wajah, bibir , lidah, atau tenggorokan .

Efek samping yang serius Hubungi dokter jika memiliki efek samping yang serius seperti

  • memburuknya gejala asma
  • memburuk batuk , demam , kesulitan bernapas
  • Perubahaan mood atau suasana hati atau perubahan perilaku , kecemasan, depresi
  • masalah tidur (insomnia )
  • ruam kulit , memar , kesemutan parah, mati rasa , nyeri , kelemahan otot
  • mual, nyeri pada perut bagian atas , hilangnya nafsu makan , gejala flu , gatal , urin berwarna gelap , tinja berwarna tanah liat , sakit kuning ( menguningnya kulit atau mata ) .

Efek samping yang kurang serius Efek samping kurang serius yang juga harus diketahui termasuk :

  • sakit kepala
  • diare, sakit perut
  • kelemahan
  • pusing
  • nyeri otot
  • sakit tenggorokan , gejala flu .
  • FDA mengatakan kemungkinan memerlukan waktu minimal sembilan bulan untuk menyelesaikan pemeriksaan asma dan obat alergi montelukast (Singulair). Investigasi berikutnya dengan melakukan pemeriksaan akan kemungkinan adanya hubungan antara penggunaan obat dengan perubahan perilaku/mood, keinginan untuk bunuh diri (keinginan dan perilaku melakukan bunuh diri) dan bunuh diri, kata agen tersebut. Dengan dikeluarkannya pernyataan pemeriksaan keselamatan tidak berarti bahwa FDA telah berkesimpulan terdapat hubungan sebab akibat antara montelukast dan “munculnya isu keselamatan. Tidak juga berarti bahwa FDA memberikan saran kepada para professional perawat kesehatan untuk menghentikan pemberian produk ini. Sebelumnya, produsen Singulair, Merck & Co, telah memperbaharui pemberian informasi dan informasi kepada pasien untuk Singulair termasuk kejadian yang berakibat buruk pasca pemasaran: gemetar (Maret 2007), depresi (April 2007), keinginan bunuh diri (perilaku dan berfikir untuk bunuh diri) (Oktober 2007), dan anxiousness (Februari 2008).  FDA juga mempelajari laporan paska pemasaran yang telah mengalami perubahan perilaku/mood, keinginan untuk bunuh diri dan bunuh diri pada pasien yang meminum obat dan “akan melakukan prediksi apakah diperlukan pemeriksaan selanjutnya.”  
    Pada tanggal 12 Juni 2009, Food and Drug Administration menyimpulkan review mereka ke dalam kemungkinan efek samping neuropsikiatri dengan leukotriene obat modulator . Meskipun uji klinis hanya mengungkapkan peningkatan risiko insomnia, pengawasan pasca-pemasaran menunjukkan bahwa obat yang berhubungan dengan kemungkinan peningkatan perilaku bunuh diri dan efek samping lainnya seperti agitasi, agresi , kecemasan , mimpi kelainan dan halusinasi , depresi , lekas marah , gelisah , dan tremor

 Kombinasi Dengan  loratadin

  • Schering- Plough dan Merck meminta izin untuk memasarkan tablet gabungan dengan loratadine ( Claritin ) dan montelukast ( Singulair ) , karena banyak pasien menggabungkan dua sendiri . Namun, FDA tidak menemukan manfaat dari pil gabungan untuk alergi musiman atas mengambil dua obat dalam kombinasi , [ 7 ] dan pada tanggal 25 April 2008, mengeluarkan rekokmendasi ” tidak approvable ” untuk pemberian kombinasi

Dosis dan pemberian

  • Dosis dari Montelukast pada orang dewasa dan remaja adalah salah satu 10 mg tablet diminum sehari. Pada anak-anak 6 sampai 14 tahun dosis biasa adalah salah satu 5 mg tablet kunyah sehari.

.

.

.

.

Artikel Terkait lainnya

.

.

.

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI: Kumpulan Artikel Permasalahan Alergi Anak dan Imunologi, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI:Kumpulan Artikel Alergi Pada Bayi, Dr Widodo Judarwanto Pediatrician

.

ARTIKEL FAVORIT:100 Artikel Alergi dan Imunologi Paling Favorit

Current Allergy Immunology by Widodo Judarwanto

The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.

Provided by

 www.allergyclinic.me

CHILDREN ALLERGY ONLINE CLINIC

Yudhasmara Foundation  www.allergyclinic.me

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto  www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

Curriculum Vitae Widodo Judarwanto

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2013, Children Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved

Antagonis Leukotrien Zafirlukast, Terapi Alergi dan Asma Terkini

Antagonis Leukotrien Zafirlukast, Terapi Alergi dan Asma Terkini

Antagonis leukotrien LTC4 dan LTD4 menimbulkan bronkokonstriksi yang kuat pada manusia, sementara LTE4 dapat memacu masuknya eosinofil dan neutrofil ke saluran napas. Preparat yang sudah ada di Indonesia adalah zafirlukast.Obat ini dapat digunakan pada penderita dengan asma persisten ringan. Pada penelitian dapat diberikan sebagai alternatif peningkatan dosis kortikosteroid inhalasi. Posisi anti leukotrien mungkin dapat digunakan pada asma persisten sedang, bahkan pada asma berat yang selalu membutuhkan kortikosteroid sistemik, serta digunakan dalam kombinasi dengan xantin, agonis-b2, dan steroid.

Zafirlukast digunakan untuk membantu mencegah serangan asma atau mengendalikan gejala asma dan meningkatkan fungsi paru-paru. Namun, obat ini tidak boleh digunakan untuk meredakan serangan asma yang sudah dimulai. Obat ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Zafirlukast, yang merupakan salah satu jenis antileukotrien golongan Leukotrien Receptor Antagonist (LTRA). Pemakaian obat ini sebagai pengendali pada asma derajat ringan diharapkan dapat mencegah terjadinya airway remodelling pada penderita asma.

Dosis dan Penggunaan

  • orang dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas: 20 mg dua kali sehari – anak-anak 5-11 tahun: 10 mg dua kali sehari – anak-anak di bawah 5 tahun: dosisnya ditentukan oleh dokter
  • Obat berbentuk tablet ini harus diminum dalam keadaan perut kosong, 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan.
  • Agar bisa bekerja secara efektif, zafirlukast harus diminum setiap hari, meskipun kondisi asma Anda membaik.

Dampak dan Efek Samping

Tanda-tanda reaksi alergi. Dapatkan bantuan medis darurat jika memiliki salah satu dari tanda-tanda reaksi alergi :

  • gatal-gatal
  • kesulitan bernafas
  • pembengkakan wajah, bibir , lidah, atau tenggorokan .

Efek samping yang serius Hubungi dokter jika memiliki efek samping yang serius seperti

  • memburuknya gejala asma
  • memburuk batuk , demam , kesulitan bernapas
  • Perubahaan mood atau suasana hati atau perubahan perilaku , kecemasan, depresi
  • masalah tidur (insomnia )
  • ruam kulit , memar , kesemutan parah, mati rasa , nyeri , kelemahan otot
  • mual, nyeri pada perut bagian atas , hilangnya nafsu makan , gejala flu , gatal , urin berwarna gelap , tinja berwarna tanah liat , sakit kuning ( menguningnya kulit atau mata ) .

Efek samping yang serius Efek samping kurang serius yang juga harus diketahui termasuk :

  • sakit kepala
  • diare, sakit perut
  • kelemahan
  • pusing
  • nyeri otot
  • sakit tenggorokan , gejala flu .

Harus Diwaspadai

  • Zafirlukast tidak akan bekerja cukup cepat untuk mengobati serangan asma yang sudah akut atau mendadak. Gunakan hanya obat inhalasi cepat bertindak untuk mengobati serangan asma . Bicarakan dengan dokter Anda jika salah satu obat asma Anda tampaknya tidak bekerja dengan baik dalam mengobati atau mencegah serangan.
  • Ini bisa memakan waktu hingga beberapa minggu sebelum gejala membaik. Tetap menggunakan obat seperti yang diarahkan dan memberitahu dokter Anda jika gejala tidak membaik setelah beberapa minggu pengobatan .
  • Hubungi dokter segera jika merasa bahwa obat ini tidak bekerja sebaik biasanya , atau jika itu membuat kondisi Anda lebih parah . Jika sepertinya Anda perlu menggunakan lebih dari setiap obat Anda dalam waktu 24 jam , berbicara dengan dokter Anda
  • KEAMANAN PADA WANITA HAMIL Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada janin maupun penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan kesuburan) dimana tidak ada penelitian terkendali yang mengkonfirmasi risiko pada wanita hamil semester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trisemester selanjutnya).

HARGA  : Rp. 241.520/kemasan

.

.

.

.

Artikel Terkait lainnya

.

.

.

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI: Kumpulan Artikel Permasalahan Alergi Anak dan Imunologi, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI:Kumpulan Artikel Alergi Pada Bayi, Dr Widodo Judarwanto Pediatrician

.

ARTIKEL FAVORIT:100 Artikel Alergi dan Imunologi Paling Favorit

Current Allergy Immunology by Widodo Judarwanto

The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.

Provided by

 www.allergyclinic.me

CHILDREN ALLERGY ONLINE CLINIC

Yudhasmara Foundation  www.allergyclinic.me

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto  www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

Curriculum Vitae Widodo Judarwanto

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2013, Children Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved

Curriculum Vitae Widodo Judarwanto

CURRICULUM VITAE WIDODO JUDARWANTO

 

.IMG_6331

Address: Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat Indonesia 10210

Phone: 64-021-5703646 , mobile : 08567805533, PIN BB: 25AF7935
Email : judarwanto
@gmail.com

www.drwidodojudarwanto.com

Education:

  • Medical School : Medicine Faculty of Airlangga University, Surabaya, Indonesia (1980)
  • Postgraduate Medical Education :
    • General Pediatrician Residency, Dr Soetomo Hospital, Airlangga University,Surabaya, Indonesia
    • Fellow Allergy immunology, Department of Allergy Immunology of Ciptomangunkusumo Hospital Jakarta

www.drwidodojudarwanto.com

Interest :

  • Clinical, education and research of Children Immunology and allergy,
  • Neurobehaviour development of infant and children
  • Ultrasound Imaging

Special Interest :

  • Food Allergy
  • Food Hypersensitivity
  • Gastrointestinal Allergy and Hypersensitivities
  • Food Allergy and Food Hypersensitivity related neurobehaviour development, picky eaters and failure to thrive
  • Picky eaters and Feeding Difficulties

www.drwidodojudarwanto.com

Clinical Positions :

www.drwidodojudarwanto.com

Comunication and Social Media :

Information and Networking:

Education and Social Networking

CERTIFICATE OF CONTINUING MEDICAL COURSE :

 

.

ALLERGY IMMUNOLOGY

  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI), “The Suspension Is Over: New Solutions for the Treatment of Asthma.
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Low-Dose Budesonide Improves Control of Mild Asthma, 2003, Certificate Number : 2502460
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies in the educational activity Proton Pump Inhibitors May Improve Asthma Control in Children, 2003,
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies in the educational activity Treatment of Allergic Rhinitis and Its Comorbidities, 2003
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies in the educational activity New Study Characterizes Idiopathic Solar Urticaria, 16 Oktober 2003,
  • The University of Miami School of Medicine certifies Masters of Pediatrics: Dermatology, 2002.
  • The University of Miami School of Medicine certifies that has participated in the educational activity titled Masters of Pediatrics: Pediatric Allergy Immunology Update on November 2002,
  • The University of Miami School of Medicine certifies in the educational activity titled Masters of Pediatrics: Pediatric Pulmonology Update,
  • Children Hospitals Clinics Minnesota, accredited by the Minnesota Medical Association to provide continuing medical education, Pediatric Grand Rounds, Program Title: Program Title: Defining and Refining the Diagnosis of Food Allergy- Who Has It and Who Had It, 2005
  • Medscape , the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies entitled Second International AIDS Society Conference on HIV Pathogenesis and Treatment HIV Disease in Children.
  • Children Hospitals Clinics Minnesota, accredited by the Minnesota Medical Association to provide continuing medical education, Pediatric Grand Rounds, Program Title: Pediatric Chronic Cough, 2006
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Diet as a risk factor for atopy and asthma. 2006
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Overview of the human immune response. 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Asthma: Factors underlying inception, exacerbation, and disease progression” 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Update on primary immunodeficiency diseases. 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Is there a problem with inhaled long-acting beta-adrenergic agonists? 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Atopic dermatitis 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Severe asthma: An overview. 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Mechanisms of nutrient modulation of immune response. 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Understanding the pathophysiology of severe asthma to generate new therapeutic opportunities. 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Food allergy . 2006.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Control of allergic airway inflammation through immunomodulation. 2007.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Cytokines and chemokines. 2007.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Applying epidemiologic concepts of primary, secondary, and tertiary prevention to the elimination of racial disparities in asthma, 2007.
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Genetic epidemiology of health disparities in allergy and clinical immunology, 2007
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Indoor allergens: Relevance of major allergen measurements and standardization, 2007.
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity American College of Chest Physicians Updates Cough Guidelines, 2006, Certificate Number : 6428168
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity A Practical Approach to the Patient With Sinusitis 2006, Certificate Number : 6445179
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity New Guidelines Issued for Food Allergies 2006, Certificate Number : 6427535
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Attaining Optimal Asthma Control: Practical Application of a New Practice Parameter 2006, Certificate Number : 6427641
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Excluding Allergenic Foods From Maternal Diet May Reduce Colic in Neonates. 2006, Certificate Number : 6427641
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity ACCP, ACAAI Issue Evidence-Based Guidelines for Use of Aerosol Therapy in Asthma or COPD, Certificate Number : 6428259
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Guideline-defining asthma clinical trials of the National Heart, Lung, and Blood Institute Asthma Clinical Research Network and Childhood Asthma Research and Education Network. 2007.
  • EXCEL Continuing Education and Miami Masters of Pediatrics the Miller School of Medicine University, certifies entitled Asthma Treatment 2007, Certificate number 11849
  • EXCEL Continuing Education and Miami Masters of Pediatrics the Miller School of Medicine University, certifies entitled “Atopic Dermatitis – Treatment & Management”, 2007, Certificate number 11850
  • EXCEL Continuing Education and Miami Masters of Pediatrics the Miller School of Medicine University, certifies entitled “Whither Sinusitis”, 2007, Certificate 11851
  • EXCEL Continuing Education and Miami Masters of Pediatrics the Miller School of Medicine University, certifies entitled “Antibiotic Update”, 2007, Certificate number 11853
  • EXCEL Continuing Education and Miami Masters of Pediatrics the Miller School of Medicine University, certifies entitled “Treating the Difficult Asthmatic”, 2007Certificate 11855
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Immune dysregulation, polyendocrinopathy, enteropathy, X-linked: Forkhead box protein 3 mutations and lack of regulatory T cells.
  • The University of Pennsylvania School of Medicine accredited by the ACCME to provide continuing medical education “Asthma Drug Linked to Serious Adverse Events”, 2008,
  • The University of Pennsylvania School of Medicine accredited by the ACCME to provide continuing medical education, “ACAAI: Poverty Linked To Accidental Food Allergy Attacks , 2008,
  • The University of Pennsylvania School of Medicine accredited by the ACCME to provide continuing medical education, Acetaminophen in Infancy May Be Risk Factor for Asthma, 2008
  • The University of Pennsylvania School of Medicine accredited by the ACCME to provide continuing medical education, Genetics of Asthma Suggest It Is Umbrella Term for Multiple Diseases,2008
  • The University of Pennsylvania School of Medicine accredited by the ACCME to provide continuing medical education Babies’ Wheezing Colds Are Best Predictor of Asthma, 2008,
  • The American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical education certifies entitled: Chemokines and their receptors in allergic disease. 2007.
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies in the educational activity Recommendations for Management of Cow’s Milk Protein Allergy in Infants, 2008, Certificate Number: 12110776
  • Postgraduate Institute for Medicine (PIM) 367 Inverness Parkway, Englewood, is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education (ACCME) to provide continuing medical, New National Guidelines as a Tool for Managing Asthma in Clinical Practice, 2008, Certificate Number: 15385862
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, Probiotics May Not Be Effective for Eczema in Children, 2008, Certificate Number: 15726466
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, Tonsillectomy Improves Quality of Life in Patients With Recurrent Tonsillitis, 2008, Certificate Number: 11366391 . Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, HIV Basic Science and Pathogenesis, 2007 Certificate Number: 10653942
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, Options for First-line Antiretroviral Therapy of HIV Infection 2007, Certificate Number : 10654225
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, CROI 2007 – Emerging Changes in the Clinical Management of HIV-Infected Patients: Resistance and Investigational 2007, Certificate Number : 10654313
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, IAS 2007: Management of Pediatric HIV Infection, and Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission, 2007,
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, ICAAC: HIV Management, 2007, Certificate Number : 10653872
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies in the educational activity, AIDS 2008: Emerging Treatment Strategies for Patients With HIV Infection, 2008, Certificate Number: 15385990

PICKY EATERS

  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education Eating Disorder: Pica, 2006
  • The University of Miami School of Medicine certifies that participated in the educational activity titled Masters of Pediatrics: Growth and Nutrition Sessions on Children.
  • The University of Chicago The Division of the Biological science and the Priztker School of Medicine “Conquering the Clinical Challenges of IBD: Optimizing Anti-TNF-Alpha Therapy”.
  • NIH/FAES CME Committee: Phenylketonuria (PKU): Screening and Management The Essentials and Standards of the Accreditation Council for Continuing Medical Education through the joint sponsorship of the Society of Nuclear Medicine.
  • The University of Chicago Pritzker School of Medicine Biologic Therapies for Inflammatory Bowel Disease: Strategies for Optimal Outcomes.
  • Medical Education Collaborative` A Nonprofit Educational Organization 651 Corporate Circle, Suite 104 Golden, CO 80401, The Obesity Epidemic: Prevention and Treatment of the Metabolic Syndrome.
  • AACE (American Academy of CME Inc) 186 Tamarack Circle · Skillman, NJ is accredited to provide continuing medical, Small for Gestational Age: Issues in 2008, Certificate Number: 15386287
  • CONTINUING MEDICAL EDUCATION Postgraduate Institute for Medicine “Reality” Gastroenterology: Meeting the Challenges of GERD and Related Disorders in Clinical Practice
  • Medical Education Collaborative A Nonprofit Educational Organization 7425 Grandview Avenue Arvada, CO 80002, 154th Annual Meeting of the American Psychiatric Association – Eating Disorders and ADHD
  • Medscape , the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies, New Guidelines for Alpha-1 Antitrypsin Deficiency .
  • Medical Education Collaborative A Nonprofit Educational Organization Grandview Avenue Arvada . 154th Annual Meeting of the American Psychiatric Association – Eating Disorders and ADHD
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Eating Disorders in Children and Adolescents: An Update, 2006, Certificate Number : 6428343
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity American College of Gastroenterology 2006 Annual Scientific Meeting and Postgraduate Course – Functional Gastrointestinal Disorders Certificate Number : 9153693

.

 

.

NEUROBEHAVIOUR DEVELOPMENT :

  • The American Epilepsy Society certifies that participated in the educational activity titled “Innovative Epilepsy Therapies for the 21st Century – Part 2
  • Medscape the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, NY certifies, Atropine May Be a Good Alternative to Patching for the Noncompliant Child With Amblyopia,
  • Medical Education Collaborative A Nonprofit Educational Organization 7425 Grandview Avenue Arvada, CO 80002, XII World Congress of Psychiatry – Bipolar Disorder.
  • The Autism Society of America certifies in the Online Autism Course, holistic Management in Autism., 2005
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education Sleep Disorder : Nightmares, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education Sleep Disorder : Nightterrors, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Sleeplessness and Circadian Rhythm Disorder, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, REM Sleep Behavior Disorder, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Somnambulism (Sleep Walking), 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Sleep Stage Scoring, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Sleep Dysfunction in Women, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Normal Sleep, Sleep Physiology, and Sleep Deprivation: General Principles, 2006
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Basics in Clinical Practice: Recognizing and Treating Sleep Disorders, 2007 Certificate Number : 9153995
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity The Mystery Behind the Silence: Typical Presentation of Autism Spectrum Disorders Certificate Number : 6428393
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Making the Difficult Diagnosis: Detecting Autism in a Toddler, 2007 Certificate Number : : 9153484
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Child Behavior Screening in Primary Care, 2007 Certificate Number : 9153582
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Sleep Disorder: Problems Associated With Other Disorders , 2006
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Current Perspectives in Insomnia, 2006, Certificate Number : 6445089
  • Medical Education Collaborative A Nonprofit Educational Organization 7425 Grandview Avenue Arvada, CO 80002, has participated in the educational program entitled Pharmacologic Treatment of Attention-Deficit Hyperactivity Disorder in Children. CMEC’s,
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity Lifestyle and Complementary Therapies for ADHD: How Health Professionals Can Approach Patients Certificate Number : 9153616
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education Pervasive Developmental Disorder: Asperger Syndrome, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Pervasive Developmental Disorder: Rett Syndrome 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Pervasive Developmental Disorder: Childhood Disintegration Disorder, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Cognitive Deficits 2006
  • Medscape, the professional education subsidiary of WebMD Health, New York, certifies in the educational activity, Speech-Language Impairment: How to Identify the Most Common and Least Diagnosed Disability of Childhood, 2008 Certificate Number: 15386421
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Periodic Limb Movement Disorder, 2006
  • The University of Nebraska Medical Center, Center for Continuing Education is accredited by the Accreditation Council for Continuing Medical Education to provide continuing medical education, Restless Legs Syndrome, 2006

.

.

ULTRASONOGRAPHY :

  • Hands on Clinical Course : Pediatric Ultrasonography, Harapan Kita Hospital Jakarta Indonesia
  • Society of Diagnostic Medical Sonography, Continuing Medical Education Certificate, Sonographic Evaluation of the Fetal Head, specialty area(s): Pediatric Echo Vascular Physics. SDMS CME Number: 0002-02892

.

 

.

 

PAPERS PRESENTED IN INTERNATIONAL MEETING :

  1. Clinical Evaluation of a new device for Cutaneus Bilirubin Measurement at Bunda Jakarta Hospital, pada “13th Congress of the Federation of Asia and Ocenia Perinatal Societies”, Kuala Lumpur Malaysia. (poster)
  2. Evaluation and medical treatmant in infant with HIV-infected mothers, pada “ 13th Congress of the Federation of Asia and Ocenia Perinatal Societies”, Kuala Lumpur Malaysia. (poster)
  3. Perinatal Outcome of infants born after in vitro fertilization at Bunda Hospital Jakarta Oral presentation pada “13th Congress of the Federation of Asia and Ocenia Perinatal Societies”, Kuala Lumpur Malaysia. (oral presentation)
  4. Dietery Intervention as a Therapy in Behaviour Problem with Gastrointestinal Allergy,; pada World Congress of Gastroenterology, Hepatology and Nutrition, Paris Perancis 2 – 7 Juli 2004. (oral presentation)
  5. “Using Nutrient Dense in Children with Gastroenterointestinal Allergies”, in “24th International Congress of Pediatric Cancun Mexico”, 15-20 Agustus ,2004. (poster)
  6. “Effects on Stool Characteristics, Gastrointestinal Manifestation and Sleep Pattern of Palm Olein in Formula-fed Term Infants in ” “24th International Congress of Pediatric Cancun Mexico”, 15-20 Agustus, 2004 (poster)
  7. “Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”; in “8th Asian & Oceanian Congress of Child Neurology, Newdelhi India”, 7 – 10 Oktober, 2004. (poster)
  8. “Dietery Intervention as a therapy for Headache in Children with Gastrointestinal Allergy”; in “8th Asian & Oceanian Congress of Child Neurology, Newdelhi India”, 7 – 10 Oktober, 2004. (poster)
  9. “Overdiagnosis tuberculosis in Children with Failure to thrive”, in The 37th Union World Conference on Lung Health of the International Union Against Tuberculosis and Lung Disease “ di Paris, Perancis, 31 October – 4 November 2006. (poster)
  10. “Overdiagnosis tuberculosis in Children with Failure to thrive”, in The 37th Union World Conference on Lung Health of the International Union Against Tuberculosis and Lung Disease “ di Paris, Perancis, 31 October – 4 November 2006. (abstract)
  11. Review for Five Years : Management Transient Tachypnea of The Newborn . In Asia Pasific Perinatology Congress, Bangkok, November 2006 (oral presentation)

www.drwidodojudarwanto.com

BOOK RELEASE

  • Severe Acute Respiratory Syndrome, Penerbit Puspaswara tahun 2002.
  • Kesulitan Makan pada Anak, penerbit Puspaswara tahun 2003
  • Problematika Gagal tumbuh dan Sulit makan pada Anak., penerbit Yudhasmara tahun 2004.
  • Kontroversi Imunisasi penyebab Autism, penerbit Yudhasmara, tahun 2004.
  • Alergi Makanan pada Anak, penerbit Yudhasmara, tahun 2004.
  • Mengoptimalkan kemampuan Bicara pada Anak, penerbit Yudhasmara, tahun 2005.
  • Pemilihan Susu Terbaik bagi Anak, Penerbit Yudhasmara, tahun 2005.
  • Deteksi dn Pnecegahan Autism, penerbit Yudhasmara, tahun 2005.
  • Gangguan tidur pada Anak, penerbit Yudhasmara, tahun 2005.

www.drwidodojudarwanto.com

AWARD :

“OUTREACH AWARD” in World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition,July 4-7 2004, Paris France. For papers with title : “Dietery Intervention as a Therapy for Behaviour Problems in Children with Gastrointestinal Allergy”.

ADDITIONAL PROFESSIONAL AFFILIATIONS:

Society of Indonesia Medicine
Society of Indonesia Perinatology
Society of Indonesia Paediatrician
EAACI, membership number : EAACI06779
APAPARI (Asia Pasific Association of Paediatric Allergy Respirology and Immunology)

 

ARTIKEL TEREKOMENDASI: Kumpulan Artikel Permasalahan Alergi Anak dan Imunologi, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI:Kumpulan Artikel Alergi Pada Bayi, Dr Widodo Judarwanto Pediatrician

.

ARTIKEL FAVORIT:100 Artikel Alergi dan Imunologi Paling Favorit

Current Allergy Immunology by Widodo Judarwanto

Gejala Alergi pada bayi dan anak justru paling sering dipicu oleh adanya infeksi khususnya infeksi virus. Tetapi sebaliknya saat itu sering dianggap karena alergi susu atau alergi makanan. Gejala infeksi virus pada bayi khususnya sulit dikenali karena mirip gejala alergi. Reaksi terhadap alergi susu atau alergi makanan biasanya relatif ringan, namun begitu dipicu infeksi manifestasinya lebih berat. Pemicu alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi dihindari. Widodo Judarwanto 2012
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.

100 Artikel Alergi dan Imunologi Paling Favorit

100 ARTIKEL ALERGI DAN IMUNOLOGI PALING FAVORIT

Malam Rewel, Kolik dan Alergi Pada Bayi

Mengapa Suara Napas Bayiku Bunyi “Grok-grok” atau   Hipersekresi Bronkus ?

Penanganan Terkini Bronkitis Pada Anak dan Dewasa

Kenali Tanda, Gejala Alergi dan Hipersensitifitas pada   Bayi

Cara Pemilihan Susu Formula Khusus Alergi

Toll-like receptors (TLRs) in the innate immune system.

Permasalahan Alergi Makanan Pada Anak

Berbagai Penyakit Yang Berkaitan Dengan Gangguan   Autoimun

Hipersensitif Kulit dan Dermatitis Atopik Pada Anak

Cetirizine Terapi Alergi Paling Banyak Digunakan,   Indikasi dan Farmakokinetiknya

Imunologi Dasar: Mekanisme Pertahanan Tubuh Terhadap   Bakteri

Kortikosteroid Topikal, Jenis Penggolongan dan Efek   Sampingnya

Imunologi Dasar : Radang dan Respon Inflamasi

Imunologi Dasar : Reaksi Hipersensitivitas

Imunologi Dasar : Imunologi Humoral

Obstruksi Ductus Nasolacrimalis, Gangguan Mata dan   Alergi Pada Bayi

Imunitas Non Spesifik

Gastroesepageal Refluks (GER) Muntah Pada Anak dan   Alergi- Hipersensitif Makanan

Imunologi Dasar : Imunitas seluler

Imunologi Dasar : Penyakit Auto Imunitas

Imunologi Dasar : Respons Imun

Penyakit Autoimun Miastenia Gravis, Manifestasi Klinis   dan Pengobatan

Penggunaan Obat Kortikosteroid Pada penderita Alergi,   Farmakokinetik dan Efek Samping

Pemilihan Obat Batuk Mukolitik dan Ekspektoran Pada penderita   Alergi dan Asma

Imunologi dasar : Sel darah Putih, Netrofil, Eosinofil,   Basofil

Pictures of Atopic Demartitis-Infection: Alergi Kulit   Dipicu Infeksi Virus Pada Bayi

Mekanisme Respon Tubuh Terhadap Serangan Mikroba

SINDROM STEVEN-JOHNSON, Manifestasi Klinis dan   Penanganannya

Penanganan Terkini Acute Respiratory Distress Syndrome   (ARDS)

Kolik Bayi, Nyeri Perut dan Alergi-Hipersensitifitas   Makanan

Alergi Susu Sapi, Permasalahan dan Penanganannya

Imunologi Dasar: Antigen Presenting Cell (APC)

Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi   Makanan Terbuka

Hernia dan Alergi-Hipersensitifitas Saluran Cerna Pada   Bayi atau Anak

Kenali Permasalahan Alergi Telur Pada Anak

Gangguan Kesehatan Mulut Gigi, Kesehatan Mulut dan   Alergi Makanan

Imunologi Dasar : Imunologi Mukosa

Imunologi dasar : Imunologi Vaksin

Efek Samping Dan Keracunan Obat Antihistamin, Gejala dan   Penanganannya

Cara Pemilihan Susu Alergi Pada Anak

Patofisiologi Terkini Alergi Obat

Gastrooesepageal Refluks, Muntah dan   Hipersensitif-Alergi Makanan

Respon Imun Selular dan Manifestasi Klinis

Berak Darah Pada Bayi, Infeksi atau Alergi ?

Imunologi Dasar : Sistem Fagosit dan Penyakit

Id Reaction Autoeczematization, Clinical Manifestation   and Management

Penanganan Terkini Dermatitis Numularisis

Clinical Aspect in Th1 and Th2 Balance

Anti Alergi Klasik CTM Chlorpheniramin Maleat, Indikasi dan   Penggunaannya

Pictures Atopic Dermatitis In Infant : Alergi Kulit Pada   Bayi

Imunologi Dasar : Imunitas Humoral

Imunologi Dasar : Sistem Komplemen

Scleroderma dan Discoid lupus erythematosus, Penyakit   Autoimun Kulit

Penanganan Terkini. Idiopatik trombositopenia purpura   (ITP)

Papular Urticaria, Pressure Urticaria and Solar   Urticaria

Sulitnya Penanganan Urtikaria atau Biduran ?

Sering Sakit, Daya Tahan Tubuh Buruk, Alergi dan   Hipersensitif Saluran Cerna

Berbagai Penyakit Defisiensi Imun

Rinitis Alergi dan Penanganannya

Breath Holding Spell atau Menangis Biru dan   Alergi-Hipersensitifitas Saluran Cerna

Peranan Sel Dendritik Dalam Sistem Imun

Debate and Controversies: Vitiligo, Food Allergy and   Celiac ?

Daftar Lengkap Interleukin, Aspek Klinis dan Aspek   Biologisnya

Penggunaan Teofilin Obat Jenis Metilxantin Pada   Penderita Asma

Struktur Imunoglobulin

Kumpulan Artikel Permasalahan Alergi dan Imunologi Anak,   Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Patogenesis dan Patofisiologi Terkini Alergi Rinitis

Susu Formula Khusus Alergi Yang Ada Di Indonesia

Mana Yang Benar : Alergi, TBC atau Bronkitis

Gangguan pada Sistem Imunitas

Tics, Tourette’s Syndrome and Food   Allergy-Hypersensitivities

Seizures, Epilepsy, Food Allergies and Food   Hypersensitivities

Imunologi Dasar: Sitokin dan Aspek Klinisnya

Antiphospholipid Antibody Syndrom, Reaksi Tubuh   Berlebihan Ancam Kesehatan

Dosis dan Jenis Antihistamin Sebagai Anti Alergi

Imunologi Dasar : Antigen

Gangguan Tidur Malam dan Alergi Pada Anak

Imunologi Dasar : Kompleks Histokompatibilitas Mayor

Imunologi Dasar : Respon Imun dan Sistem Kekebalan   Mahluk Hidup

Penanganan Rinitis Alergi dan Intervensi Alergi Makanan

Urtikaria-Biduran, Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa

Otitis Media Akut Infeksi telinga Pada Anak

Antihistamin Medikamentosa Alergi, Jenis dan   Farmakokinetiknya

Pityriasis Alba, Eczema in Children ?

Irritable Bowel Syndrome, Sindrom Iritasi Usus dan   Alergi Makanan

Belum Tentu Alergi Susu, Infeksi Virus Pemicu Alergi   Pada Bayi

Alergi Pada Bayi, Deteksi Dini dan Pencegahan

Sindrom Steven-Johnson, Manifestasi Klinis dan   Penanganannya

Alergi Obat Pada Anak; Gejala dan Penanganannya

Deteksi Tanda dan Gejala Alergi Pada Bayi Baru Lahir

Operasi Amandel atau Tonsilektomi : Komplikasi dan   Kontroversi Indikasi

United Airway Disease : Keterkaitan Penyakit Rinitis dan   Asma pada Anak

Lupus Eritematosus Sistemik Pada Anak

Picture Dermatitis Atopic – Allergy Skin Diseases :   Gambar Alergi Kulit Pada Anak

Imunologi Dasar : Imunitas Non Spesifik

Pemakaian Kacamata, Kelainan Refraksi dan Riwayat Alergi   Pada Anak

Alergi Lateks, Manifestasi Klinis dan Penanganan Terkini

The New Perspective Mast Cells in Gastrointestinal   Disease

The updated recommendations of the ARIA guidelines for   Rhinitis Allergy

Penggunaan Imunoterapi Pada Penderita Alergi

Genotipe dan Fenotipe

Peranan Alergi Makanan Terhadap Rinitis, Asma dan   Gangguan Pernapasan Lainnya

Sleep Problems In Children and Food Allergy-Food   Hypersensitivities

Manifestasi Klinis, Tanda dan Gejala Anafilaksis

Bayi Minta ASI Terus Belum Tentu Haus. Bayi Alergi   Hipersensitifitas Saluran Cerna ?

CURRICULUM VITAE WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

Penderita Alergi, Dermatitis Atopik, Urtikaria, Rhinitis   dan Resiko Skizofrenia

Susu Formula Khusus Penderita Alergi

Imunologis Dasar: Reaksi Hipersensitifitas Anafilaksis

Cacar Air Lebih Berat Pada Penderita Alergi Kulit

Patofisiologi dan Patogenesis Anafilaksis

Program Intervensi Diet atau “Modifikasi Eliminasi   Provokasi Makanan Terbuka” atau Challenge test

Update Management of cow’s milk protein allergy in   infants

Dermatitis Kontak : Alergi Tato

Imunologi dasar: Adaptive Immune System, Sistem   Kekebalan Tiruan

Contact Urticaria Syndrome and Dermographism Urticaria

Neurological Manifestation, Food Allergy and Food   Hypersensitivities

Henoch-Schonlein Syndrome: Manifestasi Klinis, Penyebab   dan Penanganan

Perbedaan GM-CSF, Progenitor, Granulosit (Neutrofil,   Eosinofil, Basofil dan Makrofag)

PENGGUNAAN TERAPI HIRUPAN ATAU INHALASI PADA ASMA ANAK

Classification 100 Autoimmune Disorders

Gangguan Buang Besar Konstipasi dan   Alergi-Hipersensitifitas Makanan

Widodo   Judarwanto Articles

Imunologi Dasar : Superantigen

Susu Kambing dan Susu Hipoalergenik Parsial Bukan Untuk   Penderita Alergi

Penyebab Reaksi Anafilaksis

Aspek Klinis dan Aspek Biologis Toll-Like Receptor   (TLRs)

Dampak Antihistamin H1 Pada Sistem Organ Tubuh

Imunologi Dasar : Sel Mastosit

Penyakit Ménière dan Alergi Makanan

Online   Consultation

Alergi Debu, Alergi Dingin atau Alergi Makanan ?

Tanda dan Gejala Alergi Pada Bayi, Anak dan Dewasa

Intervensi Diet Sebagai Terapi dan Diagnosis Berbagai   Gangguan Fungsional Tubuh Manusia

Alergi Debu, Alergi Dingin atau Alergi Makanan Manakah   Yang Benar ?

Kumpulan Artikel: Segala Permasalahan Alergi pada Bayi

Waspadai Diagnosis TBC Tidak Benar Pada Penderita Alergi

The New Insight of Alfa Lactalbumin

Sulitnya Mencari Penyebab Alergi

Hypersensitivity Vasculitis and Allergy Vasculitis

Penatalaksanaan dan Pencegahan Anafilaksis Pada Anak

Alergi Hipersensitifitas Makanan, Kontroversi Terbesar   di Kalangan Awam dan Medis

Gangguan Motorik Kasar, Gangguan Oral Motor dan   Penderita Alergi

Tic, Sindrom Tourettes dan Alergi Makanan

Penyakit Kimura, Gangguan Inflamasi Hipereaktifitas   Kronis Jinak

Kesulitan Terbesar Penanganan Alergi, Sulitnya Mencari   Penyebab

Immunology

Pemberian Obat Adrenergik Pada penderita Alergi

Behaviour Problems and Food Allergies-Hypersensitivites   in Children

Wiskott–Aldrich syndrome (WAS),   Eczema-Thrombocytopenia-Immunodeficiency Syndrome

Picture Of Pityriasis Alba Atopic Dermatitis: “Panu”   Alergi Kulit

Maturation of the Immune System in Newborn and Children

Alergi Debu, Alergi Dingin atau Alergi Makanan Manakah   Yang Benar ?

Fact or Perception : Antibiotic Allergy in Children

Penanganan Autism dan Alergi Hipersensitifitas Makanan

Pictures Dermatitis Atopic In Children under 2 Years   Old: Alergi Kulit pada Anak

Deteksi Dini Alergi Sejak Kehamilan

The New Insight Immunopathophysiology of Nephrotic   Syndrome

The New Insight of Vasculitis and Allergy

Benarkah Aku Alergi Dingin ?

Reaksi hipersensitivitas Tipe Lambat

Allergy March, Perbedaan Perjalanan Alamiah Setiap Usia   dan Setiap Individu

Reaksi Simpang Makanan dan Gangguan Neurologi

The New Insight Idiopathic thrombocytopenic purpura   (ITP)

Alergi Kacang Manifestasi Klinis dan Penanganannya

Penggunaan Terapi Imunopotensiasi atau Terapi Imunomodulator

Asma, Gangguan Yang Menyertai dan Kontroversinya

Allergy March, Perbedaan Perjalanan Alamiah Alergi   Setiap Individu

Kejang, Epilepsi dan Alergi Hipersensitifitas Makanan

Dermatitis Berloque, Reaksi Kulit Akibat Parfum

Telinga Gatal, Kotoran Telinga Berlebihan Berbau dan   Alergi

Ophthalmology Problems and Autoimmune Diseases

Pityriasis Alba or Eczema ?

The New Perspective Immunopathophysiology, Future   Diagnostic and Prevention in Typhoid Fever

Dental caries, Allergy Diseases and Asthma

Bioresonansi, Tes dan Terapi Alergi Yang Tidak   Direkomendasikan

Gejala dan Penanganan Alergi Hewan Peliharaan

A Molecular Basis for Bidirectional : Communication   Between the Immune and Neuroendocrine Systems

Peranan Sel Dendritik Pada Penyakit Alergi

Penggunaan Terapi Imunosupresi

Kounis syndrome, Allergic Myocardial Infarction

All About Articles of Children Allergy and Immunology by   Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Pencegahan Alergi Harus Dilakukan Sejak Dini

Gangguan Kulit Pada Bayi Penderita Alergi

Update Management of Legume Allergy

Waspadai Alergi Kacang Dapat Ancam Jiwa

13 Jenis Toll-Like Receptor Dengan berbagai Aspek   Klinisnya

Sindrom Alergi Oral dan Alergi Makanan

Dr Susan Prescott, Specialist in childhood allergy and   immunology : Profile and Publication

Clinical Manifestation of Cow’s Milk Protein Allergy as   a Complex Disorders

The New Concept Pathogenesis and Pathophysiology of   Rhinitis Allergy

20 Tanda dan Gejala Alergi Makanan Sering Salah   Dipersepsikan

Waspadai Dampak Buruk Makanan Pada Otak dan Perilaku   Manusia

Sakit Kepala, Migrain dan Alergi Makanan

Berbagai Jenis Generasi Antihistamin

Headache, Migraine and Food Allergy

Summary Toll-like Receptors TLR1 to TLR13

Alergi Dewasa

Irritable Bowel Syndrome Berkaitan dengan Alergi Makanan

Penggunaan Natrium Kromolat dan Obat Antikolinergik Pada   Penderita Alergi

Gangguan Tidur dan Alergi Pada Bayi

Tes Alergi IgG4 (Dikirim Ke Amerika), Tidak   Direkomendasikan Untuk Tes Alergi

The Current Management of Hyperimmunoglobulin E syndrome   (HIES) or Job Syndrome

Pemberian Susu Untuk Penderita Alergi

BIORESONANSI, Tidak Direkomendasikan Untuk Tes dan   Pengobatan Alergi

The Future Management of Chronic urticaria

Behçet’s disease, Immune-mediated Systemic Vasculitis   Disease

Atopic Disorder, Allergic Reaction and Nephrotic   Syndrome

How to Know Related Rheumatoid Arthritis, Food Allergy   and Food Hypersensitivities

Asthma, Respiratory Disease, Food Allergy and Food   Hypersensitivities

Clinical Aspect of Type II Hypersensitivity-Like   Autoimmune Diseases

Food Allergy Update 2012: New Insights Seafood, Fish and   Shellfish Allergy in children

Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Pada Anak

Kounis Syndrome : Allergy Acute Myocardial Infarction

Perilaku Yang Sering Menyertai Penderita Alergi Pada   Bayi

Inilah Kontroversi Terbesar Alergi.

Inilah Perbedaan Karakter dan Tipikal Manifestasi Alergi   Setiap Orang

Allergy Reference Update 2012: Etiopathogenesis and   Future Management Dermatitis Atopy and Skin Disease

The New Perspective of Pathophysiology and Pathogenesis   Cow Milk Allergy

Penanganan Penyakit Autoimun Alzheimer

Immunology Update References: The Future Research of   Autoimmune Diseases

Allergy March. Perjalanan Alamiah Alergi Sebagai   Parameter Pencegahan

Otitis Media Akut (Infeksi telinga) Pada Anak

Epilepsi, Alergi Makanan dan Hipesensititas Makanan

Update 500 References: Probiotics, Allergy and Atopic   disease

Chinese Herbal Therapy for the Alternative Treatment of   Food Allergy.

Seminar Alergi : “Alergi Susu Sapi, Awal Perjalanan   Panjang Alergi”

Kenali Alergi Makanan Pada Dewasa

How To Know Related Autism Spectrum Disease, Food   Allergy and Food Hypersensitive

Sulit Buang Air Besar, Konstipasi dan Alergi Hipersensitif   Makanan

Sindrom Churg Strauss, Granulomatosis Alergi dan   Angiitis Alergi

The Future Research of Antihistamine

Immediate and Delayed Symptoms of Food-induced Allergic   Reactions

Alergi Debu, Alergi Dingin atau Alergi Makanan Manakah   Yang Benar ?

Kejang, Epilepsi dan Alergi-hipersensitifitas Makanan

Benarkah Aku Tidak Alergi Makanan ?

Allergy Reference Update: Management Stevens-Johnson   Syndrome

Eosinophilic cystitis: Review and report of two cases

Hipersensitif Persarafan Pada Bayi Alergi

Recommendation References of Kounis Syndrome : Allergy   Acute Myocardial Infarction

Allergic rhinitis, simple snoring and obstructive sleep   apnea syndrome

Management of Asthma in Children Under 5 Years

Keputihan Pada Anak, Gangguan Hormonal dan Alergi

Neonatal Autoimmune Diseases: Neonatal anti-phospholipid   syndrome

Impaksi Gigi, Hipersensitif Mulut Dan Gigi dan Alergi

Special Reference Cow Milk Allergy

Berbagai Gangguan THT dan Alergi Makanan

The New Insight Clinical Aspect of The Hygiene   Hypothesis

Immunology Update: The New Insight of Immunopathogenesis   of Rheumatoid Arthritis.

Allergy Abstract: Allergy against Human Seminal Plasma.

The prevalence of antibiotic skin test reactivity in a   pediatric population.

Relationship Kawazaki – Allergy: Kawazaki disease   tendency to develop allergic diseases

Arthritis References Update: The Future Research   Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis, Chronic Polyarthritis and Food   Allergy

Sindrom Young: Bronkiektasis, Rinosinusitis dan   Infertilitas

Omenn Syndrome, Severe Combined Immunodeficiency

Immunology Update: The New Concept Immunopathogenesis of   SLE

Ankylosing spondylitis, Penyakit Autoimun Tulang   Belakang

Klasifikasi Dan Jenis Penyakit Defisiensi Imun

Neonatal Autoimmune Diseases: Neonatal Lupus

The New Insight of Neonatal Autoimmune Diseases

Penicillin allergy: updating the role of skin testing in   diagnosis

Alergi Hewan Peliharaan dan “Fobia Alergi Binatang”

Point of Interest: Patophysiology and Pathogenesis of   Food Allergy

Waspadai Dampak Buruk Makanan Pada Otak dan Perilaku   Anak

The allergic march from Staphylococcus aureus   superantigens to immunoglobulin E.

Update Pediatric Reference: Immunopathogenesis,   Prevalence and Management of Asthma

FOOD ALLERGY – CRIMINAL : Alergi Makanan Dapat   Berpengaruh Meningkatkan Perilaku kriminal Seseorang

The Future Concept in Pathophysiology of Asthma

ALLERGY UPDATE 2011 : Food allergy. Wang J, Sampson HA

Keratokonus Mata dan Alergi

Tanda dan Gejala Penyakit Defisiensi Imun

Modifikasi EliminasiProvokasi Makanan Terbuka

Hot Topic Abstract: BMI, asthma, atopy, and eNO

REFERENCES GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS, GATROINTESTINAL   AND ALLERGY

Update References : Immunology, Pathogenesis, Management   Dermatitis Atopy

Allergy Pediatric Reference: Epidemiology,   Immunopathogenesis and Management Anaphylaxis

Pediatric Allergy References: Epidemiology,   Immunopathology and Management Asthma in Children

References Neurologic manifestations of allergic disease

Immunology Update Abstract: Autoimmune and Neurology   Diseases

The New Perspective Immunopathophysiology of Obesity

Allergy Update References: The New Concept Airway United   Disease

Reaksi Simpang Makanan dan Gangguan Neurologi

Kontroversi Asma dan Hewan Peliharaan

The Role Inhibition of Interleukin-5 in Allergy   Diseases.

Alergi Makanan dan Muntah atau Gastrooesephageal Refluks

Allergy Pediatric Reference: Epidemiology,   Immunopathogenesis and Management Dermatitis Atopy

Chemokines and Their receptors in Atopic Dermatitis

Neonatal Autoimmune Diseases: Neonatal type I diabetes   mellitus

The Natural History of Cow’s Milk Allergy

References : Drug Allergy and Drug Hypersensitivity

The New Insight Immunopathophysiology of   Antiphospholipid syndrome

Update Reference : Prevalence, Immunopathohenesis,   Management Urticaria

Hypersensitivity Pneumonitis or Extrinsic Allergic   Alveolitis,Type III-IV Hypersensitivity

Grow Up Clinic Sites

Upadate References Anaphylaxis and Allergy

Reference of Immunopathology, Prevalence and Management   Kawazaki Disease

Update References Probiotic and Allergy

Penyakit Alergi Atopi Dan IgG Anti Helicobacter Pylori

Immunology References: The Future Research Immunology of   Pregnancy

Welcome Speech : Allergy Clinic Online

Rheumatoid arthritis, food, and allergy.

The New Insight Immunopathogenesis Type 2 diabetes   mellitus

Hot Topic Abstract: Allergy and Heart Disease

100 Types of Arthritis, Rheumatic Diseases and Related   Condition

Clinical Aspect of Immunology in Pregnancy

Allergy, Dentinal hypersensitivity and Update Management

All About Allergy Ear-Nose-Throat: Berbagai Artikel   Alergi THT

Clinical Manifestation Immediate Hypersensitivity   Reactions

Allergy to antibiotics in children: Perception versus   reality

The Role Autoimmune in Neurology and Neuropsychiatric   Diseases

Gangguan Buang Air Besar Konstipasi Pada Anak dan Alergi   Makanan

The New Insight Immunological Characterization in Autism   Spectrum Disorders (ASD)

Allergy of the nervous system

Alergi Makanan dan Gangguan Buang Besar

Freedownload WAO White Book on Allergy

Dietery Intervention As A Therapy for Behaviour Problems   in Children With Gastroenterology Allergy

Irritable bowel syndrome, Neurobehaviour Functional and   and the brain-gut

The New Guidelines: Diagnosing and Treating Bacterial or   Viral Rhinosinusitis

Hypersensitivity Reaction and Clinical Aspect

DAFTAR ARTIKEL : Alergi pada Dewasa

Elective penicillin skin testing and amoxicillin   challenge: Effect on outpatient antibiotic use, cost, and clinical outcomes

Allergy Abstract Update: Intravenous immunoglobulin to   treat severe atopic dermatitis in children

Neonatal Autoimmune Diseases: Neonatal autoimmune   thyroid disease

Adenoid hypertrophy and Children With allergic diseases

Clinical Aspect of Type I Hypersensitivity

Clinical Disorders and Clinical Manifestation of Food   Allergy

Future Immunology Diagnostic: Peripheral T cell cytokine   responses for diagnosis tuberculosis.

Classification of Urticaria

Recurrent aphthous stomatitis caused by food allergy.

Sindrom Auriculotemporal atau Sindrom Frey’s dan Alergi   Makanan

Regulatory B cells, allergic diseases and Autoimmune   Diseases.

Toll-like receptors: Future Concepts in Kidney Disease

Intestinal Dendritic Cells in the Pathogenesis of the   Gut and Gastrointestinal disease

The New Concept Pathophysiogy of Anaphylaxis

World Allergy Organization (WAO) Diagnosis and Rationale   for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) Guidelines

The skin barrier, Dermatitis Atopic and Immunology   Factor

Allergy Reference Update: Immunopathigenesis and   Management of Drug Allergy and Drug Hypersensitivity

Association Lowbirth Weight, Prematurity, Asthma and   Allergy

Allergy Update Photo: Angioedema or Quincke’s Edema

The Update Evidance of Food Allergy Diagnosis

The Emerging Role of microRNAs in Human Diseases

References and Bibliography : Drug Allergy

Food allergy and seronegative arthritis: report of two   cases.

References of Otitis, Eustachian tube obstruction and   allergy

Allergy Update Photo : Urticaria In Infant

Juvenile rheumatoid arthritis and milk allergy.

Differential Considerations For Rhinitis and   Rhinosinusitis

Benarkah Aku Alergi Debu ?

The role of allergy in the pathogenesis of recurrent   otitis media and OME

Hot Topic In Allergy : Food Allergy in Asthma, Rhinitis   and Respiratory Disease

Role Interleukin-1 or Toll-like receptor in epilepsy and   seizures.

Hot Topic Allergy: Dietary therapy in eosinophilic   esophagitis

UPDATE REFERENCES: The Future Research and Management of   Transient tachypnea of the newborn

Neuroimmunoendocrinology as a future concept on new   pathogenetic aspects and clinical application.

The New Insight of Recurrent Spontaneous Abortion on   Immunological Origin

Allergy Hot Topic: Allergy, Asthma and Infertility

From atopic dermatitis to asthma: the atopic march

References of adverse drug reactions

World Allergy Week 2012, Children Allergy Clinic Online

Transient Tachypnea of the Newborn May Be an Early   Clinical Manifestation of Wheezing Symptoms

The New Concept of Treatment and Medication Rhinitis   Allergy

Autoimmune Disease of the Inner Ear

The New Perspective Antiphospohlipid syndrome

Atopiclair non steroid topical for Dermatitis

Allergy Update Photo: Atopic Dermatitis in Infant

Allergy Photo Update: Atopic Dermatitis in Children

Folic Acid May Improve Asthma, Allergies

The future concept of innate cellular immune responses   in newborns

Viral Initially Allergy and Asthma

Neonatal and Newborn Autoimmune Diseases

The New Concept Immunopathophysiology of Autism Spectrum   Diseases

The New Insight Pathophysiology Allergic Rhinitis

References : Eye, Immunology and Allergy

Neurofunctional, Behaviour Problems and The   antiphospholipid syndrome (APS)

Basic Immunology: Overview B lymphocytes and Pathology

Types of OFC Oral Food Challenges

The New Insight Differential diagnosis of Food Allergy

References of Oral Food Challenges or Double-Blind   Placebo-Controlled Food Challenges (DBPCFCs),

Cow’s milk allergy as a global challenge

The New Insight Immunopathophysiology of Dengue

Dendritic cells and Human Disease

The New Insight Pathophysiology Hipertension

Immunology and Pathogenesis Dermatitis Atopy

The new insight of immunoregulatory mechanisms of   pregnancy and fetus on systemic immunity

100 Updates Abstract of Children Atopic Dermatitis 2012

Prevention Allergy Rhinitis Recommendation BY ARIA   Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma

Update Reference: Allergy, Intolerance and Gatrointestinal   Disease

Asthma Update References: The Future Research Asthma In   Pregnancy

EFFECTS OF DIET AND NUTRITION ON PSYCHOLOGICAL OR   PSYCHONEUROPHYSIOLOGICAL FUNCTIONING IN CHILDREN

The New Insight Role Gastroesophageal Reflux in Asthma

Time Table History of Allergy

Allergic Conjunctivitis, Rhinitis and Asthma: One   Disease?

Neonatal Autoimmune Diseases: Neonatal polymyositis and   dermatomyositis

Allergy Pediatric Reference : Food Allergy, Plant food   allergies, Food Intolerance and Anaphylaxis

Pembagian Subklasifikasi Mayor Reaksi Simpang Makanan

Anak Sulung Lebih Mudah Terkena Alergi

References : Food Allergy and Stomatitis, Oral   Lekoplakia

Update Allergy Photo: Infant Eczema Atopic Dermatitis   (3)

Kenali 20 Penyakit Defisiensi Imun Pada Anak

Allergic vasculitis caused by food allergy

Dermatitis Alergi sebagai Faktor Resiko Utama Paronikia

Allergy Photo: Teeth Discolouring In Allergies Children   with Gastrointestinal manifestation

Hot Topic Pediatric Reference: Allergy, Diet, ADHD and   Hyperkinetic Disorder

Food Allergy Update 2012: Allergic mastocytic   gastroenteritis and colitis in chronic abdominal pain and gastrointestinal   dysmotility.

Allergy update Photo: Atopic Dermatitis Trigger By Viral   Infection (URI)

Respiratory and allergic diseases: from upper   respiratory tract infections to asthma.

Aspek klinis dan Aspek Biologis CXCL10 atau IP-10

The New Perspective Immunopathophysiology of Human   Immunodeficiency Virus (HIV)

Asthma References Update: The Future Research of   Maternal-Pregnancy Asthma and Allergy

Association of allergy, infertility and abortion

Schnitzler Syndrome, Clinical Manifestation and   Management

References of Cortisol, hormone and allergy

Nail Profile in Children With Atopic Dermatitis

The Future Concept Therapies of Food Allergy

The Conection of Food Allergy and Stuttering

Sleep deprivation, allergy symptoms, and negatively   reinforced problem behavior

Pearls and Pitfalls The Diagnosis of Food Allergy

Sign and Symptom Allergy in Newborn and Neonate

Allergy Abstract: Dientamoeba fragilis masquerading as   allergic colitis.

Upadate Reference: Conjunctivitis, Allergy and Future   Management

Ocular disorders and Antiphospholipid syndrome

AUTISM ABSTRACT: Immunological characterization in   children with autism spectrum disorders (ASD)

Epicutaneous challenge of orally immunized mice   redirects antigen-specific gut-homing T cells to the skin

The Role of Dendritic Cells In Allergy Diseases

Role Neuroendocrine in Autouimmune Diseases and   Inflammantory Diseases

Update References Food Allergy 2012

Current Concept Management of Recurrent spontaneous   abortion with Immunopathological Intervention

The New Insight Immunopathophysiology of Measles

Allergy Update Photo: Atopic dermatitis in Children

Stomatitis in Children With Allergy

Update Allergy Photo: Infant Eczema Atopic Dermatitis   (2)

Neurologic manifestations of allergic disease

The New Perspective of Pathophysiology and Immunology   Profile in Chronic Rhinosinusitis.

Prevalence of IgE-Mediated Food Allergy Among Children   With Atopic Dermatitis

References : Dermatitis, Food Allergy and Pathogenesis

Celiac Disease: Fertility and Pregnancy

RECOMMENDATION ABSTRACT : Food allergy and eosinophilic   esophagitis

Update Abstract: Autoimmune, Postinfectious, Neurology   and Neuropsychiatric Disorders

Update 100 References Of Allergy 2012

Update Allergy Photo: Atopic Dermatitis In Children

The impact of Helicobacter pylori on atopic disorders in   childhood.

Update Definitions of food allergy, food, and food   allergens

ABSTRACT WATCH : The New References of Food Allergy   2011-2012

The relationship atopic dermatitis and urinary tract   infection.

Clinical Aspect of Toll-like receptors (TLRs)

The Future and Current Allergy Immunology 2012 by Widodo   Judarwanto

Allergy Update: Cow’s Milk Allergy, Acidic Reflux and   Gastroesophageal Reflux Disease

Update References and Bibliography Cow Milk Allergy

Clinical Manifestation of Gastrointestinal Food   Allergies

Caesarian Allergy Increased Risk Asthma and Allergic   Rhinitis

Allergy Hot Topic: Cytokines, Brain and Implication   Clinical Psychiatry

Allergy Update 2012: Acute rhinosinusitis and antibiotic   overusage

Paparan Elektromagnet Sebabkan Asma Pada Anak

Hot Topic Allergy Abstract : Caries is Associated with   Asthma and Epilepsy

ABSTRACT UPDATE : Allergic march in children, from   rhinitis to asthma: Management, indication of immunotherapy

The Allergic March- Children who start with Atopic   Dermatitis and go on to have Asthma and Allergic Rhinitis

Allergy Update Abstract: The new criterion of ARIA   severity classification: Allergic rhinitis and quality

The New Insight of Immune function and exercise.

Probiotic, Prevention and Management Allergy and Asthma   In Children

Allergy Update 2012: Tracheal schwannoma and bronchial   asthma.

Asthma Update 2012: Interleukin-4 in Asthma

I have food allergies : Please don’t feed me

References: Associated Allergy, Atopy, BMI and Obesity

Diagnostic Allergy Update 2011 : Molecular diagnosis of   cow’s milk allergy.

Effect of Lactobacillus paracasei ST11 on a nasal provocation   test with grass pollen in allergic rhinitis

Type and Differential diagnosis of Rhinitis

Asthma and specific cardiovascular conditions.

NEW LINK : CHILDREN ALLERGY CENTER ONLINE

Allergy References: Atopy, Rhinitis Allergy, Otitis and   Ear Diseases

Ashtma Allergy Update 2012: Risk Factors for Wheezing   Disorders in Infants

Clinical Manifestation of Legumes Allergy In Children

Lupus References Update: The Future research strategies   to manage systemic lupus erythematous

Gastroesophageal Reflux and Gastrointestinal   Manifestations of Cow’s Milk Protein Allergy

Prahara Besar Epidemi Alergi Melanda Eropa Tahun 2015

Allergy Abstract: Related Rhinosinusitis and   Bronchiectasis

Paparan binatang peliharaan sejak dini, justru   mengurangi resiko alergi ?

Hot Topic in Allergy: Allergy and Irritable Bowel   Syndrome

Hot Topic: Related Schizophrenia, Asthma and Atopic   Disorders

Immunology Update: Pathogenesis of spondyloarthritis:   autoimmune or autoinflammatory?

Update Pathogenesis Food Allergy

Update References of Immune Response

Clinical Aspect of Type IV Hypersensitivity

Free Allergy Consultation: Konsultasi Alergi Online by   Children Allergy Online Clinic

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI:

.

ARTIKEL FAVORIT:

.
.
.

Current Allergy Immunology by Widodo Judarwanto

Gejala Alergi pada bayi dan anak justru paling sering dipicu oleh adanya infeksi khususnya infeksi virus. Tetapi sebaliknya saat itu sering dianggap karena alergi susu atau alergi makanan. Gejala infeksi virus pada bayi khususnya sulit dikenali karena mirip gejala alergi. Reaksi terhadap alergi susu atau alergi makanan biasanya relatif ringan, namun begitu dipicu infeksi manifestasinya lebih berat. Pemicu alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi dihindari. Widodo Judarwanto 2012
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.

 

 

Supported by

www.allergycliniconline.com

ALLERGY ONLINE CLINIC FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT Yudhasmara Foundation www.allergycliniconline.com GROW UP CLINIC I JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021) 5703646 – 44466102 GROW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 29614252 http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic Working together support to health of all by clinical practice, research and educations. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: ***Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician Editor: Audi Yudhasmara email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online

Curriculum Vitae Widodo Judarwanto
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved

Waspadai Efek Samping Penggunaan Steroid Pada Penderita Alergi

Waspadai Efek Samping Penggunaan Steroid Pada Penderita Alergi

Kortikosteroid dikenal mempunyai efek yang kuat sebagai anti-inflamasi pada penyakit artritis reumatoid, asma berat, asma kronik, penyakit inflamasi kronik dan berbagai kelainan imunologik. Oleh karena efek anti inflamasi dan sebagai immunoregulator, kortikosteroid memegang peranan penting pada pengobatan medikamentosa penyakit alergi baik yang akut maupun kronik. Tetapi di samping manfaatnya, karena efek sampingnya yang banyak juga menyebabkan penggunaan kortikosteroid ini harus tepat guna dan tepat cara.

Kortikosteroid alamiah dan buatan secara garis besar terbagi dalam mineralokortikoid dan glukokortikoid. Walaupun pada saat ini pada preparat yang baru semakin diusahakan untuk hanya mempunyai efek glukokortikoid, tetap masih mempunyai efek minerelokortikoid walaupun sedikit.

Walaupun tampaknya ada bermacam efek pada fungsi fisiologik, kortikosteroid tampaknya mempengaruhi produksi protein tertentu dari sel. Molekul steroid memasuki sel dan berikatan dengan protein spesifik dalam sitoplasma. Kompleks yang terjadi dibawa ke dalam nukleus, lalu menimbulkan terbentuknya mRNA yang kemudian dikembalikan ke dalam sitoplasma untuk membantu pembentukan protein baru, terutama enzim, sehingga melalui jalan ini kortikosteroid dapat mempengaruhi berbagai proses. Kortikosteroid juga mempunyai efek terhadap eosinofil, mengurangi jumlah dan menghalangi terhadap stimulus. Pada pemakaian topikal juga dapat mengurangi jumlah sel mast di mukosa. Kortikosteroid juga bekerja sinergistik dengan agonis β2 dalam menaikkan kadar cAMP dalam sel.

Indikasi untuk penyakit alergi

  • Indikasi utama adalah untuk reaksi alergi akut berat yang dapat membahayakan kehidupan, seperti status asmatikus, anafilaksis, dan dermalitis exfoliativa. Selain itu, juga untuk reaksi alergi berat yang tidak membahayakan kehidupan tetapi sangat mengganggu, misalnya dermatitis kontak berat, serum sickness, dan asma akut yang berat. Indikasi lain adalah untuk penyakit alergi kronik berat sambil menunggu hasil pengobatan konvensional, atau untuk mengatasi keadaan eksaserbasi akut pada pasien yang memakai kortikosteroid dosis rendah jangka panjang, harus dinaikkan dosisnya bila terjadi eksaserbasi.
  • Oleh karena pengobatan kortikosteroid, terutama dengan jangka panjang, menimbulkan banyak efek yang tidak diinginkan maka sebelum memulai pengobatan harus dipertimbangkan untung dan ruginya terlebih dahulu.
  • Pada asma akut gunakan kortikosteroid dengan kombinasi obat lain secara tepat waktu, sesuai dengan konsep inflamasi yang terjadi pada asma

Penggunaan kortikosteroid pada asma

Lokasi Stadium asma Penggunaan kortikosteroid
Rumah sakitBagian daruratDi rumahDi rumah Status asmatikusAsma akutKeluhan sesakAsma berulangPermulaan ISPA YaYa
  • Catat dengan baik kondisi alergi atau imunologi apa yang memberikan respons baik terhadap kortikosteroid sebelumnya. Kortikosteroid hanya dipakai bila obat konvensional tidak menolong, jadi untuk pasien asma berikan dulu obat metilxantin dan golongan adrenergik. Selain itu hindari penggunaan kortikosteroid pada pasien yang sedang mendapat vaksin virus.
  • Gunakan kortikosteroid dengan dosis serendah mungkin yang dapat mengontrol penyakitnya Tujuan untuk meringankan penyakit lebih dapat diterima daripada untuk menghilangkan gejala. Sedapat mungkin gunakan kortikosteroid yang bekerja dalam jangka pendek (prednison, prednisolon, dsb), dan untuk pemakaian jangka panjang kalau dapat gunakan secara topikal misalnya krem untuk kelaian kulit dan inhalasi untuk pengobatan asma kronik. Batasi penggunaan kortikosteroid untuk 5-7 hari saja, atau bila perlu terapi jangka panjang berikan dosis intermiten selang sehari pada pagi hari. Kortikosteroid yang diberikan 3-4 kali sehari, atau pada malam hari, lebih menekan fungsi kelenjar adrenal daripada yang diberikan sehari sekali atau pagi hari.
  • Komplikasi yang mungkin terjadi untuk pemakaian jangka panjang harus diawasi secara ketat misalnya glaukoma, katarak, gastritis, osteoporosis, dan sebagainya. Jangan menghentikan pemberian kortikosteroid jangka panjang dan dosis tinggi secara mendadak karena akan menyebabkan insufiensi kelenjar supraadrenal dan eksaserbasi penyakit yang sedang diobati.
  • Protokol yang dianjurkan untuk menghentikan pemberian kortikosteroid jangka panjang adalah sebagai berikut. Mulai pengurangan dengan hati-hati (misalnya 2,5-5 mg prednison tiap 3-7 hari) dan awasi keadaan penyakitnya. Bila terjadi peningkatan aktivitas penyakit naikkan kembali dosisnya, kemudian coba lagi mengurangi dengan dosis yang lebih rendah. Usahakan sampai dapat diberikan dosis sekali sehari pada pagi hari dan selanjutnya diberikan setiap 2 hari. Tambahkan dosis kortikosteroid bilamana pasien sedang mendapat stres, untuk stres ringan (gastroenteritis, influensa, otitis media, faringitis, atau tindakan bedah ringan) cukup ditambahkan selama 2 hari, sedang untuk stres berat (trauma atau tindakan bedah besar) tambahkan dosis kortikosteroid untuk 3-4 hari atau sampai stresnya teratasi.

Efek Samping Steroid

Sebagian besar penelitian dilakukan pada efek samping negatif dari steroid dan berdasarkan laporan kasus, penelitian retrospektif atau prospektif besar telah dilakukan . Berikut adalah daftar dari beberapa diketahui potensi efek samping penggunaan steroid .

Kortikosteroid oral atau injeksi adalah obat yang digunakan untuk mengobati peradangan di dalam tubuh . Ketika diambil dalam bentuk lisan atau disuntikkan , rute administrasi disebut ” sistemik . ” Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit , seperti lupus eritematosus sistemik , rheumatoid arthritis , dan penyakit autoimun lainnya . Steroid sistemik juga digunakan untuk mengobati serangan asma , dan pada kesempatan , parah gejala rhinitis alergi . Contohnya termasuk prednisone , methylprednisolone ( Medrol paket dosis ) , dan suntik triamsinolon ( Kenalog ) .

Ketika orang berpikir tentang efek samping steroid , itu biasanya berarti efek samping steroid sistemik . Sementara steroid sistemik sering diperlukan dan obat-obatan yang menyelamatkan jiwa diperlukan untuk mengobati peradangan, mereka tidak datang tanpa efek samping . Kebanyakan efek samping dari penggunaan jangka pendek, . Namun penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan efek samping tambahan

Efek Samping Jangka Pendek

  • Sebagaian besar orang menerima obat golongan steroid dan mengalami efek samping hanya sementara . Hal ini mungkin termasuk peningkatan nafsu makan , sulit tidur (insomnia ) , perubahan suasana hati dan perilaku , flushing ( kemerahan ) pada wajah , dan berat badan jangka pendek karena retensi air meningkat . Efek samping ini biasanya membaik setelah beberapa hari setelah steroid telah dihentikan.
  • Orang dengan kondisi medis yang mendasari mungkin juga melihat efek samping lainnya. Mereka dengan diabetes mellitus dapat melihat peningkatan dalam pembacaan gula darah mereka, orang-orang dengan tekanan darah tinggi mungkin melihat tekanan darah mereka pembacaan naik  Orang dengan glaukoma bisa memiliki peningkatan tekanan di dalam mata mereka , orang-orang dengan gagal jantung kongestif dapat menahan air dan memiliki memburuknya kondisi ini . Orang dengan penyakit kronis yang mendasari harus diikuti oleh dokter mereka saat mengambil steroid sistemik .

Efek Samping Jangka Panjang Steroid sistemik

  • Ketika steroid sistemik digunakan untuk jangka waktu yang lama , atau bila steroid yang diambil pada beberapa kesempatan , efek samping yang lebih serius dapat terjadi . Hal ini untuk alasan ini bahwa dosis dan durasi steroid sistemik harus diminimalkan bila memungkinkan . Beberapa efek samping dapat dikurangi dengan mengambil steroid sistemik setiap hari , bukan setiap hari , bahkan jika dosis total adalah sama . Banyak efek samping yang reversibel jika steroid dihentikan , sedangkan efek samping lain mungkin permanen .
  • Efek samping dari penggunaan steroid jangka panjang meliputi : glaukoma,  katarak, Tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes melitus, kegemukan, Gastrpoesephageal (GERD), osteoporosis, miopati, kenaikan beberapa jenis infeksi dan  sindrom Cushing
  • Orang yang memakai steroid sistemik jangka panjang harus dimonitor secara seksama untuk penyakit di atas, dan harus mengambil obat-obatan untuk mencegah osteoporosis . Obat-obatan ini mungkin termasuk kalsium tambahan dan vitamin D , bersama dengan obat-obatan untuk mencegah kehilangan tulang yang disebut bifosfonat . Contoh bifosfonat termasuk alendronate ( Fosamax ) , risedronate ( Actonel ) dan ibandronate ( Boniva ) . Sering mengukur kepadatan mineral tulang juga harus dilakukan pada orang yang memakai steroid sistemik jangka panjang.

Efek Samping Steroid dalam Tubuh

Efek samping steroid pada tubuhmanusia sangat banyak dan dapat menyebabkan beberapa efek samping yang serius termasuk kanker , tetapi banyak pengguna olahraga memilih untuk mengabaikan informasi tentang efek samping , bahkan sampai menggunakan alasan ” hanya penyalahgunaan obatnya yang menyebabkan efek samping ” tetapi setiap obat yang mengubah homeostasis tubuh akan berpengaruh .

Melihat berbagai dampak pada organ tubuh secara lebih rinci kita dapat melihat bagaimana steroid dapat mempengaruhi setiap bagian tubuh yang berbeda :

  • Otak : Penelitian telah menunjukkan pola antara kadar testosteron tinggi dan perilaku agresif , yang sering dianggap sebagai pengguna yang terlibat dalam tindak kekerasan . Seringkali steroid telah digunakan sebagai alasan untuk perilaku seseorang agresif . Pengguna Dosis tinggi juga telah berpengaruh pada sindrom psikotik dan tingkat kecemasan tinggi. Efek lainnya yang muncul adalah , gangguan tidur , perasaan euforia , tingginya tingkat paranoia , berbagai tahap depresi , dengan beberapa pengguna mengalami perubahan suasana hati yang ekstrim , serta perubahan dalam kepribadian mereka . Sejumlah besar pengguna menjadi tergantung pada penggunaan steroid yang kemudian dapat menyebabkan kecanduan
  • Wajah : Hasil penggunaan steroid dalam tingkat tinggi retensi air ( edema ) yang mengarah ke pengguna menjadi ” bulat menghadapi ” dengan pipi bengkak . Pada wanita laporan menunjukkan efek dari pertumbuhan rambut wajah cukup umum , bau mulut adalah efek yang cukup umum seperti suara perempuan menjadi serak oleh pendalaman suara . Steroid juga sering mempengaruhi kulit wajah dan tubuh dengan menyebabkan jerawa
  • Mata : penggunaan jangka panjang steroid benar-benar dapat merusak mata , sehingga infeksi mata , katarak atau glaukoma
  • Rambut : Pola kebotakan pada pria adalah umum di kedua perempuan dan laki-laki karena konversi tingkat tinggi testosteron menjadi dihidrotestosteron atau DHT , menyebabkan folikel rambut menyusut , yang hanya kemudian menghasilkan rambut yang sangat halus . Akhirnya dengan penggunaan steroid terus folikel rambut mati menyebabkan kebotakan permanen.
  • Sistem Jantung Kardiovaskular  : Bagian ini pengguna steroid harus paling peduli , tetapi biasanya memilih untuk mengabaikan sampai peristiwa kardiovaskular yang serius terjadi . Penggunaan steroid menyebabkan penyakit jantung dan menjadi jelas karena kenaikan tinggi dalam kadar kolesterol total , menyebabkan penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah yang juga dapat menyebabkan stroke . Juga ditampilkan adalah penurunan tingkat kolesterol baik ( HDL ) dan peningkatan kolesterol jahat ( LDL ) . Tekanan darah dikenal untuk meningkatkan dan bekuan darah dalam pembuluh darah mengganggu aliran darah menyebabkan kerusakan pada otot jantung yang menyebabkan serangan jantung . Pembesaran jantung , pendahulu untuk gagal jantung , tekanan darah tinggi , aterosklerosis atau pengerasan arteri , pendahulu untuk penyakit jantung koroner , kadar kolesterol tinggi , jantung berdebar-debar , serangan jantung , stroke, anafilaksis dan syok septik
  • Sistem Reproduksi : Pada laki-laki , kelebihan testosteron diubah menjadi hormon estrogen pada wanita yang menyebabkan perkembangan karakteristik perempuan. Misalnya , pria mengalami pembesaran prostat , kemandulan , disfungsi seksual , kebotakan , pembesaran payudara , dan atrofi testis . Kelebihan testosteron pada wanita memiliki efek sebaliknya , menyebabkan ketidakteraturan menstruasi , pendalaman suara , kebotakan , kerusakan janin , pertumbuhan rambut pada bagian lain dari tubuh , disfungsi seksual , kemandulan , pengurangan payudara , dan pembengkakan genitalia .
  • Organ Vital : penggunaan steroid dalam jumlah banayak dan berkepanjangan  secara permanen dapat merusak hati , menyebabkan kanker , sakit kuning , pendarahan , dan hepatitis . Steroid dapat merusak ginjal menyebabkan batu ginjal dan penyakit ginjal
  • Perut : tanda-tanda normal masalah dengan lambung dari penggunaan steroid meliputi perasaan yang membengkak , perasaan mual yang mengarah ke serangan muntah darah kadang-kadang menjadi jelas dalam muntah yang disebabkan oleh iritasi pada lapisan lambung dan meningkatkan asam lambung dengan rendah tingkat lendir lambung
  • Ginjal : Ginjal penting untuk penghapusan bahan limbah dari darah dan pengaturan kadar garam dan air . Fungsi penting lain dari ginjal adalah pengaturan tekanan darah, tekanan darah tinggi merusak pembuluh darah dan sistem penyaringan ginjal . Terjadinya masalah ginjal terjadi terutama dengan penggunaan steroid oral dengan penekanan faktor pembekuan darah yang mengarah ke peningkatan pembekuan darah berikut pemotongan waktu atau cedera . Ginjal harus bekerja lebih keras dengan penggunaan steroid lisan karena meningkatkan kebutuhan untuk menyaring darah . Pengguna steroid juga biasanya resor untuk ultra asupan protein tinggi , kadang-kadang jauh melebihi asupan normal yang terlibat dengan latihan beban yang dapat menyebabkan batu ginjal . Batu ginjal dapat memblokir pembukaan saluran kemih menyebabkan masalah dengan ekskresi urin . Tekanan darah tinggi juga dapat menyebabkan masalah pada ginjal dengan merusak pembuluh darah dengan menyebabkan penebalan dan menyempit pembuluh darah yang mengarah ke berkurangnya pasokan darah dan filtrasi . Produk Beracun seperti steroid menempatkan ginjal di bawah tekanan dan dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dan tekanan darah tinggi . Masalah ginjal yang tercermin dengan nyeri punggung bawah , meningkat pembengkakan pada bagian bawah kaki dan pergelangan kaki , dan demam
  • Hati : Hati adalah organ terbesar dari tubuh digunakan untuk menyaring racun berbahaya dari darah dan untuk penyimpanan nutrisi tertentu seperti vitamin / mineral . Hal ini juga penting untuk tingkat pengelolaan bahan kimia seperti protein , kolesterol , dan gula. Hati juga digunakan untuk produksi empedu untuk membantu pencernaan makanan.  Berdasarkan studi estrogen dalam 1970-an dan 1980-an , steroid dapat menyebabkan tumor tertentu dan kerusakan hati. Penggunaan steroid telah terbukti menyebabkan kerusakan hati ireversibel dan kanker. Steroid oral sulit bagi hati untuk metabolisme menyebabkan penurunan kemampuan hati untuk membersihkan produk-produk limbah. Beberapa steroid palsu telah dikenal untuk membawa semua jenis bakteri dan virus yang menyebabkan fungsi hati yang merugikan. Hepatocellular penyakit kuning yang jelas oleh menguningnya kulit dan mat , dapat disebabkan oleh kelainan fungsi hati sebagai hati tidak dapat secara efektif menyaring darah.
  • Dada : Perkembangan payudara ( Gynocomastia ) dari penggunaan steroid adalah sangat umum dan efek samping yang sering terlihat dari siklus steroid jangka panjang atau penggunaan steroid dosis tinggi , menyebabkan pembentukan jaringan payudara yang dimulai sebagai benjolan terlihat di bawah puting yang biasanya membutuhkan intervensi bedah . Payudara pengguna steroid perempuan benar-benar dapat menyusut ukurannya
  • Tulang : Penggunaan steroid oleh remaja laki-laki di awal dua puluhan yang belum berhenti tumbuh dapat mengganggu pertumbuhan tulang yang mengarah ke yang lebih pendek tinggi di masa dewasa karena penutupan dini piring pertumbuhan epifisis . Nyeri tulang juga dapat menjadi efek samping dari penggunaan steroid
  • Otot dan Tendon : Penggunaan steroid bisa membuat seseorang merasa lebih kuat dari mereka sebenarnya , sehingga mencoba untuk mengangkat beban lebih berat daripada tubuh mereka sebenarnya mampu , yang dapat menyebabkan air mata otot . Otot bisa kuat lebih cepat daripada kekuatan tendon maka kemungkinan besar pecah tendon mungkin terjadi
  • Kulit : Penggunaan steroid dapat memiliki efek pada kulit pengguna dengan mempengaruhi pori-pori kulit dan menyebabkan kekasaran dalam tekstur kulit . Kondisi kulit lainnya yang sering terlihat adalah jerawat , kulit berminyak merah dengan jerawat di wajah dan punggung . Stretch mark juga bisa muncul karena pertumbuhan yang cepat dari otot atau penipisan kulit . Sebagaimana disebutkan di atas steroid mempengaruhi hati dan efek samping adalah penyakit kuning, ini menjadi jelas oleh menguningnya kulit dan mata
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh : Sebuah fungsi kekebalan tubuh terganggu dapat terjadi dengan penggunaan steroid dengan masalah yang terjadi setelah penghentian dan efek menjadi lebih terlihat
  • Edema : Penampilan yang membengkak dan disebabkan oleh akumulasi cairan yang banyak dilihat sebagai pergelangan kaki bengkak dan jari
  • Kelenjar prostat : Kelenjar prostat adalah khusus untuk laki-laki dan terletak tepat di bawah kandung kemih , fungsi utamanya adalah produksi cairan prostat , komponen cairan mani dan juga untuk menjaga aktivitas sperma . Steroid diketahui menyebabkan pembesaran kelenjar prostat , dan sebagai kelenjar bersujud mengelilingi uretra setiap pembengkakan sujud dapat menyebabkan gangguan pada aliran urine . Pria harus dibuat sadar bahwa setiap perubahan dalam kelenjar prostat juga dapat mempengaruhi aktivitas seksual . Efek lain yang bisa terjadi adalah sperma yang abnormal dan jumlah sperma menurun
  • Keracunan Darah : Banyak pengguna steroid sering takut untuk pergi ke pertukaran jarum suntik untuk mendapatkan pasokan jarum steril dalam kasus mereka diberi label pecandu , sering mengakibatkan penggunaan , atau berbagi jarum suntik steril rokok, yang dapat menyebabkan keracunan darah dengan risiko tinggi infeksi dan penyakit menular . Tempat suntikan pengguna juga dapat menjadi bengkak dan sakit dan dapat menyebabkan abses yang kemudian dapat menyebabkan kebutuhan intervensi medis yang menyakitkan
  • Impotensi : Mengambil steroid akan menyebabkan testis untuk mengurangi fungsi normal . Ketika menghentikan suplementasi testosteron dibutuhkan waktu untuk kelenjar pituitari untuk sinyal testis untuk sekali lagi mulai testosteron manufaktur . Dalam istilah atau tinggi testosteron dosis panjang menggunakan testis benar-benar dapat menghentikan produksi atau dapat benar-benar atrofi yang dapat menyebabkan penundaan yang lama dalam testis awal manufaktur testosteron secara alami . Impotensi terjadi setelah penghentian steroid , dan penggunaan obat jangka panjang menyebabkan kurangnya ereksi
  • Maskulinisasi Hal ini lebih sering terjadi pada wanita dan biasanya karena peningkatan testosteron . Efek samping kebanyakan ireversibel meliputi peningkatan rambut wajah , – pola laki-laki kebotakan , peningkatan jerawat , perubahan tekstur kulit , pertumbuhan rambut wajah dan tubuh , agresivitas , dan lekas marah
  • Feminisasi Feminisasi hanya terjadi pada pria dan terjadi ketika testosteron yang berlebihan diubah menjadi hormon estrogen pada wanita . Hal ini menyebabkan pembentukan payudara , penurunan jumlah sperma , penurunan libido , testis menyusut , massa otot lembut dan impotensi . Dengan terapi obat , efek samping dapat dibalik
  • Kardiovaskular Pengguanaan steroid meningkatkan tingkat kolesterol dalam tubuh dengan meningkatkan ” kolesterol jahat , ” yang dapat menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah – meninggalkan pengguna rentan terhadap penyakit jantung dan stroke . Selain itu, steroid memicu peningkatan pesat dalam berat badan dan kenaikan atas tekanan darah , keduanya meninggalkan pengguna lebih rentan terhadap peristiwa kardiovaskular . Efek samping ini dapat dibalik sejauh jika mereka tertangkap sebelum seseorang memiliki serangan jantung atau stroke
  • Pertumbuhan Terganggu Hal ini merupakan efek samping penting untuk menyebutkan untuk atlet sekolah tinggi karena steroid dapat menyebabkan penutupan dini lempeng pertumbuhan , menyebabkan pertumbuhan terhambat
  • Kulit Kulit adalah organ terbesar dari tubuh manusia dan merupakan organ yang paling sensitif terhadap steroid – terutama pada wanita . Pori-pori besar dan tumbuh masalah jerawat yang tidak dibantu oleh khas obat over-the -counter dapat terjadi . Stretch mark juga menjadi menonjol , meskipun mereka tidak secara langsung disebabkan oleh steroid . Mereka berasal dari kenaikan berat badan yang cepat dan pertumbuhan otot yang membawa steroid
  • Neuropsikiatri Efek samping berupa gangguan Neuropsikiatrik sebagian besar bukan hanya didasarkan pada laporan kasus , tetapi telah dipelajari oleh dua psikiater Harvard menonjol, Drs . Harrison Paus dan Kurt Brower dari Rumah Sakit McLean di Belmont. Pada penelitian kecil menunjukkan bahwa penyalahgunaan jangka panjang dapat meniru gangguan bipolar . Gejala akan mulai dengan mania yang mengarah ke agresivitas , perilaku sembrono dan kebutuhan berkurang untuk tidur juga dikenal sebagai ” Roid rage “. Beberapa atlet  profesional bisa mencari efek samping terakhir ini , karena bisa menimbulkan motivasi untuk bekerja lebih keras dan tingkat yang lebih tinggi agresi saat bermain olahraga . Hal ini hampir selalu diikuti oleh depresi mendalam yang kemudian dapat menyebabkan perilaku bunuh diri . Ada aspek psikologis diduga kecanduan untuk penggunaan steroid yang mengarah atlet menjadi kecanduan cara mereka merasa pada steroid dan cara mereka melihat – mungkin menyebabkan penyalahgunaan steroid lanjutan setelah mereka melakukan olahraga berlebihan.

Supported by

ALLERGY ONLINE CLINIC FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT Yudhasmara Foundation htpp://www.allergyclinic.wordpress.com/ htpp://growupclinic.com GROW UP CLINIC I JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021)  5703646 – 44466102 GROW UP CLINIC II  MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 97730777 http://growupclinic.com  http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967   Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitaeCreating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto  www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, Allergy Online Clinic Information Education Network. All rights reserved

Bahaya Efek Samping Penggunaan Salep Alergi Kortikosteroid

Bahaya Efek Samping Penggunaan Salep Alergi Kortikosteroid

Pemberian obat alergi untuk penderita alergi bukan jalan keluar utama yang terbaik. Pemberian obat jangka panjang adalah bentuk kegagalan mengidentifikasi dan menghindari penyebab.

Kortikosteroid topikal atau obat alergi dari golongan steroid yang berbentuk salep atau cream masih memegang peran besar dalam inflamasi kulit khususnya pengobatan alergi pada kulit. Steroid topikal adalah bentuk topikal kortikosteroid. Steroid topikal adalah obat topikal yang paling sering diresepkan untuk pengobatan ruam, eksim dermatitis, dan. Steroid topikal memiliki sifat anti-inflamasi, dan diklasifikasikan berdasarkan kemampuan vasokonstriksi. Ada banyak produk steroid topikal. Semua persiapan di kelas masing-masing memiliki sifat anti-inflamasi yang sama, tetapi dasarnya berbeda dalam dasar dan harga. Namun ada kekhawatiran yang cukup besar, terkait efek samping. Dua yang terbesar adalah penipisan kulit dan efek sisitemik yaitu supresi HPA-axis dan sindrom Cushing.

Kortikosteroid adalah hormon yang dihasilkan oleh korteks adrenal. Hormon ini dapat mempengaruhi volume dan tekanan darah, kadar gula darah, otot dan resistensi tubuh. Berbagai jenis kortikosteroid sintetis telah dibuat dengan tujuan utama untuk mengurangi aktivitas mineralokortikoidnya dan meningkatkan aktivitas antiinflamasinya,misalnya deksametason yang mempunyai efek antiinflamasi 30 kali lebih kuat dan efek retensi natrium lebih kecil dibandingkan dengan kortisol.

Kortikosteroid merupakan derivat dari hormon kortikosteroid yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon ini memainkan peran penting pada tubuh termasuk mengontrol respon inflamasi. Kortikosteroid terbagi menjadi dua golongan utama yaituglukokortikoid dan mineralokortikoid. Golongan glukokortikoid adalah kortikosteroidyang efek utamanya terhadap penyimpanan glikogen hepar dan khasiat anti-inflamasinyanyata, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit kecil atau tidak berarti. Prototip untuk golongan ini adalah kortisol dan kortison, yang merupakan glukokortikoid alam. Terdapat juga glukokortikoid sintetik, misalnya prednisolon,triamsinolon, dan betametason.

Golongan mineralokortikoid adalah kortikosteroid yangefek utamanya terhadap keseimbangan air dan elektrolit, sedangkan pengaruhnya terhadap penyimpanan glikogen hepar sangat kecil. Prototip dari golongan ini adalah desoksikortikosteron. Umumnya golongan ini tidak mempunyai khasiat anti-inflamasiyang berarti, kecuali 9 α-fluorokortisol, meskipun demikian sediaan ini tidak pernah digunakan sebagai obat anti-inflamasi karena efeknya pada keseimbangan air danelektrolit terlalu besar.

Berdasarkan cara penggunaannya kortikosteroid dapat dibagi dua yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal. Kortikosteroid topikal adalah obat yang digunakan di kulit pada tempat tertentu. Merupakan terapi topikal yang memberi pilihan untuk para ahli kulit dengan menyediakan banyak pilihan efek pengobatan yang diinginkan, diantaranya termasuk melembabkan kulit, melicinkan, ataumendinginkan area yang dirawat

Karena risiko efek samping, banyak penelitian dilakukan untuk mencari derivate baru kortikosteroid, dengan tingkat keberhasilan bervariasi. Yang diinginkan tentunya obat dengan daya larut lemak lebih baik, aksi yang lebih terlokalisir, dan terbebas efek samping sistemik. Penelitian yang relatif baru menunjukkan bahwa derivate halogenasi dari androstan menunjukkan harapan. Fluticasone adalah salah satu kortikosteroid sintestis yang dikembangkan dari modifikasi struktur 19-carbon androstane.

Berbagai jenis steroid topikal atau salep steroid di antaranya adalah hydrocortisone, Clobetasol propionate 0.05% (Dermovate), Betamethasone dipropionate 0.05% (Diprolene), Halobetasol proprionate 0.05% (Ultravate, Halox), Diflorasone diacetate 0.05% (Psorcon). Golongan yang poptensinya di bawahnya adalah Fluocinonide 0.05% (Lidex), Halcinonide 0.05% (Halog), Amcinonide 0.05% (Cyclocort), Desoximetasone 0.25% (Topicort). Sedangkan potensinya di tingkat ke tiga adalah Triamcinolone acetonide 0.5% (Kenalog, Aristocort cream), Mometasone furoate 0.1% (Elocon ointment), Fluticasone propionate 0.005% (Cutivate) dan Betamethasone dipropionate 0.05% (Diprosone). Di tingkat ke IV adalah Fluocinolone acetonide 0.01-0.2% (Synalar, Synemol, Fluonid), Hydrocortisone valerate 0.2% (Westcort), Hydrocortisone butyrate 0.1% (Locoid), Flurandrenolide 0.05% (Cordran), Triamcinolone acetonide 0.1% (Kenalog, Aristocort A ointment) dan Mometasone furoate 0.1% (Elocon cream, lotion). Di tingkat ke V  di antaranya adalah Triamcinolone acetonide 0.1% (Kenalog, Aristocort,kenacort-a vail, cream, lotion), Fluticasone propionate 0.05% (Cutivate cream), Desonide 0.05% (Tridesilon, DesOwen ointment), Fluocinolone acetonide 0.025% (Synalar, Synemol cream) dan Hydrocortisone valerate 0.2% (Westcort cream). Pada tingkat ke VI adalah Alclometasone dipropionate 0.05% (Aclovate cream, ointment), Triamcinolone acetonide 0.025% (Aristocort A cream, Kenalog lotion), Fluocinolone acetonide 0.01% (Capex shampoo, Dermasmooth) atau Desonide 0.05% (DesOwen cream, lotion). Pada kelompok Group VII atau kelas terlemah dari steroid topikal. Memiliki permeabilitas lipid yang lemah, dan tidak dapat menembus membran mukosa baik adalah Hydrocortisone 2.5% (Hytone cream, lotion, ointment), Hydrocortisone 1%.

Tidak seperti androstone original, fluticasone propionate sangat selektif terhadap reseptor glukokortikoid dan memiliki aktivitas androgenik yang bisa diabaikan. Fluticasone sangat lipofilik membuatnya waktu paruhnya panjang, sekitar 8-12 jam. Selain itu sangat tipis peluangnya diserap secara sistemik dan proses metabolisnya cepat.

Penetrasi Ke kulit

  • Sejak tahun 1958, molekul hidrokortison banyak mengalami perubahan. Pada umumnya molekul hidrokortison yang mengandung fluor digolongkan kortikosteroid poten. Penetrasi perkutan lebih baik apabila yang dipakai adalah vehikulum yang bersifattertutup. Di antara jenis kemasan yang tersedia yaitu krem, gel, lotion, salep, fattyointment (paling baik penetrasinya).
  • Kortikosteroid hanya sedikit diabsorpsi setelah pemberian pada kulit normal, misalnya, kira-kira 1% dari dosis larutan hidrokortison yang diberikan pada lengan bawah ventral diabsorpsi.
  • Dibandingkan absorpsi di daerah lengan bawah, hidrokortison diabsorpsi 0,14 kali yang melalui daerah telapak kaki, 0,83kali yang melalui daerah telapak tangan, 3,5 kali yang melalui tengkorak kepala, 6 kali yang melalui dahi, 9 kali melalui vulva, dan 42 kali melalui kulit scrotum.
  • Penetrasi ditingkatkan beberapa kali pada daerah kulit yang terinfeksi dermatitis atopik dan pada penyakit eksfoliatif berat, seperti psoriasis eritodermik, tampaknya sedikit sawar untuk penetrasi.
  • Secara keseluruhan, kortikosteroid topikal berhubungan dengan empat hal yaitu vasokontriksi, efek anti-proliferasi, immunosupresan, dan efek anti-inflamasi.
  • Steroid topikal menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah di bagian superfisialdermis, yang akan mengurangi eritema. Kemampuan untuk menyebabkan vasokontriksiini biasanya berhubungan dengan potensi anti-inflamasi, dan biasanya vasokontriksi inidigunakan sebagai suatu tanda untuk mengetahui aktivitas klinik dari suatu agen.
  • Efek anti-proliferatif kortikosteroid topikal diperantarai dengan inhibisi dari sintesis danmitosis DNA. Kontrol dan proliferasi seluler merupakan suatu proses kompleks yangterdiri dari penurunan dari pengaruh stimulasi yang telah dinetralisir oleh berbagai faktor inhibitor. Proses-proses ini mungkin dipengaruhi oleh kortikosteroid. Glukokortikoid jugadapat mengadakan stabilisasi membran lisosom, sehingga enzim-enzim yang dapat merusak jaringan tidak dikeluarkan. Efektivitas kortisteroid bisa akibat dari sifat immunosupresifnya. Mekanisme yang terlibat dalam efek ini kurang diketahui. Beberapa studi menunjukkan bahwa kortikosteroid bisa menyebabkan pengurangan sel mast pada kulit. Hal ini bisamenjelaskan penggunaan kortikosteroid topikal pada terapi urtikaria pigmentosa.
  • Mekanisme sebenarnya dari efek anti-inflamasi sangat kompleks dan kurang dimengerti.Dipercayai bahwa kortikosteroid menggunakan efek anti-inflamasinya denganmenghibisi pembentukan prostaglandin dan derivat lain pada jalur asam arakidonik.
  • Mekanisme lain yang turut memberikan efek anti-inflamasi kortikosteroid adalahmenghibisi proses fagositosis dan menstabilisasi membran lisosom dari sel-selfagosit.

Penggunaan Kortikosteroid Topikal

  • Kortikosteroid topikal dengan potensi kuat belum tentu merupakan obat pilihanuntuk suatu penyakit kulit. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid topikal bersifat paliatif dan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan merupakan pengobatankausal.
  • Dermatosis yang responsif dengan kortikosteroid topikal adalah psoriasis,dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis seboroik, neurodermatitis sirkumskripta, dermatitis numularis, dermatitis statis, dermatitis venenata, dermatitis intertriginosa, dandermatitis solaris (fotodermatitis).
  • Pada dermatitis atopik yang penyebabnya belum diketahui, kortikosteroid dipakai dengan harapan agar remisi lebih cepat terjadi.
  • Dermatosis yang kurang responsif ialah lupus erimatousus diskoid, psoriasis di telapak tangan dan kaki, nekrobiosislipiodika diabetikorum, vitiligo, granuloma anulare, sarkoidosis, liken planus, pemfigoid,eksantema fikstum.
  • Pada umumnya dipilih kortikosteroid topikal yang sesuai, aman, efek sampingsedikit dan harga murah ; disamping itu ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan,yaitu jenis penyakit kulit, jenis vehikulum, kondisi penyakit, yaitu stadium penyakit, luas tidaknya lesi, dalam dangkalnya lesi, dan lokalisasi lesi.
  • Perlu juga dipertimbangkan umur penderita.
  • Pada umumnya dianjurkan pemakaian salep 2-3 kali per hari sampai penyakittersebut sembuh. Perlu dipertimbangkan adanya gejala takifilaksis. Takifilaksis adalahmenurunnya respons kulit terhadap glukokortikoid karena pemberian obat yang berulang-ulang berupa toleransi akut yang berarti efek vasokontriksinya akan menghilang, setelah diistirahatkan beberapa hari efek vasokontriksi akan timbul kembali dan akan menghilanglagi bila pengolesan obat tetap dilanjutkan.

Ada beberapa cara pemakaian dari kortikosteroid topikal, yakni :

  • Pemakaian kortikosteroid topikal poten tidak dibenarkan pada bayi dan anak.
  • Pemakaian kortikosteroid poten orang dewasa hanya 40 gram per minggu,sebaiknya jangan lebih lama dari 2 minggu. Bila lesi sudah membaik, pilihlahsalah satu dari golongan sedang dan bila perlu diteruskan denganhidrokortison asetat 1%.
  • Jangan menyangka bahwa kortikosteroid topikal adalah obat mujarab untuk semua dermatosis. Apabila diagnosis suatu dermatosis tidak jelas, jangan pakai kortikosteroid poten karena hal ini dapat mengaburkanruam khas suatu dermatosis. Tinea dan scabies incognito adalah tinea danscabies dengan gambaran klinik tidak khas disebabkan pemakaian kortikosteroid.

Efek Samping

File:Atrophied skin.png
Lengan bawah wanita usia  47 tahun yang menunjukkan kerusakan kulit karena penggunaan topical steroid

Secara umum efek samping dari kortikosteroid topikal termasuk atrofi, striaeatrofise, telangiektasis, purpura, dermatosis akneformis, hipertrikosis setempat,hipopigmentasi, dermatitis peroral.

Efek samping dapat terjadi apabila :

Efek samping yang tidak diinginkan adalah berhubungan dengan sifat potensiasinya, tetapi belum dibuktikan kemungkinan efek samping yang terpisah dari potensi, kecuali mungkin merujuk kepada supresi dari adrenokortikal sistemik. Denganini efek samping hanya bisa dielakkan sama ada dengan bergantung pada steroid yanglebih lemah atau mengetahui dengan pasti tentang cara penggunaan, kapan, dan dimanaharus digunakan jika menggunakan yang lebih paten. Secara umum efek samping dari kortikosteroid topikal termasuk atrofi, striaeatrofise, telangiektasis, purpura, dermatosis akneformis, hipertrikosis setempat,hipopigmentasi, dermatitis peroral.

Penggunaan kortikosteroid topikal dengan potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan sangat oklusif. Efek samping yang tidak diinginkan adalah berhubungan dengan sifat potensiasinya, tetapi belum dibuktikan kemungkinan efek samping yang terpisah dari potensi, kecuali mungkin merujuk kepada supresi dari adrenokortikal sistemik. Dengan ini efek samping hanya bisa dihindari dengan bergantung pada steroid yang lebih lemah atau mengetahui dengan pasti tentang cara penggunaan, kapan, dan dimana harus digunakan jika menggunakannya

 Efek Samping Kortikosteroid topical

  • Diabetes Melitus
  • osteoporosis  
  • Dermatitis kontak alergi
  • steroid atrofi  

Efek samping kortikosteroid kepada beberapa tingkat:

  • Efek Epidermal Penipisan epidermal yang disertai dengan peningkatan aktivitas kinetik dermal,suatu penurunan ketebalan rata-rata lapisan keratosit, dengan pendataran darikonvulsi dermo-epidermal. Efek ini bisa dicegah dengan penggunaan tretino intopikal secara konkomitan. Inhibisi dari melanosit, suatu keadaan seperti vitiligo, telah ditemukan. Komplikasi ini muncul pada keadaan oklusi steroid atau injeksi steroid intrakutan.
  • Efek Dermal Terjadi penurunan sintesis kolagen dan pengurangan pada substansi dasar. Gangguan ini menyebabkan terbentuknya striae dan keadaan vaskulator dermal yang lemah akanmenyebabkan mudah ruptur jika terjadi trauma atau terpotong. Pendarahan intradermalyang terjadi akan menyebar dengan cepat untuk menghasilkan suatu blot hemorrhage. Nantinya akan terserap dan membentuk jaringan parut stelata, yang terlihat seperti usiakulit prematur.
  • Vitiligo Inhibisi dari melanosit, suatu keadaan seperti vitiligo, telah ditemukan.Komplikasi ini muncul pada keadaan oklusi steroid atau injeksi steroid intrakutan.
  • Efek Vaskular Efek ini termasuk Vasodilatasi yang terfiksasi. Kortikosteroid pada awalnya menyebabkanvasokontriksi pada pembuluh darah yang kecil di superfisial. Fenomena rebound. Vasokontriksi yang lama akan menyebabkan pembuluh darahyang kecil mengalami dilatasi berlebihan, yang bisa mengakibatkan edema,inflamasi lanjut, dan kadang-kadang pustulasi.
  • Ketergantungan atau Rebound: sindrom penarikan kortikosteroid adalah kejadian sering terlihat, juga disebut “Sindrom Kulit Merah”. Penghentian total steroid adalah wajib dan, sementara reversibel, dapat menjadi proses yang berkepanjangan dan sulit diatasi
  • Dermatitis Terlalu sering menggunakan steroid topikal dapat menyebabkan dermatitis. Penarikan seluruh penggunaan steroid topikal dapat menghilangkan dermatitis.
  • Dermatitis perioral: Gangguan ini adalah berupa ruam yang terjadi di sekitar mulut dan daerah mata yang telah dikaitkan dengan steroid topikal.  
  • Efek pada mata. Tetes steroid topikal yang sering digunakan setelah operasi mata tetapi juga dapat meningkatkan tekanan intra-okular (TIO) dan meningkatkan risiko glaukoma, katarak, retinopati serta efek samping sistemik
  • Tachyphylaxis: Perkembangan akut toleransi terhadap aksi dari obat setelah dosis berulang  tachyphylaxis signifikan dapat terjadi dari hari ke hari 4 terapi. Pemulihan biasanya terjadi setelah istirahat 3 sampai 4 hari. Hal ini mengakibatkan terapi seperti 3 hari, 4 hari libur, atau satu minggu pada terapi, dan satu minggu off terapi.  
  • Efek samping lokal: Gangguan ini termasuk hipertrikosis wajah, folikulitis, miliaria, ulkus kelamin, dan granuloma infantum gluteale.
  • Penggunaan jangka panjang mengakibatkan Scabies Norwegia, sarkoma Kaposi, dan dermatosis yang tidak biasa lainnya.
  • Jamkhedkar Preeta dkk tahun 1996 pernah melakukan studi untuk mengevaluasi keamanan dan tolerabilitas fluticasone ini dalam terapi eksim dan psoriasis. Fluticasone propionate 0.05% dibandingkan dengan krim betamethasone valerate 0,12%. Ada 107 pasien yang menyelesaikan studi, 61 menderita psoriasis dan 46 menderita eksim.
  • Secara efikasi dan afinitas, fluticasone propionate maupun betamethasone valerate menunjukkan hasil yang setara. Penipisan kulit, setelah dilakukan ultrasound atau biopsi tidak signifikan dibandingkan placebo dalam terapi lebih dari 8 minggu, dengan sekali terapi sehari. Fluticasone propionate sama sekali tidak menimbulkan efek samping sistemik berupa supresi HPA-axis.
  • Studi untuk menilai efek samping penggunaan fluticasone propionate, dalam hal ini supresi HPA-axis, dilakukan oleh Hebert dkk dari University of Texas-Houston Medical School. Studi dilakukan pada anak-anak (3 bulan-6 tahun) penderita dermatitis atopik skala luas, yakni hampir 65% permukaan kulit mendapat terapi. Penilaian studi adalah absennya supresi adrenal dengan pemberian fluticasone propionate 0,05%. Ternyata tidak ada perbedaan signifikan dalam kadar kortisol rata-rata, sebelum dan setelah terapi. Pada pasien usia 3 bulan, fluticasone tidak berimbas pada fungsi HPA axis serta tidak menyebabkan penipisan kulit meskipun diberikan fluticasone secara ekstensif.
  • Kortikosteroid topikal tidak seharusnya dipakai sewaktu hamil kecuali dinyatakan perlu atau sesuai oleh dokter untuk wanita yang hamil. Percobaan pada hewanmenunjukkan penggunaan kortikosteroid pada kulit hewan hamil akan menyebabkan abnormalitas pada pertumbuhan fetus. Percobaan pada hewan tidak ada kaitan dengan efek pada manusia, tetapi mungkin ada sedikit resiko apabila steroid yang mencukupi diabsorbsi di kulit memasuki aliran darah wanita hamil. Oleh karena itu, penggunaan kortikosteroid topikal pada waktu hamil harus dihindari kecuali mendapat nasehat daridokter untuk menggunakannya. Begitu juga pada waktu menyusui, penggunaankortikosteroid topikal harus dihindari dan diperhatikan. Kortikosteroid juga hati-hati digunakan pada anak-anak

Artikel Terkait lainnya

Supported by

ALLERGY ONLINE CLINIC FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT Yudhasmara Foundation htpp://www.allergyclinic.wordpress.com/ htpp://growupclinic.com GROW UP CLINIC I JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021)  5703646 – 44466102 GROW UP CLINIC II  MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 97730777 http://growupclinic.com  http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967   Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitaeCreating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto  www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, Allergy Online Clinic Information Education Network. All rights reserved

Steroids And Side Effects

Steroids And Side Effects

Most of the studies done on the negative side effects of steroids are anecdotal and based on case reports — no large retrospective or prospective studies have been conducted. Here is a list of some of the known potential side effects of steroid use, compiled by the ABC News medical unit from interviews with medical specialists and information from the National Institute on Drug Abuse.

Oral and injected corticosteroids (or simply “steroids”) are medications used to treat inflammation in the body. When taken in oral or injected forms, the route of administration is termed “systemic.” These medicines are used to treat a wide variety of diseases, such as systemic lupus erythematosus, rheumatoid arthritis, and many other autoimmune diseases. Systemic steroids are also used to treat asthma attacks, and on occasion, severe allergic rhinitis symptoms. Examples include prednisone, methylprednisolone (Medrol dose pack), and injectable triamcinolone (Kenalog).

When people think about the side effects of steroids, they usually mean the side effects of systemic steroids. While systemic steroids are often necessary and life-saving medicines needed to treat inflammation, they don’t come without side effects. Most side effects are from short-term use; however, long-term use can lead to additional side effects.\

  • Short-Term Side Effects of Systemic SteroidsMost people receive systemic steroids for only a few days at a time, and experience only temporary side effects. These may include an increase in appetite, difficulty sleeping (insomnia), changes in mood and behavior, flushing (redness) of the face, and short-term weight gain due to increased water retention. These side effects usually resolve after a few days once the steroids have been stopped. People with underlying medical conditions might also notice other side effects. Those with diabetes mellitus may see an increase in their blood sugar readings; those with high blood pressure may see their blood pressure readings rise. People with glaucoma could have an increase of the pressures within their eyes; people with congestive heart failure may retain water and have worsening of this condition. For this reason, a person with any chronic underlying disease should be closely followed by their physician while taking systemic steroids.
  • Long-Term Side Effects of Systemic Steroids When systemic steroids are used for long periods of time, or when steroids are taken on multiple occasions, more serious side effects may occur. It is for these reasons that the dose and duration of systemic steroids should be minimized whenever possible. Some side effects can be decreased by taking systemic steroids every other day instead of daily, even if the total dose is the same. Many of the side effects are reversible if the steroids are stopped, while other side effects may be permanent.

Side effects of long-term steroid use includes:

  • Glaucoma
  • Cataracts
  • High-blood pressure
  • Heart disease
  • Diabetes mellitus
  • Obesity
  • Acid reflux/GERD
  • Osteoporosis
  • Myopathy
  • Increase in certain types of infections
  • Cushing syndrome

People taking long-term systemic steroids should be closely monitored for the above diseases, and should take medicines to prevent osteoporosis. These medicines may include supplemental calcium and vitamin D, along with medicines to prevent bone loss called bisphosphonates. Examples of bisphosphonates include alendronate (Fosamax), risedronate (Actonel) and ibandronate (Boniva). Frequent measuring of bone-mineral density should also be performed in people taking long-term systemic steroids.

Side Effects of Steroids Use in Body

The side effects that steroids have on the body are many and can cause some serious side effects including cancers, but many sports users chose to ignore any information on side effects, even to the point of using the excuse of “its only the drugs abuse that causes side effects” but any drug that alters the homeostasis of the body will have an effect.

Looking at the body in more detail we can look at how steroids can affect each different part of the body:

  • Brain: Studies have shown a pattern between high testosterone levels and aggressive behaviour, which is often seen as the users involved in violent acts. Often steroids have been used as an excuse for a person’s aggressive behaviour. High dose users have also been affected with psychotic syndromes and a high level of anxiety. Other effects that appear are, sleep disturbances, feelings of euphoria, high levels of paranoia, various stages of depression, with some users suffering extreme mood swings, and also changes in their personality. A large number of users become dependant on steroid use which then can lead to addiction.
  • Face: Steroid use results in high levels of water retention (oedema) leading to the user becoming “round faced” with puffy cheeks. In females reports have shown the effect of a growth of facial hair quite common, bad breath is quite a common effect as is the voice of females becoming husky by a deepening of the voice. Steroids also commonly affect the skin of the face and body by causing acne.
  • Eyes: Long term use of steroids can actually damage the eyes, resulting in eye infections, cataracts or glaucoma.
  • Hair: Male pattern baldness is common in both females and males due to the conversion of high levels of testosterone into dihydrotestosterone or DHT, causing the hair follicles to shrink, which only then produces very fine hair. Eventually with continued steroid use the hair follicle dies leading to permanent baldness.
  • Heart Cardiovascular System : This section the steroid user should be most concerned about, but normally choose to ignore until a serious cardiovascular event happens. Steroid use causes heart disease and becomes evident due to high increases in total cholesterol levels, causing a build up of cholesterol on the walls of the blood vessels which can also lead to strokes. Also shown is a decrease in the levels of the good cholesterol (HDL) and increase in the bad cholesterol (LDL). Blood pressure is known to increase and blood clots in blood vessels disrupting the blood flow causing damage to the heart muscle leading to heart attacks.  Enlargement of the heart, a precursor to heart failure; high blood pressure; atherosclerosis or hardening of the arteries, a precursor to coronary heart disease; elevated cholesterol levels; heart palpitations; heart attack; stroke; anaphylactic and septic shock.
  • Reproductive System: In males, excess testosterone is converted to the female hormone estrogen which causes the development of female characteristics. For instance, men experience prostate enlargement, sterility, sexual dysfunction, baldness, breast enlargement, and testicular atrophy. Excess testosterone in females has the opposite effect, causing menstrual irregularities, deepening of the voice, baldness, fetal damage, hair growth on other parts of the body, sexual dysfunction, sterility, reduction of breasts, and genital swelling.
  • Vital Organs: Prolonged heavy use of steroids can permanently damage the liver, causing cancer, jaundice, bleeding, and hepatitis. Steroids can impair the kidneys leading to kidney stones and kidney disease
  • Stomach: Normal signs of problems to the stomach from steroid use include feelings of being bloated, a feeling of being nauseous leading to bouts of vomiting with blood sometimes being evident in the vomit caused by irritation to the stomach lining and increased stomach acids with a lower level of stomach mucus.
  • Kidneys: The kidneys are important for the elimination of waste material from the blood and the regulation of salt and water levels. Another important function of the kidneys is the regulation of blood pressure; high blood pressure damages the blood vessels and filtering system of the kidneys. The occurrence of kidney problems occurs mostly with the use of oral steroids with a suppression of blood clotting factors leading to increased blood clotting time following cuts or injury. The kidneys have to work harder with oral steroid use due to increase requirements to filter the blood. Steroid users also normally resort to ultra high protein intake, sometime far in excess of normal intake involved with weight training which can lead to kidney stones. Kidney stones can block the opening of the urinary tract leading to problems with urinary excretion. High blood pressure can also cause problems to the kidneys by damaging the blood vessels by causing thickening and narrowed blood vessels leading to a reduced blood supply and filtration.
  • Liver: The liver, the largest organ of the body is used to filter harmful toxins from the blood and for storage of certain nutrients like vitamins/minerals. It is also important for the managing levels of chemicals such as proteins, cholesterol and sugars. The liver is also used for the production of bile to aid in the digestion of food. Steroid use has been shown to cause irreversible liver damage and cancers. Oral steroids are difficult for the liver to metabolise leading to a decrease in the ability of the liver to clear waste products. Some counterfeit steroids have been known to carry all kinds of bacteria and virus leading to adverse liver function. Hepatocellular jaundice which is evident by a yellowing of the skin and eyes, can be caused by an abnormal liver function as the liver cannot effectively filter the blood.
  • Chest: Breast development (Gynocomastia) from steroid use is a very common and an often seen side effect of long term steroid cycles or high dose steroid use, causes a formation of breast tissue which begins as visible lumps under the nipples that normally requires surgical intervention. The breasts of female steroid users can actually shrink in size.
  • Bones: Use of steroids by teenagers and males in their early twenties who have not yet ceased growing can impair bone growth leading to being shorter in height in adulthood due to premature closure of epiphyseal growth plates. Bone pain can also be a side effect of steroid use.
  • Muscle and Tendons: The use of steroids can make a person feel stronger than they actually are, resulting in trying to lift heavier weights than their body is actually capable of, which can lead to muscle tears. The muscle can get stronger more rapidly than the strength of the tendons then a greater possibility of tendon rupture is likely to occur.
  • Skin: Steroid use can have an effect on the user’s skin by affecting the skin pores and causing roughness in the skin texture. Other skin conditions that are often seen are red blotchy, greasy skin with acne on the face and back. Stretch marks can also appear due to rapid growth of muscle or a thinning of the skin. As mentioned above steroids affect the liver and a side effect is jaundice, this becomes evident by a yellowing of the skin and eyes.
  • Impaired immune system: An impaired immune function can occur with steroid use with problems occurring after cessation and effects becoming more visible.
  • Oedema: This means the appearance of being bloated and is caused by an accumulation of fluid which is mostly seen as swollen ankles and fingers.
  • Prostrate gland: The prostrate gland is specific to males and located just below the bladder, its main functions are the production of prostatic fluid, a component of seminal fluid and are also for maintaining sperm activity. Steroids are known to cause an enlargement of the prostrate gland, and as the prostrate gland encircles the urethra any swelling of the prostrate can cause interference in the urine flow. Males should be made aware that any changes in the prostrate gland can also affect sexual activity. Other effects that can happen are abnormal sperm and a decreased sperm count.
  •  Blood Poisoning: Many steroid users are often frightened to go to a needle exchange to obtain a supply of sterile needles in case they are labelled addicts, often resulting in the use of, or sharing of non sterile needles, which can cause blood poisoning with a higher risk of infection and infectious diseases. The user’s injection site can also become swollen and tender and can lead to abscesses which can then lead to the requirement of painful medical intervention.
  •  Impotence: Taking steroids will cause the testes to decrease its normal function. When stopping the testosterone supplementation it takes a while for the pituitary gland to signal the testes to once again begin manufacturing testosterone. In long term or high dose testosterone use the testes can actually cease production or can actually atrophy which can lead to a long delay in the testes beginning manufacturing testosterone naturally. Impotence occurs after the steroids cessation, and long term drug use causes lack of erections.
  • Masculinization This happens more frequently in females and is usually due to increased testosterone. The mostly irreversible side effects include increased facial hair, male-pattern baldness, increased acne, changes in skin texture, growth of facial and body hair, aggressiveness, and irritability.
  • Feminization Feminization occurs only in men and happens when excessive testosterone is converted to the female hormone estrogen. This results in the formation of breasts, decreased sperm count, decreased libido, shrunken testes, soft muscle mass and impotence. With drug treatment, side effects can be reversed.
  • Cardiovascular Steroids increase the cholesterol level in the body by increasing the “bad cholesterol,” which can lead to clogs in the blood vessels — leaving users susceptible to heart disease and strokes. In addition, steroids provoke a rapid increase in body weight and an accompanying rise in blood pressure, both of which leave users more vulnerable to a cardiovascular event. These side effects can be reversed to the extent if they are caught before the person has a heart attack or a stroke.
  • Growth Defects This is an important side effect to mention for high school athletes because steroids can cause the premature closure of the growth plate, leading to stunted growth.
  • Kidney Problems Toxic products like steroids put the kidneys under stress and can lead to electrolyte imbalances and high blood pressure. Kidney problems are reflected by lower back pain, increased swelling in the lower legs and ankles, and fever
  • Liver Problems Based on estrogen studies in 1970s and 1980s, steroids could lead to certain tumors and liver damage.
  • Skin The skin is the largest organ of the human body and is the most sensitive organ to steroids — especially in women. Pores grow large and acne problems that are not aided by typical over-the-counter medication can occur. Stretch marks also become prominent, though they are not directly caused by steroids. They stem from the rapid weight gain and muscle growth that steroids bring.
  • Neuropsychiatric Neuropsychiatric side effects are based mostly on case reports, but have been studied by two prominent Harvard psychiatrists, Drs. Harrison Pope and Kurt Brower from McLean Hospital in Belmont, Mass. Small studies indicate that long-term abuse can mimic bipolar disorder. Symptoms will start off with a mania that leads to aggressiveness, reckless behavior and diminished need for sleep — also known as “‘roid rage.” Some athletes could actually be seeking this last side effect, as it could lead to motivation to work out harder and a higher level of aggression when playing sports. It is almost always followed by a profound depression that can then lead to suicidal behavior. There is a suspected psychologically addictive aspect to steroid use that leads athletes to become addicted to the way they feel on steroids and the way they look — possibly leading to continued steroid abuse after their sport-playing days are over.

Supported by

ALLERGY ONLINE CLINIC

FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT

Yudhasmara Foundation htpp://www.allergyclinic.wordpress.com/ htpp://growupclinic.com

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
“GRoW UP CLINIC JAKARTA” For Children, Teen and Adult Focus and Interest on:

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967
  • Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician
  • Fisioterapis dan terapi okupasi lainnya

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, Allergy Online Clinic Information Education Network. All rights reserved

« Older Entries