Alergi Obat Pada Anak; Gejala dan Penanganannya

Alergi obat adalah respon abnormal seseorang terhadap bahan obat atau metabolitnya melalui reaksi imunologi yang dikenal sebagai reaksi hipersensitivitas yang terjadi selama atau setelah pemakaian obat. Alergi obat masuk kedalam penggolongan reaksi simpang obat (adverse drug reaction), yang meliputi toksisitas, efek samping, idiosinkrasi, intoleransi dan alergi obat. Toksisitas obat adalah efek obat berhubungan dengan kelebihan dosis obat. Efek samping obat adalah efek obat selain  khasiat utama yang timbul karena sifat farmakologi obat atau interaksi dengan obat lain. Idiosinkrasi adalah reaksi obat yang timbul tidak berhubungan dengan sifat farmakologi obat, terdapat dengan proporsi bervariasi pada populasi dengan penyebab yang tidak diketahui. Intoleransi adalah reaksi terhadap obat bukan karena sifat farmakologi, timbul karena proses non imunologi. Sedangkan alergi obat adalah respon abnormal terhadap obat atau metabolitnya melalui reaksi imunologi.

Alergi obat seringkali sulit dibedakan dengan reaksi jenis lain terhadap obat seperti toksisitas, efek samping, intoleransi, dan idiosinkrasi. Efek samping obat merupakan reaksi toksik dan reaksi interaksi obat yang timbul karena sifat farmakologik obat. Reaksi idiosinkrasi tidak berhubungan dengan sifat farmakologik obat, dan terdapat dengan proporsi yang bervariasi pada populasi dengan penyebab yang tidak diketahui.

Alergi obat pada anak lebih jarang terjadi dibandingkan dengan orang dewasa, akan tetapi sering menimbulkan masalah karena mirip dengan gejala alergi oleh penyebab lain yang sering terjadi pada anak, misalnya alergi makanan. Angka kejadian pada bayi dan anak jauh lebih rendah daripada dewasa, dan akan meningkat dengan bertambahnya usia. Akan tetapi angka kejadian sesungguhnya sulit diketahui karena manifestasi klinis yang sangat bervariasi, terkadang tidak dikenali, dan mekanisme terjadinya masih belum jelas. Angka kejadian reaksi simpang obat yang dilaporkan di rumah sakit pada umumnya berkisar antara 5- 15% dari seluruh pasien yang berobat jalan serta 25% dari penderita rawat inap, dan 20-30% dari kejadian reaksi simpang obat tersebut merupakan alergi obat. Angka kejadian dalam masyarakat tentu lebih tinggi dan cenderung makin meningkat dengan makin meluasnya pemakaian obat.

Sebagian besar reaksi obat (75-80%) disebabkan oleh efek non imunologi (farmakologi) yang dapat diprediksi. Sebanyak 20-25% disebabkan oleh efek yang tidak dapat diprediksi, baik yang diperantai atau tidak oleh imun. Reaksi imun terjadi pada 5-10% reaksi obat dan merupakan hipersensitivitas obat yang sebenarnya, dengan diperantarai oleh IgE.

Manifestasi Klinis

Gejala kilinis alergi obat sangat bervariasi dan tidak spesifik untuk obat tertentu. Satu macam obat dapat menimbulkan berbagai gejala pada seseorang, dapat berbeda dengan orang lain, dapat berupa gejala ringan sampai berat. Erupsi kulit merupakan gejala klinis yang paling sering,dapat berupa gatal, urtika, purpura, dermatitis kontak, eritema multiforme, eritema nodusum, erupsi obat fikstum, reaksi fotosensifitas, dermatitis eksfoliatif, erupsi vesikobulosa dan sidroma Steven Johnson.

Gejala klinis alergi obat sangat bervariasi dan tidak spesifik untuk obat tertentu. Satu macam obat dapat menimbulkan berbagai gejala, dan pada seseorang dapat berbeda dengan orang lain. Gejala klinis tersebut kita sebut sebagai alergi obat bila terdapat antibodi atau sel limfosit T tersensitisasi yang spesifik terhadap obat atau metabolitnya, serta konsisten dengan gambaran reaksi inflamasi imunologik yang sudah dikenal.

Gejala klinis alergi obat dapat berupa gejala ringan sampai berat (Tabel 26-4). Erupsi kulit merupakan gejala klinis yang paling sering, dapat berupa pruritus, urtikaria, purpura, dermatitis kontak, eritema multiform, eritema nodosum, erupsi obat fikstum, reaksi fotosensitivitas, atau reaksi yang lebih berat dermatitis eksfoliatif dan erupsi vesikobulosa seperti pada sindrom Stevens-Johnson dan sindrom Lyell.

Gejala klinis yang memerlukan pertolongan adekuat segera adalah reaksi anafilaksis karena dapat terjadi renjatan. Gejala klinis dapat berupa hipotensi, spasme bronkus, edema laring, angioedema, atau urtikaria generalisata

Demam dapat merupakan gejala tunggal alergi obat, atau bersama gejala klinis lain, yang timbul beberapa jam setelah pemberian obat (tetapi biasanya pada hari ke 7-10), dan menghilang dalam waktu 48 jam setelah penghentian obat atau sampai beberapa hari kemudian. Diduga demam terjadi akibat pelepasan mediator sitokin. Beberapa jenis obat diduga dapat bersifat pirogen langsung, misalnya amfoterisin B, simetidin, dekstran besi, kalsium, dan dimerkaprol. Mekanismenya sampai saat ini belum jelas. Pada anak, epinefrin dapat menimbulkan demam karena bersifat vasokonstriktor yang menghambat pengeluaran panas tubuh. Demikian juga pemberian atropin (termasuk tetes mata) serta fenotiazin dapat menimbulkan demam dengan menghambat pembentukan keringat. Beberapa jenis obat seperti alopurinol, azatioprin, barbiturat, produk darah, sefalosporin, hidroksiurea, yodida, metildopa, penisilinamin, penisilin, fenitoin, prokainamid, dan kuinidin, sering menimbulkan demam tanpa disertai gejala alergi lain.

Gejala lain adalah sindrom klinis yang tersebut penyakit serum (serum sickness) berupa demam, artralgia, mialgia, neuritis, efusi sendi, urtikaria, erupsi makulopapular, dan edema yang biasanya timbul 1-3 minggu setelah terpajan. Gejala tersebut menghilang dalam beberapa hari atau minggu.

Gejala sistemik yang sering adalah demam, lupus eritematosus medikamentosa, vaskulitis, dan dapat menjadi lebih berat disertai limfadenopati, sesak nafas, edema angioneurotik, serta terkadang nefritis dan karditis. Komplikasi paling berat dapat berupa sindrom Guillain-Barre. Obat penyebab biasanya sulit diketahui karena masa laten yang cukup panjang. Selain itu dapat ditemukan pula gejala kelainan hematologik, kelainan pada organ setempat (hati, paru, ginjal, jantung), atau kelainan sistemik seperti lupus eritematosus sistemik.

Gejala klinis yang memerlukan pertolongan tepat dan segera adalah reaksi anafilaksis, karena adanya hipotensi,spasme bronkus,sembab laring,angioudema atau urtikaria generalisata. Demam dapat merupakan gejala tunggal alergi obat atau bersama gejala lain yang timbul beberapa jam setelah pemberian obat tetapi biasanya pada hari 7-10 dan menghilang dalam waktu 48 jam setelah penghentian obat atau beberapa hari kemudian. Demam disebabkan karena pelepasan sitokin. Beberapa obat dapat sebagai pirogen langsung misalnya amfoterisis B, simetidin, dextran, besi kalsium dan dimerkaprol. Mekanismenya belum jelas pada anak, epinefrin dapat menimbulkan demem karena bersifat vasokostriktor, dengan demikian menghambat pengeluaran panas tubuh. Demikian juga pemberian atrofin serta fenotiasin dapat menimbulkan demam dengan menghambat pembentukan keringat. Beberapa obatseperti alupurinol, azatioprim, barbiturat, produk darah, sefalosporin, hidroksiurea, yodida, metildopa, penisilamin, penisilin, fenitoin, prokainamid dan kuinidin sering menimbulkan demam tanpa disertai gejala alergi lain.

Berbagai manifeastasi klinis dan penyebab

  • Erupsi morbiliformis eksantem merupakan ruam obat klasik
  • Urtikaria, lebih mengarah pada respon imun yang diperantarai antibodi IgE atau stimulasi sel mast secara langsung
  • Purpura dan petekiae merupakan stigmata kutaneus dari vaskulitis atau trombositopenia yang diinduksi obat
  • Lesi makulopapular di jari tangan dan kaki atau distribusi serpiginosa di lateral telapak kaki menunjukkan serum sickness
  • Lesi target yang terdiri dari papul eritematosa di sentral, dengan cincin di perifer yang edema dan eritematosa menunjukkan eritema multiforme. Pada bentuk yang lebih luas dapat menjadi lesi yang melepuh dan melibatkan mukosa membran
  • Variasi lesi papul eritematosa atau area pigmentosa sampai lesi papulovesikular bulosa atau urtikaria dapat menunjukkan erupsi obat fikstum
  • Lesi papulovesikular dan berskuama dengan adanya riwayat obat topikal dapat menunjukkan dermatitis kontak
  • Ruam ezkema pada area yang terpapar matahari lebih mengarah pada reaksi fotoalergik

Klasifikasi alergi obat menurut gejala klinis

Anafilaksis

Sembab laring , hipotensi ,   bronkospasme

Erupsi kulit

Urtikaria/angioudema , pruritus ,   ruam makulopapular, erupsi obat fikstum, dermatitis kontak,   vaskulitis,eritema nodusum, eritema multiforme,sindroma Steven Johnson,   nekrolisis epidermal toksik, dermatitis eksfoliatif, reaksi fotosensitif.

Kelainan hematologi

Anemia   hemolitik,netropenia,trobositopenia.

Kelainan paru

Pneumonitis   interstitialis/aveolaris,edema paru/fibrosis paru.

Kelainan renal

Nefritis   interstitialis,glomerulonefritis,sindroma nefrotik.

Penyakit Serum

Demam obat

Vaskulitis sistemik

Limfadenopati

Pola Manifestasi Klinis dan Penyebab alergi Obat

Exanthems :

Ampicillin, penicillin

Phenilbutazone

Sulphonamides

Phenitoin

Carbamazepine

Gold

Allopurinol

Lichenoid eruptions :

Anti maalarials

Beta blockers

Chlorpropamide

Gold

Methyl dopa

Penicillamine

Phenylbutazone

Sterptomycin.

Erythema multiforme and Steven

Johnson Syndrome:

Trimetrprim,Smx

Penicillin

Griseofulvin

Tetracyclines

NSADs

Gold

Anticonvulsant

Tokxicepidermal necrolysis

Allopurinol

Apirin

Penicillin

Phenytoin

Sulfasalazine

Acneform eruptions :

Cortcosteroids

Anabolic steroids

Androgens (in female)

Oral contraceptives

Iodides and bromides

Lithium

Isoniazid

Heterogenitas reaksi drug-induced allergic

Reaksi Organ spesifik Manifestasi klinis Contoh agen penyebab
kutaneus
Eksantema Diffuse fine macules and papules Evolve over days after drug initiation Delayed-type hypersensitivity Allopurinol, aminopenicillins, cephalosporins, antiepileptic agents, and antibacterial sulfonamides
Urtikaria, angioedema Onset within minutes of drug initiation Potential for anaphylaxis Often IgE mediated IgE mediated: β-lactam antibiotics Bradykinin mediated: ACE-I
Fixed drug eruption Hyperpigmented plaques Recur at same skin or mucosal site Tetracycline, NSAIDs, and carbamazepine
Pustula Acneiform Acute generalized eczematous pustulosis (AGEP) Acneiform: corticosteroids, sirolimus AGEP: antibiotics, calcium-channel blockers
Bulosa Tense blisters Flaccid blisters Furosemide, vancomycin Captopril, penicillamine
SJS Fever, erosive stomatitis, ocular involvement, purpuric macules on face and trunk with <10% epidermal detachment Antibacterial sulfonamides, anticonvulsants, oxicam NSAIDs, and allopurinol
TEN Similar features as SJS but >30% epidermal detachment Mortality as high as 50% Same as SJS
Cutaneus lupus Erythematous/scaly plaques in photodistribution Hydrochlorothiazide, calcium-channel blockers, ACE-Is
Hematologi Hemolytic anemia, thrombocytopenia, granulocytopenia Penicillin, quinine, sulfonamides
Hepatic Hepatitis, cholestatic jaundice Para-aminosalacylic acid, sulfonamides, phenothiazines
Pulmonary Pneumonitis, fibrosis Nitrofurantoin, bleomycin, methotrexate
Renal Interstitial nephritis, membranous glomerulonephritis Penicillin, sulfonamides, gold, penicillamine, allopurinol
Reaksi Multiorgan
Anafilaksis Urticaria/angioedema, bronchospasm, gastrointestinal symptoms, hypotension IgE- and non–IgE-dependent reactions β-Lactam antibiotics, mAbs
DRESS Cutaneous eruption, fever, eosinophilia, hepatic dysfunction, lymphadenopathy Anticonvulsants, sulfonamides, minocycline, allopurinol
Serum sickness Urticaria, arthralgias, fever Heterologous antibodies, infliximab
Systemic lupus erythematosus Arthralgias, myalgias, fever, malaise Hydralazine, procainamide, isoniazid
Vasculitis Cutaneous or visceral vasculitis Hydralazine, penicillamine, propylthiouracil

Penanganan

Dasar utama penanganan alergi obat adalah penghentian obat yang dicurigai kemudian mengatasi gejala klinis yang timbul. Di samping itu perlu pula dipikirkan upaya pencegahan alergi obat.

Penghentian obat

Penentuan obat yang harus dihentikan seringkali sulit karena biasanya, terutama pada anak, penderita mendapat berbagai jenis obat dalam waktu yang sama. Bila mungkin semua obat dihentikan dulu, kecuali obat yang memang perlu dan tidak dicurigai sebagai penyebab reaksi alergi, atau menggantikannya dengan obat lain. Bila obat tersebut dianggap sangat penting dan tak tergantikan, bila tidak ada alternatif lain dan reaksi alerginya relatif ringan, dapat terus diberikan dengan persetujuan penderita dan keluarga. Pada beberapa keadaan dapat dilakukan desensitasi obat atau prosedur provakasi bertahap. Desentisasi biasa dilakukan pada jenis obat penisilin, antibiotik non-beta laktam dan insulin. Sedangkan provokasi bertahap biasa dilakukan asam aminosalisilat, isoniazid, trimetoprim-sulfametoksazol, dapson, alopurinol, sulfasalazin dan difenilhidantoin.

Pengobatan

Manifestasi klinis ringan umumnya tidak memerlukan  pengobatan khusus.

  • Untuk pruritus, urtikaria atau edema angionerotik dapat diberikan antihistamin misalnya, diphenhidramin, loratadin atau cetirizine dan kalau kelainan cukup luas diberikan pula adrenalin subkutan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis.
  • Difenhidramin diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam. CTM diberikan dengan dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam.
  • Setirizin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis, 1 kali/hari;  > 6 tahun : 5-10 mg/dosis, 1 kali/hari.
  • Loratadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari;  > 6 tahun : 10 mg/dosis, 1 kali/hari.
  • Feksofenadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30 mg/hari, 2 kali/hari;  > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180mg/hari, 4kali/hari. Bila gejala klinis sangat berat misalnya dermatitois eksfoliatif, ekrosis epidermal toksik, sindroma Steven Johnson, vaskulitis, kelainan paru, kelainan hematologi harus diberikan kortikosteroid serta pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan elektrolit, tranfusi, antibiotik profilaksis dan perawatan kulit sebagaimana pada luka bakar untuk kelainan-kelainan dermatitis eksfoliatif, nekrosis epidermal toksik dan Sindroma Steven Johnson.
  • Prednison diberikan sebagai dosis awal adalah 1-2 mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari sampai keadaan stabil kira-kira 4 hari kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4 kali/hari dalam 4-10 hari.
  • Steroid parenteral yang digunakan adalah metil prednisolon atau hidrokortison dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul rumatan prednison oral. Cairan dan elektrolit dipenuhi dengan pemberian Dekstrosa 5% dalam 0,225% NaCl atau Dekstrosa 5% dalam 0,45% NaCl dengan jumlah rumatan dan dehidrasi yang ada.
  • Perawatan lokal segera dilakukan untuk mencegah perlekatan, parut atau kontraktur. Reaksi anafilaksis harus mendapat penatalaksanaan adekwat secepatnya. Kortikosteroid topikal diberikan untuk erupsi kulit dengan dasar reaksi tipe IV dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Pemilihan  sediaan dan macam obat tergantung luasnya lesi dan tempat. Prinsip umum adalah : dimulai dengan kortikosteroid potensi rendah. Krim mempunyai kelebihan lebih mudah dioles, baik untuk lesi basah tetapi kurang melindungi kehilangan kelembaban kulit. Salep lebih melindungi kehilangan kelembaban kulit, tetapi sering menyebabkan gatal dan folikulitis. Sediaan  semprotan digunakan pada daerah kepala dan daerah berambut lain. Pada umumnya steroid topikal diberikan setelah mandi, tidak diberikan lebih dari 2 kali sehari. Tidak boleh memakai potensi medium sampai tinggi untuk daerah kulit yang tipis misalnya muka, leher, ketiak dan selangkangan..

Manifestasi klinis ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Untuk pruritus, urtikaria, atau edema angioneurotik dapat diberikan antihistamin dan bila kelainan tersebut cukup luas diberikan pula adrenalin. Reaksi anafilaktik akut membutuhkan epinefrin, patensi jalan nafas, oksigen, cairan intravena, antihistamin dan kortikosteroid. Reaksi kompleks imun biasanya sembuh spontan setelah antigen hilang, namun sebagai terapi simtomatik dapat diberikan antihistamin dan antiinflamasi non-steroid. Antihistamin generasi kedua dapat pula digunakan, seperti loratadin. Steroid topikal dengan potensi sedang (hidrokortison atau desonid) dan pelembab dapat digunakan pada tahap deskumasasi.

Bila gejala klinis berat (dermatitis eksfoliatif, nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson, vaskulitis, kelainan paru, kelainan hematologik) harus diberikan kortikosteroid serta pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan elektrolit, transfusi, antibiotik profilaksis). Perawatan lokal segera dilakukan untuk mencegah perlekatan, sikatriks, atau kontraktur melalui konsultasi dan kerjasama interdisiplin dengan bagian terkait (mata, kulit, bedah).

Pada reaksi pseudoalergi seperti pewarnaan radiokontras dapat diberikan terlebih dahulu obat sebelum prosedur pemeriksaan, seperti kortikosteroid, antihistamin dan atau efedrin. Pencegahan reaksi alergi obat merupakan langkah terpenting dalam penatalaksanaan. Penggunaan obat yang sering memberikan reaksi alergi, seperti antibiotik, harus diberikan sesuai indikasi. Pemberian obat secara oral lebih sedikit memberikan reaksi alergi dibandingkan parenteral atau topikal. Pemberian obat parenteral harus ditunjang dengan ketersediaan epinefrin atau sarana gawat darurat lain.

Pencegahan

Anamnesis riwayat kemungkinan alergi obat sebelumnya penting untuk selalu dilakukan walaupun harus dinilai dengan kritis untuk menghindari tindakan berlebihan. Misalnya ruam kulit setelah pemberian ampisilin pada seorang anak belum tentu karena alergi obat. Bila dokter telah mengetahui atau sangat curiga bahwa pasiennya alergi terhadap obat tertentu maka hendaknya ia membuatkan surat keterangan tentang hal tersebut yang akan sangat berguna untuk upaya pencegahan pada semua keadaan.

Semakin sering seseorang memakai obat maka akan semakin besar pula kemungkinan untuk timbulnya alergi obat. Jadi pemakaian obat hendaknya dengan indikasi kuat dan bila mungkin hindari obat yang dikenal sering memberikan sensitisasi pada kondisi tertentu (misalnya aspirin pada asma bronkial).

Cara pembuatan obat harus diperbaiki dengan mengurangi dan menghilangkan bahan yang potensial dapat menjadi penyebab alergi, atau bahan yang dapat menyebabkan reaksi silang imunogenik. Contohnya adalah pembuatan vaksin bebas protein hewani, atau antibodi dari darah manusia.

Uji kulit dapat memperkirakan kemungkinan terjadinya alergi obat, tetapi prosedur ini hanya bermanfaat untuk alergen makromolekul, sedangkan untuk obat dengan berat molekul rendah sejauh ini hanya terhadap penisilin (dengan uji alergen benzilpenisiloil polilisin).

Bila seseorang telah diketahui atau diduga alergi terhadap obat tertentu maka harus dipertimbangkan pemberian obat lain. Obat alternatif tersebut hendaknya bukan obat yang telah dikenal mempunyai reaksi silang dengan obat yang dicurigai. Misalnya memberikan aminoglikosida sebagai alternatif untuk penisilin. Bila obat tersebut sangat dibutuhkan sedangkan obat alternatif tidak ada, dapat dilakukan desensitisasi secara oral maupun parenteral. Misalnya desensitisasi penisilin untuk penderita penyakit jantung reumatik atau desensitisasi serum antidifteri. Desensitisasi merupakan prosedur yang berisiko sehingga harus dipersiapkan perlengkapan penanganan kedaruratan terutama untuk reaksi anafilaksis.

Daftar Pustaka

  • David A. Khan,  Drug allergy. The Journal of Allergy and Clinical Immunology Volume 125, Issue 2, Supplement 2, Pages S126-S137.e1, February 2010.
  • Iannini P, Mandell L, Felmingham J, Patou G, Tillotson GS. Adverse cutaneous reactions and drugs: a focus on antimicrobials. J Chemother. Apr 2006;18(2):127-39.
  • Green JJ, Manders SM. Pseudoporphyria. J Am Acad Dermatol. Jan 2001;44(1):100-8.
  • Bork K. Adverse drug reactions. In: Demis DJ, ed. Clinical Dermatology. Vol 3. Philadelphia, Pa: Lippincott-Raven; 1998.
  • Breathnach SM, Hintner H. Adverse Drug Reactions and the Skin. London, England: Blackwell Scientific; 1992.
  • Campos-Fernandez Mdel M, Ponce-De-Leon-Rosales S, Archer-Dubon C, Orozco-Topete R. Incidence and risk factors for cutaneous adverse drug reactions in an intensive care unit. Rev Invest Clin. Nov-Dec 2005;57(6):770-4.
  • Coombs RRA, Gell PGH. Classification of allergic reactions responsible for clinical hypersensitivity and disease. Clin Aspects Immunol. 1968;575-96.
  • Daoud MS, Schanbacher CF, Dicken CH. Recognizing cutaneous drug eruptions. Reaction patterns provide clues to causes. Postgrad Med. Jul 1998;104(1):101-4, 107-8, 114-5.
  • Fitzpatrick JE. New histopathologic findings in drug eruptions. Dermatol Clin. Jan 1992;10(1):19-36.
  • Gendernalik SB, Galeckas KJ. Fixed drug eruptions: a case report and review of the literature. Cutis. Oct 2009;84(4):215-9.
  • Greenberger PA. 8. Drug allergy. J Allergy Clin Immunol. Feb 2006;117(2 Suppl Mini-Primer):S464-70.

Anakku Sering Sakit, Ternyata Alergi dan Hipersensitif Saluran Cerna

Penyebab utama mengapa anak sering mudah tertular sakit demam, batuk dan pilek berulang berkepanjangan adalah karena daya tahan tubuh tidak optimal dan kontak di lingkungannya ada yang sering sakit. Saat anak sering sakit orangtua seringkali menyalahkan karena tertular di sekolah. Memang mungkin benar tertular di sekolah tetapi yang utama adalah daya tahan tubuh yang lemah dari si anak. Karena di sekolah selamanya sangat mungkin tidak akan pernah bebas dari anak sakit. Selain itu tidak disadari kontak orang sakit yang menjadi penyebab utama justru lebih sering terjadi di rumah. Bisa ayah, ibu, kakak dan orang lain yang mudah sakit tetapi selama ini dianggap alergi, masuk angin, terlalu lelah atau panas dalam. Keluhan demam, batuk dan pilek yang berkepanjangan tersebut seringkali dianggap karena alergi, padahal yang lebih dominan adalah anak lebih mudah terkena infeksi virus saluran pernapasan. Memang benar anak mungkin mengalami alergi tetapi hal ini terjadi karena penderita alergi khususnya dengan gangguan saluran cerna dengan keluhan mudah mual dan muntah biasanya daya tahan tubuhnya rendah dan mudah sakit. Bukan hanya orangtua bahkan dokterpun kadang sulit membedakan antara infeksi dan alergi.

Case Preview

Orang tua si Udin sangat kawatir, sejak usia 6 bulan hingga 3 tahun hampir tiap bulan selalu ke dokter karena sakit . Keluhan yang sering dialami adalah batuk, pilek dan panas. Seringkali dokter mengatakan anakku alergi tetapi kok diberi antibiotika. Kekawatiran orangtua beralasan karena anak tersebut sudah terlalu sering minum obat apalagi antibiotika adalah konsumsi rutin setiap sakit. Penderita ini sering mengalami overdiagnosis TBC atau divonis sebagai TBC atau “Flek” padahal tidak menderita penyakit tersebut. Tampaknya sekitar 10-20% anak mengalami kasus seperti si Udin. Kelompok anak seperti ini biasanya daya tahan tubuh tidak optimal. Ternyata, penyebab daya tahan tubuh yang tidak optimal ini sering terjadi pada anak dengan saluran cerna yang sensitif. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar atau sekitar 70% mekanisme pertahanan tubuh anak terdapat dalam saluran cerna. Biasanya hal ini sering terjadi pada penderita alergi. Hal ini diperumit oleh kesulitan membedakan antara alergi dan infeksi. Sepertinya merupakan hal mudah membedakannya tetapi banyak penderita atau sebagian dokter mengganggap gejala infeksi dianggap alergi atau sebaliknya gejala alergi dianggap infeksi.

KARAKTERISTIK ANAK YANG MUDAH SAKIT

  • Dikatakan infeksi berulang pada anak bila infeksi sering terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut.
  • Seringkali mengalami rawat inap saat sakit
  • Bila sakit batuk pilek seringkali dilakukan penguapan atau inhalasi
  • Mengalami tonsilitis kronis atau radang amandel sering berulang (amandel membesar)
  • Pernah sakit telinga, nyeri telinga, telinga bersuara gemerek, atau infeksi telinga (OMA)
  • Pernah mengalami Sinusitis atau Asma
  • Timbul pembesaran kelenjar di leher
  • Bila terjadi demam sering sangat tinggi atau lebih 39oC. Dengan penyakit yang sama anak lain mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5oC.
  • Pernah mengalami pnemoni, mastoiditis, sepsis, ensefalitis atau meningitis

FAKTOR YANG BERPENGARUH MENGAPA ANAK MUDAH SAKIT

  • Mekanisme pertahanan tubuh paling banyak atau hampir 60-70% dipengaruhi dan diproduksi dalam sistem saluran cerna
  • Daya tahan tubuh buruk, biasanya sering terjadi pada penderita hipersensitif saluran cerna. Keadaan ini sering dialami oleh penderita alergi. Hal inilah menjelaskan kenapa penderita alergi lebih mudah sakit atau rentan terkena infeksi
  • Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Kelompok anak yang mengikuti sekolah prasekolah lebih sering mengalami infeksi 1,5-3 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah. Perokok pasif kemungkinan dua kali lipat untuk terkena infeksi. Jumlah anggota keluarga dirumah meningkatkan terjadinya infeksi. Keluarga dengan jumlah 3 orang hanya didapatkan 4 kali infeksi pertahun sedangkan jumlah keluarga lebih dari 8 didapatkan lebih 8 kali infeksi pertahun.
  • Penyebab utama sakit berulang adalah kontak yang sering sakit dirumah yang juga mengalami sakit berulang atau mudah sakit. Gangguan orang yang mudah sakit ini sering ditandai badan berulang atau sering ngilu, capek, lelah, nyeri tenggorokan, batuk, pilek berkepanjangan. Penderita seperti ini sering dianggap karena terlalu lelah atau alergi. Penderita alergi opada umumnya mudah mengalami infeksi. Namun seringkali sulit membedakan antara alergi dan infeksi, sehingga keluhan infeksi virus seringkali dianggap alergi.
  • Meski dilingkungan banyak terdapat orang sakit flu kalau daya tahan tubuh baik akan akan terhindar, tidak terlalu mudah, lebih jarang atau paling tidak gangguan sakitnya lebih ringan.
  • Faktor ASI, Gizi dan imunisasi flu mempengaruhi kekebalan tubuh anak. Namun banyak kasus meski minum ASI, anaknya gemuk dan makanannya bergizi dan sudah diberi imunisasi flu tetapi masih sering sakit. Hal ini terjadi karena tidak dicari penyebab utama mengapa daya tahan tubuhnya tidak baik,
  • Penderita batuk lama dan pilek lama atau yang sering sakit ini tidak benar tertular dengan mekanisme pingpong. Mekanisme pingpong sering diistilah masyarakat, kalau penderita satu sakit, terkena lainnya dan kembali lagi ke penderita pertama. Karena bila seseorang sudah terkena infeksi virus tertentu selanjutnya akan mempunyai kekebalan terhadap virus tersebut dalam jangka waktu tertentu. Bila penderita tersebut sakit lagi pasti tertular virus baru lainnya.

Kenali Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivities) faktor resiko utama pada penderita dengan daya tahan tubuh menurun

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak dan orang dewasa:
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK YANG MUDAH SAKIT

  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
  • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK YANG MUDAH SAKIT

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain

KOMPLIKASI SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK YANG MUDAH TERTULAR SAKIT

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi). Hanya mau makanan yang crispy atau renyah seperti : krupuk, biskuit dan sebagainya. Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • Mengalami laringitis (radang pita suara dengan gejala suara serak, batuk berbunyi grong-grong seperti gonggongan anjing)). Bronkitis akut (batuk yang berat
  • Gangguan Telinga. Menderita nyeri telinga saat batuk atau pilek, infeksi telinga, atau Otitis Media Akut (bahasa awam penyakit congek telinga)
  • Sinusitis. Bila sakit pilek lama dan berulang sakit 1-2 kali setiap bulan dalam jangka waktu lebih dari 3-6 bulan dapat beresiko terjadi sinusitis
  • Pembesaran Kelenjar. Mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala bagian belakang. Kadang timbul pembesaran kelenjar yang besar mirip gondong tetapi hanya satu suisi. Gangguan ini sering sikelirukan dengan penyakit gondong.
  • Berat Badan Sulit Naik. Mangalami gangguan kenaikkan berat badan anak tampak kurus dan berat badan sulit naik
  • Infeksi Berat. Mengalami infeksi berat seperti pnemonia, infeksi otak, meningitis dan sebagainya
  • Overtreatment Antibiotika. Sering mendapatkan overtreatment atau pemberian antibiotika yang berlebihan, padahala sebagian besar infeksi yang terjadi adalah infeksi virus yang seharusnya tanpa pemberian antibiotika sembuh sendiri
  • Tonsilitis atau amandel. Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu atau mengalami. Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN

Bila anak yang mudah sakit tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) maka sangat mungkin gangguan dayata tahan tubuh yang buruk dari anak yang mudah sakit tersebut diperberat oleh karena alergi atau hipersensitifitas makanan.

DIAGNOSIS

  • Diagnosis gangguan alergi saluran cerna yang terjadi pada anak mudah sakit dan diperberat alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan gangguan gangguan alergi saluran cerna yang terjadi pada anak mudah sakit yang disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Bila anak sering sakit dan mengalami gangguan fungsi saluran cerna maka sangat mungkin makanan sangat berperanan dalam buruknya daya tahan tubuh anak tersebut.
  • Coba baca dan ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dalam keadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah.
  • Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi. Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran makanan tertentu harus dilakukan. Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI.
  • Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Dari pengamatan penulis penyebab utama anak mudah sakit adalah selain daya tahan tubuh menurun juga karena adanya kontak yang sering sakit dirumah, Gangguan orang yang mudah sakit ini sering ditandai badan sering ngilu, capek, lelah, nyeri tenggorokan, batuk, pilek berkepanjangan. Penderita seperti ini sering dianggap karena terlalu lelah atau alergi. Penderita alergi opada umumnya mudah mengalami infeksi. Namun seringkali sulit membedakan antara alergi dan infeksi, sehingga keluhan infeksi virus seringkali dianggap alergi. Kontak sakit yang sering sakit inipun harus diintervensi karena sebagai sumber penyebab orang sakit lainnya di rumah. Dan harusndicermati permasalahan nya seperti sama seperti yang di atas. Biasanya salah satu orang tua yang wajahnya sama akan punya karakteristik fenotip kesehatan yang sama. Artinya bila si Ayah yang srring sakit flu wajahnya sama dengan anak pertamanya, maka anak pertamanya tersebut juga akan beresiko sering sakit.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat mungkin akan memperparah masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit.
  • Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Wald ER, Guerra N, Byers C. Frequency and severity of infections in day care: three-year follow-up. J Pediatr 1991;118(4 (Pt 1)):509-141. Nafstad P, Hagen JA, Pie L, Magnus P, Jaakkola JJK. Day care centers and respiratory health. Pediatrics 1999;103:753-8.3. Heikkinen T, Ruuskanen O, Ziegler T, Waris M, Puhakka H. Short-term use of amoxicillin clavulanate during upper respiratory tract infection for prevention of acute otitis media. J Pediatr 1995;126:313-64. Uhari M, Kontiokari T, Koskela M, Niemelä M. Xylitol chewing gum in prevention of acute otitis media: double blind randomised trial. BMJ 1996;313:1180–4.5. American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Influenza Immunization of Children. Pediatrics 2004;113(5):1441-7 6. Straetemans M, Sanders EAM, Veenhoven RH, Schilder AGM, Damoiseaux RAMJ, Zielhuis GA. Pneumococcal vaccines for preventing otitis media. Cochrane Database Syst Rev. 2004;(1):CD001480. 7.Palmu AA, Verho J, Jokinen J, Karma P, Kilpi TM. The seven-valent pneumococcal conjugate vaccine reduces tympanostomy tube placement in children. Ped Inf Dis J 2004;23(8):732-8. In: The Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL) 2005, . 8Fahey T, Stocks N, Thomas T. Systematic review of the treatment of upper respiratory tract infection. Archives of Diseases in Childhood 1998;79:225–230. 9Judarwanto W. Recurrent Infection in Infant under 6 months old with breastfeeding. 10.Morris P. Antibiotics for persistent nasal discharge (rhinosinusitis) in children. Cochrane Database Syst Rev. 2002;(3). 11Yang KD, Hill HR. Neutrophil function disorders: pathophysiology, prevention, and therapy. J Pediatr 1991;119:343-54. 12. Wheeler JG, Steiner D. Evaluation of humoral responsiveness in children. Pediatr Infect Dis J 1992;11:304-10. 13. Moss RB, Carmack MA, Esrig S. Deficiency of IgG4 in children: association of isolated IgG4 deficiency with recurrent respiratory tract infection. J Pediatr 1992;120:16-21

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA

Artikel Khusus berkaitan dengan Alergi makanan Dengan berbagai manifestasi Klinis yang menyertai

KUMPULAN ARTIKEL PENTING TENTANG ALERGI MAKANAN

www.allergycliniconline.com

Supported by: ALLERGY ONLINE CLINIC FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT Yudhasmara Foundation www.allergycliniconline.com GROW UP CLINIC I Address: JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021) 5703646 – 085101466102 – 085100466103 GROW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Address: Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 29614252 – 081315922012 – 081315922013 www.growup-clinic.com Facebook: FB-Growup Clinic Page Facebook : Allergy Clinic Online. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician Editor: Audi Yudhasmara email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: ***Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Curriculum Vitae Widodo Judarwanto

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s