Tic, Sindrom Tourettes dan Alergi Makanan

Hipotesis bahwa makanan tertentu atau alergen berkaitan dengan kejang telah berulang kali  dilaporkan dalam literatur selama abad terakhir. Beberapa studi klinis telah menyoroti prevalensi yang sangat tinggi dari gangguan alergi pada pasien yang mengalami gangguan kejang kghsusnya. Penelitian yang telah dilakukan Chang menunjukkan bahwa 845 penderita pasien Tourettes Sindrom yang  didiagnosa pada 2003-2007 dibandingkan 3378 frekuensi kontrol cocok dengan kasus pada usia, jenis kelamin, dan tingkat urbanisasi. Unconditional regresi logistik diperkirakan rasio odds (OR) dan interval kepercayaan 95% (CI) dari hubungan antara penyakit alergi seperti rinitis alergi, dermatitis atopik, asma, dan konjungtivitis alergi dan  jumlah komorbiditas alergi.

Serangan kejang bukan epilepsi

Serangan kejang bukan epilepsi (SKBE) telah lama dikenal dan sering menyulitkan para pakar di bidang neurologi atau epilepsi. Istilah yang sering digunakan adalah Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau nonepileptic attack disorders. Seangan tersebut mirip epilepsi tetapi tidak disertai lutpan muatan listrik abnormal di otak atau dalam pemeriksaan EEG normal. Gangguan-gangguan tersebut dalam penatalaksanaannya sering tidak optimal. Dalam pemberian obat antiepilepsi sering tidak berespon dengan baik. SKBE diklasifikasikan menjadi fisiologik dan psikologik.

Yang Termasuk Gangguan serangan kejang Non epilepsi yang disebabkan karena gangguan fungsi sistem otak adalah : BREATH HOLDING SPELL, BENIGN PAROXYSMAL VERTIGO, RECURRENT ABDOMINAL, MIGREN, TRANSIENT GLOBAL AMNESIA, HIPERVENTILASI, SINKOP KARDIOGENIK, SINKOP NONKARDIOGENIK, GANGGUAN PEMBULUH DARAH OTAK dan GANGGUAN GERAKAN ”MOTOR SPELL” seperti  HEADBANGING, JITTERINESS, BENIGN INFANTILE MYOKLONUS, TICS, SINDROMA TOURETTES dan GERAKAN CHOREIFORM

Sindrom Tourettes

Tourettes Sindrom ini ditemukan oleh Dr  George Gilles de la Tourette yang pertama kali melaporkan kondisi dalam literatur medis pada tahun 1885. Sindrom Tourettes diketahui berjalan dalam keluarga, meskipun ada kasus Sindrom Tourettes sporadis di mana tidak ada link keluarga yang dikenal dengan kondisi. Kondisi ini cenderung mempengaruhi laki-laki sekitar tiga kali lebih banyak daripada wanita.  Hal ini disebabkan oleh masalah dalam pengembangan dari Sistem Saraf Pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan sering menjadi jelas sekitar usia 7 tahun meskipun umum untuk gejala  menampakkan diri dalam tahun-tahun remaja awal juga. Ada dua gejala utama Sindrom Tourettes.  Fisik Tic dengan  gejala berkedut wajah, berkedip, gerakan tangan dan kaki. Vokal Tic berupa membuat suara disengaja atau kadang-kadang kata-kata.

Gejala ini disebabkan oleh Tourettes cenderung muncul sekitar usia 7 meskipun mereka kadang muncul pada anak yang lebih tua.  Gejala-gejala cenderung sangat ringan walaupun itu tidak menghentikan mereka dari yang cukup memalukan dan sering pasien dapat menderita intimidasi dari anak-anak lain. Dalam kebanyakan kasus, gejala-gejala dari Sindrom Tourettes menjadi jauh lebih sedikit seiring berjalannya waktu.  Namun, dalam beberapa kasus, gejala-gejala menjadi lebih buruk sebagai pasien menjadi lebih tua.  Kadang-kadang, Tics fisik atau vokal dapat mengganggu kehidupan pasien untuk banyak.

Telah dicatat bahwa situasi stres dapat membuat gejala Sindrom Tourettes jauh lebih buruk.  Juga, penting untuk mengetahui bahwa gejala di mana penderita tanpa sadar mengucapkan kata-kata cabul terus, yang meskipun kepercayaan populer cukup langka.

Kondisi itu sendiri, diyakini disebabkan oleh masalah dalam pengembangan Central Nervous System (otak dan sumsum tulang belakang).  Ini melibatkan neurotransmitter.  Ada kemungkinan bahwa Tourettes disebabkan oleh Central Nervous System berkembang dalam cara yang tidak merata.

Karena penyebab Sindrom Tourettes tidak diketahui secara pasti, sangat sulit untuk mendirikan sebuah metode generik untuk mengobati kondisi ini. Sebagian besar penderita mengalami gejala Sindrom Tourettes yang sangat ringan sehingga tidak memerlukan pengobatan apapun.  Namun, bagi mereka yang menderita gejala lebih buruk, ada beberapa obat yang akan meringankan gejala.  Namun, tidak ada pengobatan khusus yang akan memperlakukan semua orang.  Untuk beberapa orang satu jenis obat dapat bekerja sempurna, tetapi untuk pasien lain, hal itu mungkin tidak efektif.  Seperti obat yang paling, beberapa efek samping obat ini dapat membuat manfaat tidak layak.  Beberapa efek samping dapat berupa pertambahan berat badan.

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
  • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong
 

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)

KOMPLIKASI SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi). Hanya mau makanan yang crispy atau renyah seperti : krupuk, biskuit dan sebagainya. Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu atau mengalami Infeksi Telinga. Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN

Bila tanda dan gejala Tick pada SindromaTourettes tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) maka sangat mungkin gangguan berbagai jenis kejang tersebut diperberat oleh karena alergi atau hipersensitifitas makanan.

Penyebab lain yang memperberat gangguan Tick pada SindromaTourettes tersebut adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna

DIAGNOSIS

Bila terdapat tanda dan gejala gangguan Tick pada Sindroma Tourettes yang berulang tidak sembuh. Bila telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli dan pemeriksaan tambahan EEG, CT Scan atau MRI tidak ditemukan penyebab pasti kelainannya, maka jangan lupa dipikirkan penyebabnya adalah alergi makanan atau reaksi dari makanan

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis gangguan Tick pada Sindroma Tourettes tersebut yang disebabkan dan diperberat alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan gangguan Tick pada Sindroma Tourettes yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti kejang , anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dalam keadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah.

Obat

  • Pengobatan gangguan Tick pada Sindroma Tourettes yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan anti kejang, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menangani gangguan Tick pada Sindroma Tourettes tersebut yang diperberat atau disebabkan karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

Daftar Pustaka

  • Chang YT, Li YF, Muo CH, Chen SC, Chin ZN, Kuo HT, Lin HC, Sung FC, Tsai CH, Chou IC. Correlation of Tourette syndrome and allergic disease: nationwide population-based case-control study. J Dev Behav Pediatr. 2011 Feb-Mar;32(2):98-102.
  • Müller-Vahl KR, Buddensiek N, Geomelas M, Emrich HM. The influence of different food and drink on tics in Tourette syndrome.   Acta Paediatr. 2008 Apr;97(4):442-6. Epub  2008 Feb 27.
  • Ho CS, Shen EY, Shyur SD, Chiu NC. Association of allergy with Tourette’s syndrome. J Formos Med Assoc. 1999 Jul;98(7):492-5.
  • Hogan MB, Wilson NW. Tourette’s syndrome mimicking asthma. J Asthma. 1999 May;36(3):253-6.
  • Kim H, Moote W, Mazza J. Tourette’s syndrome in patients referred for allergy evaluation. Ann Allergy Asthma Immunol. 1997 Oct;79(4):347-9.
  • Allergy and Tourette’s syndrome. Ann Allergy. 1986 Jun;56(6):507-8.
  • Chase TN, Geoffrey V, Gillespie M, Burrows GH.   Structural and functional studies of Gilles de la Tourette syndrome. Rev Neurol (Paris). 1986;142(11):851-5.
  • Finegold I. Allergy and Tourette’s syndrome. Ann Allergy. 1985 Aug;55(2):119-21
  • Feingold BF. Dietary management of nystagmus. J Neural Transm. 1979;45(2):107-15.
  • Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy. J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  • Dzialek E. Allergologic aspects of epilepsy. Neurol Neurochir Pol. 1975 Jul-Aug;9(4):469-72. Polish.
  • Fein BT, Kamin PB. Allergy, convulsive disorders and epilepsy. Ann Allergy. 1968 May;26(5):241-7.
  • Frediani T, Pelliccia A, Aprile A, Ferri E, Lucarelli S. Partial idiopathic epilepsy: recovery after allergen-free diet Pediatr Med Chir. 2004 May-Jun;26(3):196-7.
  • Frediani T, Lucarelli S,Pelliccia A, Vagnucci B, Cerminara C, Barbato M, Cardi E. Allergy and childhood epilepsy: a close relationship Acta Neurol Scand. 2001 Dec;104(6):349-52.
  • Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  • Pelliccia A, Lucarelli S, Frediani T, D’Ambrini G, Cerminara C, Barbato M, Vagnucci B, Cardi E. Partial cryptogenetic epilepsy and food allergy/intolerance. A causal or a chance relationship? Reflections on three clinical cases Minerva Pediatr. 1999 May;51(5):153-7
  • Rose GA. Food sensitivity and epilepsy J R Soc Med. 1993 Feb;86(2):119
  • Crayton JW, Stone T, Stein G.Epilepsy precipitated by food sensitivity: report of a case with double-blind placebo-controlled assessment. Clin Electroencephalogr. 1981.
  • Bardella M T, Molteni N, Prampolini L. et al Need for follow up in coeliac disease. Arch Dis Child 1994. 70211–213.
  • Hall K. Allergy of the nervous system : a review Ann Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
  • Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child
  • Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
  • Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
  • William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.
  • Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003
  • Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14
  • Levy Y, et al. Show all Journal Nutrition. 2011 Mar;27(3):380-2. The modified Atkins diet for intractable epilepsy may be associated with late-onset egg-induced anaphylactic reaction: a case report. Nutrition. 2011 May;27(5):615-6.
  • Partial cryptogenetic epilepsy and food allergy/intolerance. A causal or a chance relationship? Reflections on three clinical cases. Pelliccia A, Lucarelli S, Frediani T, D’Ambrini G, Cerminara C, Barbato M, Vagnucci B, Cardi E.Minerva Pediatr. 1999 May;51(5):153-7.
  • Partial idiopathic epilepsy: recovery after allergen-free diet. Frediani T, Pelliccia A, Aprile A, Ferri E, Lucarelli S.Pediatr Med Chir. 2004 May-Jun;26(3):196-7.
  • Allergy and childhood epilepsy: a close relationship? Frediani T, Lucarelli S, Pelliccia A, Vagnucci B, Cerminara C, Barbato M, Cardi E. Acta Neurol Scand. 2001 Dec;104(6):349-52.
  • Magnetoencephalographic and electroencephalographic evaluation in patients with cryptogenetic partial epilepsy. Verrotti A, Pizzella V, Madonna L, Franciotti R, Trotta D, Morgese G, Chiarelli F, Romani GL. Neurophysiol Clin. 2003 Sep;33(4):174-9.
  • Frediani T, Pelliccia A, Aprile A, Ferri E, Lucarelli S. Partial idiopathic epilepsy: recovery after allergen-free diet Pediatr Med Chir.2004 May-Jun;26(3):196-7
  • Frediani T, Lucarelli S,Pelliccia A, Vagnucci B, Cerminara C, Barbato M, Cardi E. Allergy and childhood epilepsy: a close relationship Acta Neurol Scand. 2001 Dec;104(6):349-52.
  • Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  • Pelliccia A, Lucarelli S, Frediani T, D’Ambrini G, Cerminara C, Barbato M, Vagnucci B, Cardi E. Partial cryptogenetic epilepsy and food allergy/intolerance. A causal or a chance relationship? Reflections on three clinical cases Minerva Pediatr. 1999 May;51(5):153-7
  • Rose GA. Food sensitivity and epilepsy J R Soc Med. 1993 Feb;86(2):119\
  • Epilepsy precipitated by food sensitivity: report of a case with double-blind placebo-controlled assessment. Clin Electroencephalogr. 1981
  • Dzialek E. Allergologic aspects of epilepsy. Neurol Neurochir Pol. 1975
  • Ida Anjomshoaa,a Margaret E. Cooper,b and Alexandre R. Vieir. Caries is Associated with Asthma and Epilepsy. Eur J Dent. 2009 October; 3(4): 297–303.

Provided by

CHILDREN ALLERGY CLINIC ONLINE

Yudhasmara Foundation htpp://www.allergyclinic.wordpress.com/

WORKING TOGETHER FOR STRONGER, SMARTER AND HEALTHIER CHILDREN BY EDUCATION, CLINICAL INTERVENTION, RESEARCH AND INFORMATION NETWORKING. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

LAYANAN KLINIK KHUSUS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

PROFESIONAL MEDIS “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation
  • Dr Widodo Judarwanto SpA, Pediatrician
  • Fisioterapis

Clinical and Editor in Chief :

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician email : judarwanto@gmail.com, Curiculum Vitae

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2012, Children Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s