Malam Rewel, Kolik dan Alergi Pada Bayi

Orangtua, nenek dan seisi rumah sempat panik ketika sang bayi sering menangis, menjerit dan rewel terus pada malam hari . Keluhan tersebut sangat mungkin adalah kolik pada bayi yang sering terjadi saat usia di bawah 3 bulan. Pada penderita kolik, ibu tampak sering kewalahan ketika bayinya menangis terus padahal baru saja minum ASI cukup lama dan cukup banyak sehingga saat bayi menangis dalam waktu dekat produksi ASI habis. Melihat tangisan yang cukup keras dan sering tersebut si ibu panik dan beranggapan bahwa ASInya kurang. Maka terpikirlah untuk memberi susu formula, apalagi nenek si bayi terus mendesak memberi susu formula karena kasihan cucunya menangis terus.  Sampai saat ini kolik dianggap masih belum diketahui penyebabnya. Tetapi sebenarnya banyak penelitian terakhir yang mengungkapkan bahwa hal tersebut sangat mungkin berkaitan dengan alergi.

Gangguan saluran cerna berulang seperti kolik, muntah, diare, nyeri perut, sulit BAB merupakan gejala penyakit yang sering dikeluhkan pada penderita anak yang melakukan rawat jalan. Gangguan fungsi saluran cerna berupa kolik dan nyeri perut meskipun tidak berbahaya tetapi merupakan gangguan yang sangat mengganggu. Gangguan fungsional tersebut biasanya bersifat jangka panjang akan hilang timbul munculnya kadang sulit dideteksi penyebabnya.

Hingga saat ini ganggguan tersebut belum banyak terungkap jelas penyebabnya. Sehingga banyak kontroversi timbul dalam menyikapi gangguan ini. Namun tampakmya misteri tersebut sudah mulai terkuak. Ternyata penderita alergi khususnya saluran cerna sering berkaitan dengan keluhan kolik dan nyeri perut pada anak. Banyak ahli berpendapat bahwa gangguan ini diduga penyebabnya adalah imaturitas (ketidakmatangan) saluran cerna, sehingga dengan pertambahan usia gangguan tersebut akan berkurang.

Banyak penelitian menunjukkan penyakit alergi tampaknya berperanan paling utama sebagai penyebab dalam kasus tersebut. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali, terutama saluran cerna. Gangguan organ tubuh seperti saluran cerna sering kurang perhatian sebagai target organ reaksi yang ditimbulkan dari alergi makanan. Selama ini yang dianggap sebagai target organ adalah kulit, asma dan hidung.

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistim tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Fungsi organ tubuh yang sering terlibat dalam proses terjadinya alergi makanan adalah saluran cerna. Gejala gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan adalah muntah, diare, konstipasi, kolik, nyeri perut, sariawan dan sebagainya.

ALERGI MAKANAN DAN IMATURITAS SALURAN CERNA

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang

Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autis.

Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergi ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan rusaknya bahan penyebab alergi (denaturasi allergen). Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen (penyebab alergi) masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak saluran cerna masih imatur (belum matang). Sehingga sistim pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.

Saluran cerna adalah target awal dan utama pada proses terjadinya alergi makanan. Karena penyebab utama adalah imaturitas (keitidak matangan) saluran cerna maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan. Dengan pertambahan usia secara bertahap imaturitas saluran cerna akan semakin membaik hingga pada usia 5 atau 7 tahun. Hal inilah yang menjelaskan kenapa alergi makanan akan berkurang dengan pertambahan usia terutama di atas 5 atau 7 tahun.

MANIFESTASI KLINIS KOLIK PADA BAYI

  • Kolik adalah kondisi di mana bayi yang sehat menangis terus-menerus tanpa ada penyebab pasti. Selama bertahun-tahun terjadi perdebatan di dunia medis tentang penyebab kolik. Yang paling umum adalah teori perut kembung/gastrointestinal. Penelitian juga menyebutkan, rata-rata 1 dari 5 bayi menderita kolik. Ciri-ciri kolik, menangis 3 jam sehari, selama 3 hari dalam seminggu, dan lebih dari 3 minggu berturut-turut (atau, dengan kata lain, menangis tanpa henti!), terutama di malam hari. Sering susah buang angin, sampai muka merah padam, sering gumoh bahkan sampai muntah, pencernaan tampak bermasalah. Perut kembung kalau ditekan, tidur juga gelisah.
  • Gangguan kolik atau nyeru perut bisa timbul dalam derajat ringan sampai berat. Pada keadaan ringan biasanya ditandai bayi sering rewel, sering minta minum padahal bayi tidak haus. Pada keadaan ini bila dipaksa minum bisa timbul muntah karena perut sudah penuh. Pada keadaan berat biasanya ditandai seperti kesakitan, menjerit atau menangis terus menerus tanpa sebab selama lebih 30 menit. Gangguan ini biasanya lebih sering terjadi pada malam. Gangguan inilah yang mengakibatkan bayi sering tidak bisa tidur malam hari dan siang hari jam tidurnya sangat panjang. Gangguan kolik diduga karena perut bayi mengalami nyeri dan sakit. Penelitian yang dilakukan penulis, bayi yang mempunyai gejala kolik saat usia 2 hingga 7 tahun beresiko terjadi keluhan sakit perut yang berulang. Pada penderita kolik beresiko terjadi gangguan nyeri perut saat timbul demam.
  • Penderita kolik pada bayi biasanya pada usia besar sangat berpotensi terjadi keluhan nyeri perut berulang. Kadang nyeri perut ini seperti rasa buang air besar tetapi saat di kloset anak tidak jadi buang air besar. Pada anak yang belum bisa bicara atau mengungkapkan keluhan biasanya ditandai dengan sering memegang perut. Nyeri biasanya bersifat hilang timbul dan berlangsung sebentar. Seringkali keluhan ini dianggap anak pura-pura sakit karena keluhan berlangsung sebentar dan hilang timbul. Gangguan ini juga ditandai dengan posisi tidur ”nungging” saat malam atau pagi hari. Posisi tersebut adalah posisi alamiah anak untuk mengatasi rasa tidak nyaman di perutnya.

Anak Rewel, Kolik Pada Bayi dan ASI Kurang

Seorang ibu muda tampak sering kewalahan ketika bayinya menangis terus padahal baru saja minum ASI cukup lama dan cukup banyak sehingga saat bayi menangis dalam waktu dekat produksi ASI habis. Melihat tangisan yang cukup keras dan sering tersebut si ibu panik dan beranggapan bahwa ASInya kurang. Maka terpikirlah untuk memberi susu formula, apalagi nenek si bayi terus mendesak memberi susu formula karena kasihan cucunya menangis terus. Ternyata banyak kasus seperti itu terjadi. Orangtua sulit membedakan antara haus dan rasa tidak nyaman pada bayi. Penderita alergi dan hipersensitifitas pada bayi sering terjadi bayi rewel atau merasa tidak nyaman pada saluran cernanya sehingga sering menangis. Keadaan ini sering dianggap minta minum atau kehausan. Keadaan ini oleh orang awam sering disebut sebagai “bayi bau tangan”. Hal ini sering merngacaukan program ASI ekslusif karena Ibu tidak percaya diri dan menganggap ASInya tidak banyak.

Sudah cukupkah jumlah ASI untuk anak saya? Masalah ini mungkin merupakan pertanyaan yang paling sering ditanyakan ibu menyusui saat konsultasi ke dokter. Pertanyaan ini wajar terjadi, karena ternyata banyak bayi yang tetap saja minta minum meskipun minum ASI sudah lama dan cukup sering.

Kekawatiran ASI kurang atau Fobia ASI kurang adalah perasaan yang tidak benar pada ibu yang menganggap bahwa produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi. Keadaan ini terjadi karena adanya gejala gejala tertentu pada bayi yang masih dianggap haus padahal bayi sudah minum banyak. Gejala ini cukup menyesatkan dan dianggap bahwa bayi masih kurang minum sehingga pemberian susu formula ditambahkan. Pada akhirnya hal inilah yang seringkali menggagalkan program ASI eksklusif.

Gejala ”Haus Palsu”

  • Beberapa gejala pada bayi yang timbul bukan karena rasa haus dan lapar dapat disebut gejala palsu. Gejala ini seringkali timbul karena ada yang dirasakan tidak nyaman pada tubuh bayi. Gejala yang timbul biasanya tampak bayi bila minum susu terburu-buru, tidak sabar, seringkali minta minum (kurang dari 11/2 jam) atau sering ngempeng.
  • Keadaan ”Gejala Haus Palsu” ini seringkali mengakibatkan kegagalan program ASI eksklusif. Ibu sering merasa letih dan kurang tidur karena tampak bayi sering minta minum dan hanya terus ”ngempeng” (tidak menyedot) puting susu. Akhirnya karena kondisi tersebut keputusan pemberian susu formula dilakukan.
  • Ketidaknyamanan pada bayi ini seringkali terjadi karena rasa sakit atau gangguan pada saluran cerna bayi. Keadaan ini sering terjadi karena imaturitas saluran cerna pada bayi masih belum sempurna. Biasanya dengan pertambahan usia terutama di atas usia 3 bulan gangguan ini akan membaik. Gangguan tersebut sering terjadi pada penderita dengan bakat alergi.
  • Gangguan pada saluran cerna dapat dianggap sebagai penyebab bila terjadi gejala bayi sering muntah atau gumoh, kembung, hiccup (“cegukan”), buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 4 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Sering “ngeden. Kadang disertai hernia Umbilikalis (benjolan pada pusar/”bodong”) bahkan juga hernia scrotalis, inguinalis karena sering ngeden.
  • Gangguan saluran cerna karena alergi ini biasanya semakin meningkat saat malam hari. Pola diurnal malam hari ini juga terjadi pada gangguan alergi lainnya seperti napas grok-grok, batuk, asma, hidung buntu dan sebagainya. Pola ini juga berkaitan mengapa bayi sering rewel malam hari dan mengapa bayi lebih sering minta minum malam hari. Gangguan saluran cerna ini disertai lidah timbul putih seperti jamur dan bibir kering. Gangguan saluran cerna tersebut seringkali disertai gangguan hidung dan kulit. (lihat lampiran 1.Tampilan klinis yang sering dikaitkan dengan alergi pada bayi). Meskipun sangat jarang sebagai penyebab tetapi popok basah, kedinginan atau udara panas bisa mengakibatkan ”gejala haus palsu” ini timbul.
  • Selain ”Gejala Haus Palsu” juga didapatkan ”Tanda Haus Palsu’. ”Tanda Haus Palsu’, adalah gerakan dan tanda pada bayi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan rasa haus pada bayi tetapi dianggap bayi kurang minum. Tanda tersebut diantaranya adalah ”Reflek sucking” (bila disentuh pipi mulut mengikuti tangan seperti ingin dihisap) yang berlebihan, lidah sering menjulur-julur, memasukkan tangan ke mulut, timbul gerakan mengecap pada mulut bayi dan sebagainya. Tanda tersebut bukan merupakan rasa haus, dapat dilihat setelah minum banyak tanda tersebut masih sering dilakukan oleh bayi.
  • Pada keadaan ”Gejala Haus Palsu” dan ”Tanda Haus Palsu” biasanya bayi mengalami ”overfeeding”. ”Overfeeding” adalah bayi mendapatkan jumlah ASI melebihi kebutuhan normal nutrisi pada bayi, sehingga berat badan bayi tampak meningkat pesat. Biasanya berat badan bayi bertambah melebihi 750 gram dalam 2 minggu atau lebih dari 1 kg dalam sebulan

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan badan dan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala atau memukul-kepala. Sering menggeleng-gelengkan kepala berlebihan.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, atau wajah orang yang menggendong. Sering menggigit atau menarik dengan mulut puting Ibu, menjilat, mencubit, menjambak atau seperti mudah “gemes”, sering menggigit tangan atau punggung yang menggendong.
  • GANGGUAN KONSENTRASI: mudah bosan, bila memegang atau melihat mainan cepat berpindah ke mainan atau hal lain.
  • EMOSI TINGGI: bila minta minum tidak sabar atau terburu-buru. Sering berteriak teriak, atau bila menangis sangat keras sekali dan lama.
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara mudah kaget
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, mengoceh berkurang atau menghilang dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, terlambat makan nasi tim saring, bila ada makanan yang berserat sedikit tidak mau atau dikeluarkan dari mulut. Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, terlambat makan nasi tim saring, bila ada makanan yang berserat sedikit tidak mau atau dikeluarkan dari mulut. Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. Pada kasus seperti ini biasanya berat badan mulai tidak baik saat usia 4-6 bulan saat diberi susu tambahan atau makanan tambahan baru.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS, biasanya sering terjadi pada bayi yang pada malam hari sering minta minum susu karena rewel, selama ini hal tersebut dianggap kehausan atau minum susu padahal ada yang tidak nyaman (biasanya di saluran cerna, coba perhatikan gejala gangguan saluran cerna pada bayi alergi)
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali). Pada bayi pemberian ASI ekslusif seharusnya sebelum usia 6 bulan tidak akan mengalami sakit batuk, pilek atau diare tetapi pada kasus ini beberapa kali mengalaminya. Biasanya sering terjadi infeksi semakin lebih mudah tertular setelah usia 6 bulan.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA

Kolik Pada Bayi, Alergi dan Infeksi Virus

  • Gangguan fungsional saluran cerna berupa kolik pada bayi tersebut akan berlangsung lama dan keluhan berlangsung hilang timbul khususnya saat usia di bawah 3 bulan. Selain karena alergi makanan gangguan tersebut dapat juga diperberat atau dipicu karena adanya infeksi virus. Pada bayi adalah saat anak terkena infeksi saluran napas atas ke;uhan yang timbul seperti nafas bunyi grok-grok (hipersekresi bronkus), bersin, batuk ringan, badan hangat teraba di tangan atau kepala tetapi saat diukur suhu normal, muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna. Biasanya disertai manifestasi kulit kemerahan (bruntusan,rash, seperti biang keringat di dahi, kulit merah di punggung dan dada yang mengelupas saat penyembuhan dan gangguan terakhir ini sering dikira karena terkena minyak telon atau obat gosok lainnya). Infeksi ringan yang biasanya disebabkan karena infeks virus ini seringkali diabaikan atau tidal terdeteksi oleh para klinisi karena gangguannya sangat ringan. Hal inilah yang sering salah diagnosis atau overdiagnosis nyeri perut dianggap karena alergi susu sapi padahal sebelumnya minum susu sapi sudah 2-6 bulan tidak mengalami gangguan apapun. Alasan klinisi tentang gejala yang timbul baru terjadi kemudian itu dianggap karena sensitisasi butuh waktu juga tidak benar. Karena, untuk sensitisasi tidak perlu waktu yang demikian lama, dan biasanya bayi sudah tersensitisasi susu sapi sejak usia dalam kehamilan. Banyak kasus pada penderita tersebut setelah dilakukan provokasi atau dicoba susu sapi ternyata memang tidak mengalami gangguan sedikitpun
  • Pada keadaan infeksi virus inilah biasanya kolik atau nyeri perut berlangsung hebat. Sehingga kadangkala gangguan fungsional ini sulit dibedakan dengan kelainan radang usus buntu. Bila tidak cermat kadangkala sering terjadi ”overdiagnosis” dan ”overtreatment” gangguan usus buntu artinya belum tentu mengalami usus buntu tetapi didiagnosis dan dioperasi sebagai usus buntu. Sehingga pada penderita dengan riwayat kolik dan sering nyeri perut apabila divonis usus buntu bila diagnosis belum jelas sebaiknya melakukan pendapat kedua atau ”second opinion” segera ke dokter lainnya.

KOMPLIKASI

  • Bila terjadi gangguan saluran cerna, komplikasi yang sering terjadi adalah mudah sakit (infeksi berulang) kesulitan makanan, merangsang fungsi otak dan perilaku anak.
  • Infeksi berulang pada anak adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang anak khususnya infeksi saluran napas akut. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif jarang terjadi.
  • Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autis dan ADHD.
  • Gangguan pencernaan inilah yang bisa mengakibatkan rangsangan atau gangguan ke otak meningkat. Gangguan ke otak itu sendiri banyak menimbulkan keluhan perkembangan dan perilaku pada anak. Sehingga sekecil apapun gangguan pencernaan tersebut timbul berulang maka harus diwaspadai lebih dini. Hal itu akan diungkap selanjutnya lebih jelas.
  • Hal tersebut dapat dilihat pada tampilan klinis bayi atau anak. Saat terjadi serangan kolik dan nyeri perut maka tampak aktifitas, agresifitas dan emosionalitas bayi dan anak tampak meningkat. Hal ini dapat dilihat pada bayi timbul manifestasi bila minum tidak sabaran dan selalu menangis keras. Tampak agresifitas bayi meningkat sehingga berperilaku menggigit puting ibu sehingga sering lecet. Bayi juga akan tampak lebih aktif hal ini ditandai dengan gerakan tangan dan kaki pada bayi sangat banyak. Gejala tersebut seringkali disertai peningkatan ”head banging”, ditandai dengan kepala bayi sering mendongak atau menekuk ke atas dan mata sering melirik ke atas. Pada anak yang lebih besar ditandai dengan emosi meningkat, keras kepala, negatifisme meningkat. Aktifitas anak lebih meningkat, tidak bisa diam bergerak terus, memanjat melompat dan berlari tidak tentu arah. Begitu juga agresifitas anak meningkat ditandai dengan anak sering menggigit, memukul atau melempar barang.

DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN DAN KOLIK

Bila tanda dan gejala kolik pada bayi  tersebut terjadi pada anak anda dan disertai salah satu gangguan saluran cerna serta beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin kolik pada bayi  harus dicurigai disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis kolik pada bayi yang disebabkan alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab kolik  tersebut harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah melakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan nyeri perut dan kolik tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan. Ternyata saat gangguan nyeri perut atau kolik berkurang juga disertai gejala agresifitas, aktifitas dan emosionalitas juga berkurang.
  • Tes kulit alergi yang banyak dilakukan para ahli alergi untuk mencari penyebab alergi memang cukup sensitif, tetapi ternyata spesifitasnya tidak tinggi. Sehingga sering terjadi ”false negatif” artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Banyak reaksi simpang makanan karena alergi sering terjadi reaksi lambat. Pada tes kulit memang cukup sensitif pada reaksi alergi tipe cepat, tetapi reaksi tipe lambat sulit terdeteksi.
  • Sedangkan tes alergi lainnya masih sangat kontroversi dan belum terbukti secara klinis, sehingga tidak dianjurkan sebagai alat diagnosis. Tetapi ternyata pemeriksaan alergi tersebut masih banyak digunakan oleh beberapa klinisi dan praktisi medis lainnya. Pemeriksaan tersebut diantaranya adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests

PENANGANAN

  • Bila terdapat satu atau beberapa gangguan hipersensitif saluran cerna dan disertai beberapa gejala lain yang menyertai maka sangat mungkin gangguan saluran cerna tersebut berkaitan sebagai faktor penyebab atau pemicu. Sangat mungkin gangguan  tersebut disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna yang diperberat oleh alergi atau hipersesnitif makanan. Misalnya saat bayi rewel atau kolik seringkali terjadi keluhan kulit sensitif atau gangguan buang air besar atau muntah lebih sering, nafas grok-grok, bersin dan pilek secara bersamaan.
  • Pemicu tersering gangguan tersebut sering selama ini dianggap karena alergi susu sapi tetapi justru paling sering adalah infeksi virus atau flu ringan pada bayi yang sering tidak terdeteksi dan diabaikan oleh dokter sekalipun. Bila hal itu penyebabnya maka setelah 5 hari akan membaik. Tetapi akan timbul lagi bila terkena infeksi virus lagi bila di rumah ada yang sakit lagi
  • Bila kolik pada bayi bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya. Saat ibu memberikan ASI maka makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh.
  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengan gangguan  kolik  adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna penghilang rasa sakit dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Bayi
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti alergi cetirizine, anti muntah , anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dalam keadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah.

Challenge Tes (Eliminasi Provokasi Makanan-Open Food Elimination Provocation) : Diagnosis Pasti Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan

Intervensi Diet Sebagai Terapi dan Diagnosis Berbagai Gangguan Alergi Pada Bayi

Referensi

  • Sampson HA, Anderson JA. Summary and recommendations: classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30 :S87 –S94
  • Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. AGA technical review on the evaluation of food allergy in gastrointestinal disorders. Gastroenterology.2001; 120 :1026 –1040.
  • Lake AM, Whitington PF, Hamilton SR. Dietary protein-induced colitis in breast-fed infants. J Pediatr.1982; 101 :906 –910.
  • Machida H, Smith A, Gall D, Trevenen C, Scott RB. Allergic colitis in infancy: clinical and pathologic aspects. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :22 –26
  • Odze RD, Bines J, Leichtner AM, Goldman H, Antonioli DA. Allergic proctocolitis in infants: a prospective clinicopathologic biopsy study. Hum Pathol.1993; 24 :668 –674
  • Wilson NW, Self TW, Hamburger RN. Severe cow’s milk induced colitis in an exclusively breast-fed neonate. Case report and clinical review of cow’s milk allergy. Clin Pediatr (Phila).1990; 29 :77 –80
  • Pumberger W, Pomberger G, Geissler W. Proctocolitis in breast fed infants: a contribution to differential diagnosis of haematochezia in early childhood. Postgrad Med J.2001; 77 :252 –254
  • Anveden HL, Finkel Y, Sandstedt B, Karpe B. Proctocolitis in exclusively breast-fed infants. Eur J Pediatr.1996; 155 :464 –467
  • Pittschieler K. Cow’s milk protein-induced colitis in the breast-fed infant. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1990; 10 :548 –549
  • Vanderhoof JA, Murray ND, Kaufman SS, et al. Intolerance to protein hydrolysate infant formulas: an underrecognized cause of gastrointestinal symptoms in infants. J Pediatr.1997; 131 :741 –744
  • Winter HS, Antonioli DA, Fukagawa N, Marcial M, Goldman H. Allergy-related proctocolitis in infants: diagnostic usefulness of rectal biopsy. Mod Pathol.1990; 3 :5 –10
  • Goldman H, Proujansky R. Allergic proctitis and gastroenteritis in children. Clinical and mucosal biopsy features in 53 cases. Am J Surg Pathol.1986; 10 :75 –86
  • Wyllie R. Cow’s milk protein allergy and hypoallergenic formulas. Clin Pediatr (Phila).1996; 35 :497 –500
  • Kuitunen P, Visakorpi J, Savilahti E, Pelkonen P. Malabsorption syndrome with cow’s milk intolerance: clinical findings and course in 54 cases. Arch Dis Child.1975; 50 :351 –356
  • Iyngkaran N, Yadav M, Boey C, Lam K. Severity and extent of upper small bowel mucosal damage in cow’s milk protein-sensitive enteropathy. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1988; 8 :667 –674
  • Walker-Smith JA. Cow milk-sensitive enteropathy: predisposing factors and treatment. J Pediatr.1992; 121 :S111 –S115
  • Iyngkaran N, Robinson MJ, Prathap K, Sumithran E, Yadav M. Cows’ milk protein-sensitive enteropathy. Combined clinical and histological criteria for diagnosis. Arch Dis Child.1978; 53 :20 –26
  • Yssing M, Jensen H, Jarnum S. Dietary treatment of protein-losing enteropathy. Acta Paediatr Scand.1967; 56 :173 –181
  • Hauer AC, Breese EJ, Walker-Smith JA, MacDonald TT. The frequency of cells secreting interferon-gamma and interleukin-4,–5, and -10 in the blood and duodenal mucosa of children with cow’s milk hypersensitivity. Pediatr Res.1997; 42 :629 –638
  • Kokkonen J, Haapalahti M, Laurila K, Karttunen TJ, Maki M. Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age. J Pediatr.2001; 139 :797 –803
  • Powell GK. Milk- and soy-induced enterocolitis of infancy. J Pediatr.1978; 93 :553 –560
  • Powell G. Food protein-induced enterocolitis of infancy: differential diagnosis and management. Compr Ther.1986; 12 :28 –37
  • Sicherer SH, Eigenmann PA, Sampson HA. Clinical features of food protein-induced enterocolitis syndrome. J Pediatr.1998; 133 :214 –219
  • Vandenplas Y, Edelman R, Sacre L. Chicken-induced anaphylactoid reaction and colitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :240 –241
  • Nowak-Wegrzyn A, Sampson HA, Wood RA, Sicherer SH. Food protein-induced enterocolitis syndrome caused by solid food proteins. Pediatrics.2003; 111 :829 –835
  • Murray K, Christie D. Dietary protein intolerance in infants with transient methemoglobinemia and diarrhea. J Pediatr.1993; 122 :90 –92
  • Powell GK. Enterocolitis in low-birth-weight infants associated with milk and soy protein intolerance. J Pediatr.1976; 88 :840 –844
  • Gryboski J. Gastrointestinal milk allergy in infancy. Pediatrics.1967; 40 :354 –362
  • Lake AM. Food protein-induced colitis and gastroenteropathy in infants and children. In: Metcalfe DD, Sampson HA, Simon RA, eds. Food Allergy: Adverse Reactions to Foods and Food Additives. Boston, MA: Blackwell Scientific Publications; 1997:277–286
  • Halpin TC, Byrne WJ, Ament ME. Colitis, persistent diarrhea, and soy protein intolerance. J Pediatr.1977; 91 :404 –407
  • Jenkins H, Pincott J, Soothill J, Milla P, Harries J. Food allergy: the major cause of infantile colitis. Arch Dis Child.1984; 59 :326 –329
  • Benlounes N, Candalh C, Matarazzo P, Dupont C, Heyman M. The time-course of milk antigen-induced TNF-alpha secretion differs according to the clinical symptoms in children with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol.1999; 104 :863 –869
  • Osterlund P, Jarvinen KM, Laine S, Suomalainen H. Defective tumor necrosis factor-alpha production in infants with cow’s milk allergy. Pediatr Allergy Immunol.1999; 10 :186 –190
  • Chung HL, Hwang JB, Park JJ, Kim SG. Expression of transforming growth factor beta1, transforming growth factor type I and II receptors, and TNF-alpha in the mucosa of the small intestine in infants with food protein-induced enterocolitis syndrome. J Allergy Clin Immunol.2002; 109 :150 –154
  • Busse P, Sampson HA, Sicherer SH. Non-resolution of infantile food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES). J Allergy Clin Immunol.2000; 105 :S129 (abstr)
Supported by

www.allergycliniconline.com

ALLERGY ONLINE CLINIC FOR CHILDREN, TEEN AND ADULT Yudhasmara Foundation www.allergycliniconline.com GROW UP CLINIC I JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021) 5703646 – 44466102 GROW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 97730777 http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic Working together support to health of all by clinical practice, research and educations. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: ***Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen *** Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Curriculum Vitae Widodo Judarwanto

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Allergy Clinic Online Facebook Page

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved
About these ads

10 thoughts on “Malam Rewel, Kolik dan Alergi Pada Bayi

  1. Artikel yg sangat bagus. Dr tulisan diatas ada beberapa gejala yg jg sy jumpai pd bayi saya. Bayi sy kembar lahir pd usia kehamilan 32 minggu. Sy sempat memberikan asi selama 1 bln. Lalu dibantu pakai sufor krn memang asi sy tdk byk. Dsa ny memberikan sufor pregistimil. Sy tdk tau jenis susu apa itu, krn dsa nya bilang itu susu khusus utk bayi prematur. Lalu setelah iberi itu anak sy disuruh minum pre nan. Selama minum itu sy blm melihat tanda2 alergi dr anak sy. Awalnya bab ny tdk lancar dan keras, Lalu timbul jamur disekitar lidah dan mulut. D kasih obat anti jamur lalu hilang. 3 minggu belakangan ini sering muncul lendir di sekitar mulut, nafas grok grok, ngulet yg sering sambil ngeden walupun tdk sedang BAB. Setelah di rontgen disekitar paru ada lendir dsa menyarankan inhalasi. Setelah 3 gari inhalasi lendir berkurang, lalu muncul lg setelah inhalasi d stop. Dsa sarankan ganti sufor dgn yg jenis ha. Awalnya kita pakai nan ha, dr rasa sepertinya tak masalah oleh bayi sy. Lendir berkurang, grok2 berkurang, tapi bab nya jadi lebih sering 1hari bisa 5x. Krn saya pikir ga cocok kita kasih lagi s26 gold dan ternyata lendir muncul lg, grok grok muncul. Lalu diganti ig dgn enfa ha. Dan hasilnya sama dgn seperti dia minum nan ha. Kami sdh gonta ganti dsa. Kami tidak tau hrs bagaimana lagi. Apakah gejala ini krn alergi atau bagaimana usia bayi kembar saya 56 hari dan beratnya skrg masing2 2700gr. Dimana bb mereka waktu lahir adalah 1400gr dan 1600gr. Saya mohon bantuannya, kira2 apalagi yg hrs sy lakukan agar semua gejala ini hilang dan anak sy bisa normal lg. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

  2. anak saya baru berumur 3 minggu,sekarang sering rewel di siang hari dan malam hari..kenapa bisa kaya gitu?apa mungkin anak saya positif holik?bagaimana cara mengatasinya?thx.

  3. Sedikit byk, gejala dan tanda2 yg disebutkan dlm artikel ini sesuai dgn yg dialami anak saya.kira2 apa penanganan trbaik yg spesisfik yg bs kami lakukan?krn memang sangat mengganggu dan membuat panik

  4. saya ibu dari bayi yang saat ini berusia 2 bln.dy saat ini menderita 2 jenis hernia sekaligus.yaitu umbilikalis&inguinalis(lipatan paha),yg saat ini sudah berada dibuah zakar sebelah kanan.
    dan yg membuat kami smakin panik&iba yaitu munculnya hampir semua gejala alergi hipersensitifitas saluran cerna.dulu pertama kali lahir bidan memberikan sufor SGM PRESINUTRI 1,bayi saya mau.lalu sy smpat menggantinya dg LACTOGEN 1,tp dy tdk mau.lalu sy beralih ke FRISIAN FLAG 1,dy tetap tdk mau.akhirx sy putuskan utk ASI EKSLUSIF.
    bayi sy jg srg skali muntah,jadi sy kwtr akn trjadi malnutrisi.krn pd BB yg sulit naik.
    lahir dg BB 2,800 gr dg pnjang 50cm&skrg BB 4,500gr dg panjang 55cm.
    sementara tmn2 seusianya sdh mencapai 6,000gr.
    namun saat ini frekuensi muntahx sdh brkurang.
    tp sdh hmpir 1 bln bayi mengalami batuk.DSA blg bkn batuk yg brarti.tp sgt mengganggu bg kami.bayi dibei MERCOTINE DROPS & kami berikan seperlux.minum ASI srg,tp BB sulit naik&srg muncul bruntusan/kemerahan di pipi.di sekitar anus ada bintik2

  5. bayi sangat aktif,sering berkeringat,BAB sering,kentut bersuara keras&sering,lidah terdapat putih,jam tidur berkurang,terutama saat malam hari(trjadi beberapa hari ini),haus palsu&smua yang trdapat dalam artikel itu dialami oleh bayi saya.
    utk anus yang sepertinya iritasi saya berikan MYCOZID,untuk wajahnya HYDROCORTISONE 1 %.
    jika bayi saya bayi ASI,makanan apa sajakah yang harus saya konsumsi&hindari.karena gizi bayi ASI didapat dr ASI yg mengkonsumsi makanan bergizi.ikan laut sangat bnyk mngandung gizi yg dibutuhkan otak bayi,sdgkan sering sekali seafood menjadi pencetus alergi.
    mohon saran&perhatiannya untuk kami&bayi kami,agar tumbuh kembangnya normal seperti bayi2 sehat lainnya.
    terima kasih..

  6. Anaka saya umur 2 bulan 3 minggu.. Saya juga menemui bberapa gejala seperti yg ditulis di artikel di atas, seperti suka cegukan, kaki π tangan sangat aktif, suka ngeden walau ga bab, suara grok grok klo tdur dan 2 minggu yg lalu muncul bintik2 merah di skitar bibir π jidat (stelah dikasi salep elox mometasone 0,1% alhamdulillah berkurang π hilang).. Setelah konsul ke dsa dikatakan baby saya alergi karena saya minum susu, makan telor, ikan laut π sejenisnya.. Setelah saya ga makan makanan tersebut bintik2 merah di muka baby saya memang berangsur hilang yg juga dibarengi dg pemberian salep elox π oral drop Falergi. Apakah dngan gejala2 yg dialami baby saya tsb baby saya positif terkena saluran cerna, mohon penjelasannya dan mohon sarannya apa yang sebaiknya saya lakukan . Terima kasih

  7. anak saya berumur 2 bln,udah hmpir i minggu dia pilek dan batuk,dia jg mengalami hal spt pd artikel di atas??apakah berbahaya?dan bgmna solusinya
    terima kasih

  8. artikel dokter sangat membantu saya…
    mau curhat ni dok, bolehkan…
    saya seorang guru suwasta yang hanya bisa berobat di dokter spesialis anak di RS Pemerintah dengan antrian yang sangat banyak, giliran antrian tiba dokter hanya memeriksa dengan cepat tidak mengindahkan omongan kami yang ingin menceritakan tentang kondisi anak saya lebih banyak lagi, al hasil selang 3 hari belum ada perubahan yang berarti pada anak saya… tapi okelah hal tersebut tidak menjadi soal (maklum pasien banyak).
    curhat kedua mengenai kondisi anak saya…(maaf curhatnya banyak)
    anak saya saat ini berusia 13 bulan, sudah hampir 3 minggu ini anak saya sering bangun tengah malam, nungging, nangis menjerit pokoknya hampir mirip seperti yang tertulis diartikel. Saya sudah mencoba membaca artikel ini 2 kali tapi belum bisa menyimpulkan tindakan yang harus dilakukan untuk anak saya….
    padahal pada siang hari anak saya terlihat sehat, walaupun terkadang sering merengeng dan menjerit, padahal sebelum itu anak saya sering dipuji karena tidak sering nangis/rewel.
    mohon di balas dok….. trimaksih

  9. kenapa bayi saya sejak umur 1minggu sampai sekarang 3minggu sering mengulet atau mengeden sampai mukanya merah…
    tlong sangat atas informasi nya.agar saya tidak bingung….
    terimakasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s