Imunologi dasar : Imunologi Vaksin

Vaksin yang ideal adalah relatif mudah untuk menentukan target sasaran, tetapi beberapa vaksin mempunyai pendekatan yang ideal dan tidak ada vaksin yang mempunyai target banyak organisme. Vaksin adalah strategi satunya pelindung realistis di masa mendatang. Banyak kesulitan dan kegagalan untuk memproduksi vaksin. Semua mikro-organisme menyebarkan mekanisme penghindaran yang mengganggu respon imun yang efektif dan banyak organisme tidak jelas respon imun yang memberikan perlindungan yang efektif. Namun, kemajuan terbaru dalam teknologi imunologi untuk mempelajari respon kekebalan terhadap patogen telah memberikan pemahaman yang lebih baik mekanisme kekebalan tubuh, termasuk memori imunologi, dan menyebabkan realisasi bahwa inisiasi respon imun adalah suatu peristiwa kunci yang memerlukan memicu melalui sinyal ‘bahaya’. Berdasarkan temuan ini, pengembangan adjuvant baru, formulasi vaksin vektor dan memungkinkan stimulasi kekebalan protektif optimal dan berkepanjangan harus mengarah pada pengenalan vaksin untuk organisme yang sebelumnya resisten.

  • Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak akan terjadi penyakit.
  • Terdapat dua macam kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu, atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan imunoglobulin. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu paruh IgG adalah 28 hari, sedangkan waktu paruh imunoglobulin lainnya lebih  pendek.
  • Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah. Kekebalan aktif biasanya berlangsung lebih lama karena adanya memori imunologik.
  • Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu di dunia seperti pada imunisasi cacar. Keadaan yang terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis-jenis penyakit yang transmisinya bergantung kepada manusia, seperti misalnya penyakit difteria. Agar dapat lebih mudah memahami mengenai proses imunologik yang terjadi pada vaksinasi maka terlebih dahulu perlu diketahui tentang respons imun dan mekanisme pertahanan tubuh (lihat juga bab tentang respons imun).

RESPONS IMUN

Dilihat dari berapa kali pajanan antigen maka dapat dikenal dua macam respons imun, yaitu respons imun primer dan respons imun sekunder.

  • Respons imun primer Respons imun primer adalah respons imun yang terjadi pada pajanan pertama kalinya dengan antigen. Antibodi yang terbentuk pada respons imun primer kebanyakan adalah IgM dengan titer yang lebih rendah dibanding dengan respons imun sekunder, demikian pula daya afinitasnya. Waktu antara antigen masuk sampai dengan timbul antibodi (lag phase) lebih lama bila dibanding dengan respons imun sekunder
  • Respons imun sekunder Pada respons imun sekunder, antibodi yang dibentuk kebanyakan adalah IgG, dengan titer dan afinitas yang lebih tinggi, serta fase lag lebih pendek dibanding respons imun primer. Hal ini disebabkan sel memori yang terbentuk pada respons imun primer akan cepat mengalami transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi. Demikian pula dengan imunitas selular, sel limfosit T akan lebih cepat mengalami transformasi blast dan berdiferensiasi menjadi sel T aktif sehingga lebih banyak terbentuk sel efektor dan sel memori.  Pada imunisasi, respons imun sekunder inilah yang diharapkan akan memberi respons adekuat bila terpajan pada antigen yang serupa kelak. Untuk mendapatkan titer antibodi yang cukup tinggi dan mencapai nilai protektif, sifat respons imun sekunder ini diterapkan dengan memberikan vaksinasi berulang beberapa kali.

KEBERHASILAN IMUNISASI

  • Keberhasilan imunisasi tergantung pada beberapa faktor, yaitu status imun host, faktor genetik host, serta kualitas dan kuantitas vaksin.
  • Adanya antibodi spesifik pada host terhadap vaksin yang diberikan akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Misalnya pada bayi yang semasa fetus mendapat antibodi maternal spesifik terhadap virus campak, bila vaksinasi campak diberikan pada saat kadar antibodi spesifik campak masih tinggi akan memberikan hasil yang kurang memuaskan.  Demikian pula air susu ibu (ASI) yang mengandung IgA sekretori (sIgA) terhadap virus polio dapat mempengaruhi keberhasilan vaksinasi polio yang dlberikan secara oral. Tetapi umumnya kadar sIgA terhadap virus polio pada ASI sudah rendah pada waktu bayi berumur beberapa bulan. Pada penelitian di subbagian Alergi-Imunologi, Bagian IKA FKUI/RSCM, Jakarta ternyata sIgA polio sudah tidak ditemukan lagi pada ASI setelah bayi berumur 5 bulan. Kadar sIgA tinggi terdapat pada kolostrum. Karena itu bila vaksinasi polio secara oral diberikan pada masa kadar sIgA polio ASI masih tinggi, hendaknya ASI jangan diberikan dahulu 2 jam sebelum dan sesudah vaksinasi.\
  • Keberhasilan vaksinasi memerlukan maturitas imunologik. Pada bayi neonatus fungsi makrofag masih kurang, terutama fungsi mempresentasikan antigen karena ekspresi HLA masih kurang pada permukaannya, selain deformabilitas membran serta respons kemotaktik yang masih kurang. Kadar komplemen dan aktivitas opsonin komplemen masih rendah, demikian pula aktivitas kemotaktik serta daya lisisnya. Fungsi sel Ts relatif lebih menonjol dibanding pada bayi atau anak karena memang fungsi imun pada masa intrauterin lebih ditekankan pada toleransi, dan hal ini masih terlihat pada bayi baru lahir. Pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang. Vaksinasi pada neonatus akan memberikan hasil yang kurang dibanding pada anak, karena itu vaksinasi sebaiknya ditunda sampai bayi berumur 2 bulan atau lebih.
  • Status imun mempengaruhi pula hasil imunisasi. Individu yang mendapat obat imunosupresan, atau menderita defisiensi imun kongenital, atau menderita penyakit yang menimbulkan defisiensi imun sekunder seperti pada penyakit keganasan, juga akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi, bahkan adanya defisiensi imun merupakan indikasi kontra pemberian vaksin hidup karena dapat menimbulkan penyakit pada individu tersebut. Vaksinasi pada individu yang menderita penyakit infeksi sistemik seperti campak atau tuberkulosis milier akan mempengaruhi pula keberhasilan vaksinasi.
  • Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan fungsi sel sistem imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas selular menurun dan imunitas humoral spesifisitasnya rendah. Meskipun kadar globulin-γ normal atau bahkan meninggi, imunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibodi. Kadar komplemen juga berkurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya respons terhadap vaksin atau toksoid berkurang.

Faktor genetik host

  • Interaksi antara sel-sel sistem imun dipengaruhi oleh variabilitas genetik. Secara genetik respons imun manusia dapat dibagi atas responder baik, cukup, dan rendah terhadap antigen tertentu.
  • Ia dapat memberikan respons rendah terhadap antigen tertentu, tetapi terhadap antigen lain tinggi sehingga mungkin ditemukan keberhasilan vaksinasi yang tidak 100%. Faktor genetik dalam respons imun dapat berperan melalui gen yang berada pada kompleks MHC dengan non MHC.

Gen kompleks MHC

  • Gen kompleks MHC berperan dalam presentasi antigen. Sel Tc akan mengenal antigen yang berasosiasi dengan molekul MHC kelas I, dan sel Td serta sel Th akan mengenal antigen yang berasosiasi dengan molekul MHC kelas II.
  • Jadi respons sel T diawasi secara genetik sehingga dapat dimengerti bahwa akan terdapat potensi variasi respons imun. Secara klinis terlihat juga bahwa penyakit tertentu terdapat lebih sering pada HLA tertentu, seperti spondilitis ankilosing terdapat pada individu dengan HLA-B27.

Gen non MHC

  • Secara klinis kita melihat adanya defisiensi imun yang berkaitan dengan gen tertentu, misalnya agamaglobulinemia tipe Bruton yang terangkai dengan kromosom X yang hanya terdapat pada anak laki-laki.
  • Demikian pula penyakit alergi yaitu penyakit yang menunjukkan perbedaan respons imun terhadap antigen tertentu merupakan penyakit yang diturunkan. Faktor-faktor ini menyokong adanya peran genetik dalam respons imun, namun mekanisme yang sebenarnya belum diketahui.

Kualitas dan kuantitas vaksin

Vaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa sehingga patogenisitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung antigenesitasnya. Beberapa faktor kualitas dan kuantitas vaksin dapat menentukan keberhasilan vaksinasinya seperti cara pemberian, dosis, frekuensi pemberian, ajuvan yang dipergunakan, dan jenis vaksin.

Cara pemberian vaksin

  • Cara pemberian vaksin akan mempengaruhi respons imun yang timbul. Misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal di samping sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja.

Dosis vaksin

  • Dosis vaksin terlalu tinggi atau terlalu rendah juga mempengaruhi respons imun yang terjadi. Dosis yang terlalu tinggi akan menghambat respons imun yang diharapkan, sedangkan dosis terlalu rendah tidak merangsang sel imunokompeten. Dosis yang tepat dapat diketahui dari hasil uji coba, karena itu dosis vaksin harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan.

Frekuensi pemberian

  • Frekuensi pemberian juga mempengaruhi respons imun yang terjadi. Sebagaimana telah kita ketahui, respons imun sekunder menyebabkan sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, dan afinitasnya lebih tinggi. Di samping frekuensi, jarak pemberian pun akan mempengaruhi respons imun yang terjadi. Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibodi spesifik tersebut sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten, bahkan dapat terjadi apa yang dinamakan reaksi Arthus yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan antigen akibat pembentukan kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi peradangan lokal. Oleh sebab itu, pemberian ulang (booster) sebaiknya mengikuti apa yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji coba.

Ajuvan

  • Ajuvan adalah zat yang secara nonspesifik dapat meningkatkan respons imun terhadap antigen. Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan cara mempertahankan antigen pada tempat suntikan, dan mengaktivasi sel APC untuk memproses antigen secara efektif dan memproduksi interleukin yang akan mengaktifkan sel imunokompeten lainnya.

Jenis vaksin

  • Vaksin hidup akan menimbulkan respons imun lebih baik dibandingkan vaksin lainnya seperti vaksin mati atau yang diinaktivasi (killed atau inactivated), atau komponen dari mikroorganisme. Rangsangan sel Tc memori membutuhkan suatu sel yang terinfeksi sehingga dibutuhkan vaksin hidup. Sel Tc dibutuhkan pada infeksi virus yang pengeluarannya melalui budding.

Vaksin hidup diperoleh dengan cara atenuasi. Tujuan atenuasi adalah untuk menghasilkan organisme yang hanya dapat menimbulkan penyakit yang sangat ringan. Atenuasi diperoleh dengan cara memodifikasi kondisi tempat tumbuh mikroorganisme, misalnya suhu yang tinggi atau rendah, kondisi anaerob, atau menambah empedu pada media kultur seperti pada pembuatan vaksin TBC yang sudah ditanam selama 13 tahun. Dapat pula dipakai mikroorganisme yang virulen untuk spesies lain tetapi untuk manusia avirulen, misalnya virus cacar sapi.

PERSYARATAN VAKSIN

  1. mengaktivasi APC untuk mempresentasikan antigen dan memproduksi interleukin,
  2. mengaktivasi sel T dan sel B untuk membentuk banyak sel  memori,
  3. mengaktivasi sel T dan sel Tc terhadap beberapa epitop, untuk mengatasi variasi respons imun yang ada dalam populasi karena adanya polimorfisme MHC, dan
  4. memberi antigen yang persisten, mungkin dalam sel folikular dendrit jaringan limfoid tempat sel B memori direkrut sehingga dapat merangsang sel B sewaktu-waktu untuk menjadi sel plasma yang membentuk antibodi terus-menerus sehingga kadarnya tetap tinggi.  

REFERENCES RECOMMENDED

  • Doherty PC, Topham DJ, Tripp R. Establishment and persistence of virus-specific CD4+ and CD8+ T cell memory. Immunol Rev 1996; 150: 23–44
  • Altman JD, Moss PAH, Goulder PJR et al. Phenotypic analysis of antigen-specific T lymphocytes. Science 1996; 274: 94–6
  • Callan MFC, Tan L, Annels N et al. Direct visualization of antigen-specific CD8+ T cells during the primary immune response to Epstein-Barr virus in vivo. J Exp Med 1998; 187: 1395–402
  • Champagne P, Ogg GS, King AS et al. Skewed maturation of memory HIV-specific CD8 T lymphocytes. Nature 2001; 410: 106–11
  • Mosmann TR, Coffman RL. Th1 and Th2 cells: different patterns of lymphokine secretion lead to different functional properties. Annu Rev Immunol 1989; 7: 145–73
  • Mosmann TR, Sad S. The expanding universe of T-cell subsets: Th1, Th2 and more. Immunol Today 1996; 17: 138–46
  • Romagnani S. The Th1/Th2 paradigm. Immunol Today 1997; 18: 263–6
  • Romagnani S. Lymphokine production by human T cells in disease states. Annu Rev Immunol 1994; 12: 227–58
  • Launios P, Conceicao-Silva F, Himmerlich H, Parra-Lopez C, Tacchini-Cottier F, Louis JA. Setting in motion the immune mechanisms underlying genetically determined resistance and susceptibility to infection with Leishmania major. Parasite Immunol 1998; 20: 223–30
  • Alcami A, Koszinowski U. Viral mechanisms of immune evasion. Immunol Today 2000; 21: 420–5
  • Gewurz BE, Gaudet R, Tortorella D, Wang EW, Ploegh H. Virus subversion of immunity: a structural perspective. Curr Opin Immunol 2001; 13: 442–50
  • Webby RJ, Webster RG. Emergence of influenza A viruses. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci 2001; 29: 1817–28
  • Phillips RE, Rowland-Jones SL, Nixon DF et al. Human immunodeficiency virus genetic variation that can escape cytotoxic T cell recognition. Nature 1991; 354: 453–9
  • Borrow P, Lewicki H, Wei X et al. Antiviral pressure exerted by HIV-1-specific cytotoxic T lymphocytes (CTLs) during primary infection demonstrated by rapid selection of CTL escape virus. Nat Med 1997; 3: 212–7
  • Rook GA, Ristori G, Salvetti M, Giovannoni G, Thompson EJ, Stanford JL. Bacterial vaccines for the treatment of multiple sclerosis and other autoimmune disorders. Immunol Today 2000; 21: 503–8
  • Rook G. Clean living increases more than just atopic disease. Immunol Today 2000; 21: 249–50
  • Kaul R, Rowland-Jones SL, Kimani J, et al. New insights into HIV-1 specific cytotoxic T-lymphocyte responses in exposed, persistently seronegative Kenyan sex workers. Immunol Lett 2001; 79: 3–13
  • McMichael AJ, Rowland-Jones SL. Cellular immune responses to HIV. Nature 2001; 410: 980–7
  • Sparwasser T, Koch E-S, Vabulas RM et al. Bacterial DNA and immunostimulatory CpG oligonucleotides trigger maturation and activation of murine dendritic cells. Eur J Immunol 1998; 28: 2045–54
  • Wolff JA, Malone RW, Williams P et al. Direct gene transfer into mouse muscle in vivo. Science 1990; 247: 1465–8
  • Boyle JS, Barr IG, Lew AM. Strategies for improving responses to DNA vaccines. Mol Med 1999; 5: 1–8
  • Sallusto F, Lenig D, Forster R, Lipp M, Lanzavecchia A. Two subsets of memory T lymphocytes with distinct homing potentials and effector functions. Nature 1999; 401: 708–12
  • Hislop AD, Gudgeon NH, Callan MF et al. EBV-specific CD8+ T cell memory: relationships between epitope specificity, cell phenotype and immediate effector function. J Immunol 2001; 167: 2019–29
  • Zinkernagel RM. Immunology taught by viruses. Science 1996; 271: 173–8
  • Medzhitov R, Janeway CA. Innate immunity: impact on the adaptive immune response. Curr Opin Immunol 1997; 9: 4–10
  • Matzinger P. An innate sense of danger. Semin Immunol 1998; 10: 399–415
  • Greenberg S, Grinstein S. Phagocytosis and innate immunity. Curr Opin Immunol
  • Peiser L, Mukhopadhyay S, Gordon S. Scavenger receptors in innate immunity. Curr Opin Immunol 2002; 14: 123–6
  • Li Z, Menoret A, Srivastava P. Roles of heat shock proteins in antigen presentation and cross presentation. Curr Opin Immunol 2002; 14: 45–51
  • Sims JE. IL-1 and IL-18 receptors, and their extended family. Curr Opin Immunol 2002; 14: 117–22
  • Underhill DM, Ozinsky A. Toll-like receptors: key mediators of microbe detection. Curr
  • Inaba K, Young JW, Steinman RM. Direct activation of CD8+ cytotoxic T lymphocytesSallusto F, Cella M, Danieli C, Lanzavecchia A. Dendritic cells use macropinocytosis and the mannose receptor to concentrate macromolecules in the major histocompatiblity complex class II compartment: downregulation by cytokines and bacterial products. J Exp Med 1995; 182: 389–400
  • Lennon-Dumenil A-M, Bakker AH, Wolf-Bryant P, Ploegh H, Lagaudriere-Gesbert C. A closer look at proteolysis and MHC-class-II-restricted antigen presentation. Curr Opin Immunol 2002; 14: 15–21
  • Koopmann J-K, Hammerling GJ, Momburg F. Generation, intracellular transport and loading of peptides associated with MHC class I molecules. Curr Opin Immunol 1997; 9: 80–8
  • Cella M, Sallusto F, Lanzavecchia A. Origin, maturation and antigen presenting function of dendritic cells. Curr Opin Immunol 1997; 9: 10–6
  • Banchereau J, Steinman RM. Dendritic cells and the control of immunity. Nature 1998; 392: 245–52
  • Luster AD. The role of chemokines in linking innate and adaptive immunity. Curr Opin Immunol 2002; 14: 129–35
  • Lu P, Wang YL, Linsley PS. Regulation of self-tolerance by CD80/CD86 interactions. Curr Opin Immunol 1997; 9: 858–62
  • Malmstrom V, Shipton D, Singh B et al. CD134L expression on dendritic cells in the mesenteric lymph nodes drives colitis in T cell-restored SCID mice. J Immunol 2001; 166: 6972–81
  • Tan JT, Whitmire JK, Ahmed R, Pearson TC, Larsen CP. 4-1BB ligand, a member of the TNF family, is important for the generation of antiviral CD8 T cell responses. J Immunol 1999; 163: 4859–68
  • Kelleher M, Beverley PCL. LPS modulation of DCs is insufficient to mature DC to generate CTLs from naive polyclonal CD8+ T cells in vitro, whereas CD40 ligation is essential. J Immunol 2001; 167: 6247–55
  • Brewer JM, Conacher M, Satoskar A, Bluethmann H, Alexander J. In interleukin-4 deficient mice, alum not only generates T helper-1 responses equivalent to Freund’s complete adjuvant, but continues to induce T helper-2 cytokine production. Eur J Immunol 1996; 26: 2062–6
  • Whelan M, Harnett MM, Houston KM, Patel V, Harnett W, Rigley KP. A filarial nematode-secreted product signals dendritic cells to acquire a phenotype that drives development of Th2 cells. J Immunol 2000; 164: 6453–60
  • Gupta RK. Aluminum compounds as vaccine adjuvants. Adv Drug Deliv Rev 1998; 32: 155–72
  • Gupta RK, Singh M, O’Hagan DT. Poly(lactide-co-glycolide) microparticles for the development of single-dose controlled-release vaccines. Adv Drug Deliv Rev 1998; 32: 225–46
  • Le Bon A, Schiavoni G, D’Agostino G, Gresser I, Belardelli F, Tough DF. Type I interferons potently enhance humoral immunity and can promote isotype switching by stimulating dendritic cells in vivo. Immunity 2001; 14: 461–70
  • Beverley PCL, Maini MK. Differences in the regulation of CD4 and CD8 T-cell clones during immune responses. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci 2000; 355: 401–6
  • Sanders ME, Makgoba MW, Sharrow SO et al. Human memory T lymphocytes express increased levels of three cell adhesion molecules (LFA-3, CD2, and LFA-1) and three other molecules (UCHL1, CDw29, and Pgp-1) and have enhanced IFN-gamma production. J Immunol 1988; 140: 1401–7
  • Picker LJ, Terstappen LW, Rott LS, Streeter PR, Stein H, Butcher EC. Differential expression of homing-associated adhesion molecules by T cell subsets in man. J Immunol 1990; 145: 3247–55
  • Picker LJ, Treer JR, Ferguson-Darnell B, Collins PA, Bergstresser PR, Terstappen LWMM. Control of lymphocyte recirculation in man. II. Differential regulation of the cutaneous lymphocyte-associated antigen, a tissue-selective homing receptor for skin-homing T cells. J Immunol 1993; 150: 1122–36
  • Picker LJ, Treer JR, Ferguson-Darnell B, Collins PA, Buck D, Terstappen LWMM. Control of lymphocyte recirculation in man. I. Differential regulation of the peripheral lymph node homing receptor L-selectin on T cells during the virgin to memory cell transition. J Immunol 1993; 150: 1105–21
  • MacLennan I, Garcia de Vinuesa C, Casamayor-Palleja M. B-cell memory and the persistence of antibody responses. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci 2000; 355: 345–60
  • Michie CA, McLean A, Alcock C, Beverley PCL. Lifespan of human lymphocyte subsets defined by CD45 isoforms. Nature 1992; 360: 264–5
  • Neese RA, Siler SQ, Cesar D et al. Advances in the stable isotope-mass spectrometric measurement of DNA synthesis and cell proliferation. Anal Biochem 2001; 298: 189–95
  • Murali-Krishna K, Lau LL, Sambhara S, Lemmier F, Altmann J, Ahmed R. Persistence of memory CD8 T cells in MHC class I-deficient mice. Science 1999; 286: 1267–8
  • Swain SL. CD4 T-cell memory can persist in the absence of class II. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci 2000; 29: 407–11
  • Pawelec G, Rehbein A, Haehnel K, Merl A, Adibzadeh M. Human T cell clones in long term culture as a model of immunosenescence. Immunol Rev 1997; 160: 31–42
  • Maini MK, Gudgeon N, Wedderburn LR, Rickinson AB, Beverley PCL. Clonal expansions in acute EBV infection are detectable in the CD8 and not the CD4 subset and persist with a variable CD45 phenotype. J Immunol 2000; 165: 5729–37
  • Uzonna JE, Bretscher PA. Anti-IL-4 antibody therapy causes regression of chronic lesions caused by medium-dose Leishmania major infection in BALB/c mice. Eur J Immunol 2001; 31: 3175–84
  • Hondowicz B, Scott P. Influence of parasite load on the ability of type 1 T cells to control Leishmania major infection. Infect Immun 2002; 70: 498–503
  • Uzonna JE, Wei G, Yurkowski D, Bretscher P. Immune elimination of Leishmania major in mice: implications for immune memory, vaccination, and reactivation disease. J Immunol 2001; 167: 6967–74
  • Kalinski P, Hilkens CMU, Wierenga EA, Kapsenberg ML. T-cell priming by type-1 and type-2 polarized dendritic cells: the concept of a third signal. Immunol Today 1999; 20: 561–7
  • Manetti R, Gerosa F, Giudizi MG et al. Interleukin-12 induces stable priming for interferon γ (IFN-γ) production during differentiation of human T helper (Th) cells and transient IFN-γ production in established Th2 clones. J Exp Med 1994; 179: 1273–85
  • Bradley LM, Yoshimoto K, Swain SL. The cytokines IL-4, IFN-γ, and IL-12 regulate the development of subsets of memory effector helper T cells in vitro. J Immunol 1995; 155: 1713–24
  • Yoshimoto T, Bendelac A, Watson C, Hu-Li J, Paul WP. Role of NK1.1+ T cells in a Th2 response and in immunoglobulin E production. Science 1995; 270: 1845–7
  • Shirakawa T, Enomoto T, Shimazu S, Hopkins JM. The inverse association between tuberculin responses and atopic disorder. Science 1997; 275: 77–9

OTHER BASIC IMMUNOLOGY

OTHER BASIC IMMUNOLOGY

.

.

.

.

.

 

ARTIKEL TEREKOMENDASI: Kumpulan Artikel Permasalahan Alergi Anak dan Imunologi, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

.

ARTIKEL TEREKOMENDASI:Kumpulan Artikel Alergi Pada Bayi, Dr Widodo Judarwanto Pediatrician

.

ARTIKEL FAVORIT:100 Artikel Alergi dan Imunologi Paling Favorit

Current Allergy Immunology by Widodo Judarwanto

The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.

Provided by

 www.allergyclinic.me

CHILDREN ALLERGY ONLINE CLINIC

Yudhasmara Foundation  www.allergyclinic.me

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto  www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

Curriculum Vitae Widodo Judarwanto

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2013, Children Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s